
..."Bubuk mesiu tidak bekerja bukan? Lalu bagaimana dengan asam kuat?"...
POV: Author
Ares membawa terbang satu persatu karung yang berisi bubuk asam kuat itu. Ya, itu bukanlah asam kuat biasa. Asam itu bisa melelehkan tanah bahkan besi sekalipun. Dengan cepat dan tanpa suara, Ares menempatkan kelima karung itu di lima tempat yang berbeda.
"Nah, kita mulai acaranya!" ucap Ares sambil menyalakan sumbu. Karung itu langsung terbakar, asap yang dihasilkan langsung menuju ke langit. Mendung hitam milik Vani belum sepenuhnya hilang, hal ini membantu proses penurunan hujan agar lebih cepat.
"Sebelum hujannya turun, aku harus segera menemui mereka!" ucap Ares lalu terbang menjauh.
WUSH!
"Mau ... kemana ... kau?" City melemparkan sebuah toko yang cukup besar ke arah Ares. Dengan sigap Ares langsung berputar dan menghindar. Mata emas milik Ares bertatapan dengan mata hitam milik City.
GLUDUK GLURK!
Suara gemuruh mulai terdengar lagi. Ares jadi menyadari bahwa dia tidak akan sempat pergi ke rekan-rekannya.
Aku tidak akan sempat pergi ke mereka. Hujan akan segera turun, bagaimana caranya membuat mereka tau ya?, -batin Ares.
Pikirannya terus tidak fokus selama berhadapan dengan City. Dia takut teman-temannya akan terkena hujan asam ini juga.
[Jangan khawatir.]
[Mereka akan aman! Percayakan saja pada kami!]
[Bertarunglah dengan bebas.]
Ares tersenyum lega setelah mendengar suara itu. Dia mulai menutup matanya lagi, membayangkan minyak.
"Senjata biasa tidak akan cukup untuk mengalahkannya," ucap Ares sambil menutup matanya.
CRING!
Satu tong penuh minyak muncul di samping Ares. Tidak, bukan hanya satu. Ada lebih dari 30 tong.
CTAK!
Ares menjentikkan jarinya, seketika seluruh tong itu tumpah dan akhirnya minyak itu jatuh ke tanah. Api dari pembakaran karung itu masih ada, sehingga langsung menyambar minyak yang jatuh tadi. Dalam hitungan detik, kota yang hancur karena petir. Berubah menjadi lautan api tanpa sisa. Tidak seluruhnya, hanya di daerah Ares saja.
WUSH!
WUSH!
"Kau hobi melempar rumah ya?" ucap Ares sambil menghindari beberapa rumah yang dilemparkan oleh City. Tak berhenti sampai disitu, Ares langsung membuat dua buah shotgun dengan peluru peledak.
Cring! Cring!
Dia terbang dengan cepat sambil memutari City.
DUAR!
Tak ragu dalam setiap tembakannya, Ares mengincar tepat ke arah mata City. Walaupun tentu saja tindakannya ini sia-sia. Kerusakan yang terjadi akibat ledakan, langsung tertutup lagi oleh tanah dan bangunan.
"Jadi dia bukan hanya sekedar raksasa, tapi dia adalah 'Kota Oner' itu sendiri," ucap Ares sambil mendarat di lengan City. Lengannya sangat besar, bahkan lebih besar dari jembatan antar pulau.
Ares menyimpan shotgunnya di belakang punggung, dia berlari maju ke arah wajah City sambil membuat beberapa granat.
Cring cring cring!
DUAR! DUAR! DUAR!
Setiap kali Ares melangkah, dia melemparkan granat ke arah wajah City, raksasa itu terlihat kesal karena dari tadi dilempari oleh bom milik Ares.
WUSH! BUAGH! KRAAK!
Saat City melayangkan tinjunya, Ares terbang dengan cepat dan menjauh. Alhasil, tinju City malah merusak tubuhnya sendiri. Melihat kesempatan dalam hal ini, Ares tak tinggal diam dan langsung menghujani luka besar itu dengan shotgun peledak.
DUAR! DUAR! DUAR!
JDER!
Pertarungan terus berlanjut, ledakan itu terus menyala-nyala menghiasi kota yang gelap dan suram. Kilat di atas langit sudah mulai menyambar-nyambar, artinya hujan asam akan dimulai sebentar lagi.
