Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Kekuatan Thea!



"[Miniatur Domination]".


POV: Author


Thea memandang ke langit dengan senyuman yang lebar, cahaya biru yang menyilaukan bersinar terang dari telapak tangannya.


CRINGGG!


DRRKKKK!


Area bagian kota ini mulai berguncang hebat, seperti gempa dengan kekuatan yang luar biasa, puluhan gedung-gedung yang rapuh langsung hancur ke tanah. Riot yang merasakan perasaan tidak enak, langsung memegang tangan Ene serta Eni.


"Kita harus pergi, perasaanku sangat buruk." Riot lalu menutup matanya, bersiap untuk melakukan teleportasi.


TAS!


CRRRTT!


"ACK!" Sebuah kilat tiba-tiba menyamar ke arah Riot tanpa sebab. Karena itu Riot gagal berteleportasi, dia langsung terduduk lemas di atas pohon dengan tubuh yang berguncang karena sengatan listrik.


"Makanlah ini dulu." Ene memberikan kukis kering pada Riot.


Krauk.


Whusssh.


"Astaga, apa-apaan petir tadi?" gumam Riot dengan wajah yang agak panik. Setelah itu, Riot mencoba untuk kembali berteleportasi.


Ptas!


Zzztttt!


"Aa!" Lagi-lagi ada petir yang menghalangi Riot. Meski petirnya tidak sebesar sebelumnya, tapi itu membuat Riot gagal melakukan teleportasi.


"Sepertinya sia-sia jika anda ingin berteleportasi. Selama kita masih berada di area [Miniatur Domination] milik Thea, kekuatan anda tidak akan berguna," ucap Eni sambil melirik ke arah depan. Riot mengikuti jejak mata Eni, tapi saat dia melihat ke depan ... jantungnya serasa berhenti karena terkejut oleh pemandangan apa yang dia lihat.


Deg ... deg ... deg.


"Sebenarnya ... apa-apaan ini?" gumam Riot sambil menatap sekelilingnya. Seluruh area yang dia lihat kini berubah bentuk, ada yang sangat kecil, dan juga ada yang sangat besar. Tapi yang paling membuatnya kaget, adalah Thea yang kini berubah menjadi raksasa.


Tidak ... Thea tidak berubah jadi raksasa.


TAPI KITA YANG MENGECIL!,-batin Riot.


Riot menelan ludahnya dengan rasa takut, mata birunya tak berhenti menatap kaki raksasa yang terpampang di depannya.


WHUNG.


Kaki besar itu terangkat, bahkan sampai angin ikut berhembus mengikuti gerakan kaki Thea. Riot dengan cepat langsung menarik Ene serta Eni menjauhi tempat mereka menonton tadi. Tetapi sebelum pergi, sesaat Riot melihat ke arah Civilian yang berdiri tanpa ragu di depan raksasa Thea.


Apa yang perempuan itu rencanakan?,-batin Riot.


DUAR.


WHUSSSSSSSS!


Ledakan tekanan angin membuat puing-puing kota ini seperti semut yang terkena ledakan balon. Hentakan kaki Thea meratakan hampir sekitar 7 kilometer bangunan yang berada di sekitarnya. Beruntung, Riot, Ene serta Eni berhasil menemukan tempat sembunyi yang tidak terlalu jauh dan aman. Mereka bertiga melihat pertarungan antara Civilian serta Thea itu.


NGUNGGGGGGGG!


DARRRRRRR!


Sebuah angin kencang datang da membuat telinga berdengung keras. Angin itu berkumpul ke arah Civilian lalu meledak tepat di sana. Dari balik debu dan pasir yang bertebaran, Civilian bahkan tidak mendapat satupun debu yang menempel di bajunya.


"Apa?! Dia menahan kaki sebesar itu dengan tekanan angin saja?!" teriak Riot kagum saat melihat Civilian yang berdiri tegak sambil mendongak menatap kaki Thea yang berada di atas tubuh mungilnya.


"Kau! Memuakkan!" Suara Thea membuat gema yang luar biasa di telinga mereka.


WHUSSS!


Mata Riot kini menatap ke arah Civilian lagi, di sekitar Civilian, terbentuk sebuah pusaran angin yang mirip dengan kincir, berputar sangat cepat hingga sulit untuk dilihat.


"Tubuh besar, tidak menjamin kemenangan. Ini seperti gaji besar tidak menjamin kesejahteraan," ucap Civilian sambil mulai mengangkat kedua tangannya ke atas. Perlahan pusaran angin yang seperti kincir itu bergerak naik, hingga menyentuh telapak kaki Thea.


CRASSSSSS!


Ctik.


WHUSSS!


Tidak berhenti