Hujan akhirnya turun. Ares dengan cepat langsung turun menukik ke bawah. Dia bersembunyi di bawah sebuah basement yang cukup tebal.
GRADAK! DRAK!
"Perkiraanku berhasil!" ucap Ares senang saat melihat bagian tubuh City mulai rontok. Bangunan yang terkena hujan asam ini mulai meleleh, menjadi cair. Tentu saja, bagi City yang bertubuh raksasa, dia akan mendapat kerusakan yang sangat parah.
Fuut.
"Ares!"
Ares menoleh ke arah suara yang memanggilnya, ternyata itu adalah Riot yang membawa Vani dan Ken bersamanya. Ken langsung berlari ke arah Ares lalu memeluknya dengan erat.
"Maaf ... maaf ... apa kau baik-baik saja?!" tanya Ken sambil memegang kedua pipi Ares. Sambil tersenyum lembut, Ares menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kalian bisa tau aku di sini?" tanya Ares pada Riot.
"Aku ke sini setelah disembuhkan oleh Ken! Dan saat tiba-tiba aku tau sesuatu, tidak perlu membayangkan tempat agar aku bisa berteleportasi. Aku hanya harus tau kemana mataku melihat," ucap Riot dengan senyuman. Ares berjalan ke arah Riot kemudian memeluknya.
"Hah? Apa maksudmu? Aku tidak menyembuhkanmu kok? Tadi saat aku di sana, kau tidur dalam keadaan tidak terluka sama sekali," ucap Ken tiba-tiba. Riot yang mendengar hal ini langsung terkejut, dia berpikir bahwa Ken yang sudah menyembuhkannya.
"Apa?! Lalu siapa yang sudah menyembuhkanku?" tanya Riot lagi. Ares yang mendengar pembicaraan mereka berdua, sebenarnya ingin ikut berbicara. Tapi lagi-lagi gempa bumi terjadi.
DRRK!
"Apa lagi ini?! Apa raksasa sialan itu belum mati?!" kesal Ares sambil bersandar pada tembok. Sementara Ken dan Vani berpegangan pada tiang, sedangkan Riot sedang meringkuk di samping Ares.
Gempa ini berlangsung cukup lama. Entah sudah berapa menit yang terlewati, akhirnya Ares dan yang lainnya bisa membuka matanya.
"Raksasa itu ... sudah tiada," ucap Vani saat melihat bongkahan raksasa yang penuh lubang. Itu adalah reaksi dari hujan asam kuat yang diturunkan oleh Ares.
Melihat bangkai raksasa itu, Ares segera terbang dan mendekat ke arahnya. Matanya melihat sesosok anak kecil yang tertimbun bangkai itu.
"Jad wujud asli City adalah anak kecil juga?" gumam Ares sambil mendarat di sampingnya. Ares menyentuh pergelangan tangan anak itu, ternyata dia sudah tiada. Sambil menghela nafas sedih, Ares menutup kedua mata anak itu.
[Kau berhasil!]
[Terimakasih, karena sudah membunuhnya!]
"Apa kalian yang menyembuhkan Riot?" tanya Ares dengan senyum kecil di wajahnya.
[Benar, kami tidak bisa membiarkan anak kesayangan kami mati begitu saja!]
[Tolong jaga Riot ya, kami sudah tidak bisa berada di sini lagi.]
[Sekarang tugasmu tersisa satu lagi.]
Ares mengernyitkan keningnya, bingung dengan apa yang mereka maksud.
"Hah? Apa maksud-," ucap Ares terpotong karena gempa yang tiba-tiba datang lagi.
DRKK!
"APA LAGI INI?!" teriak Ares kesal. Matanya menatap celah yang muncul dari retakan gempa. Gempa ini berbeda dengan gempa yang tadi. Air mulai muncul dan menyembur keluar dalam jumlah yang banyak.
"Jika seperti ini terus ... kota ini akan tenggelam!" ucap Ares lalu terbang ke atas. Karena Ares terbang, dia tidak terpengaruh oleh gempa, dia langsung melesat ke arah rekan-rekannya tadi.
Air yang keluar sudah sampai lutut anak-anak. Ares yakin, dalam hitungan jam, kota ini akan tenggelam nantinya.
[Kalahkan Ron.]
Deg!
Suara itu memudar bersamaan dengan Ron yang terbang sambil menaiki air muncul di hadapannya.
..."Sepertinya kalian cukup bersenang-senang?"...
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!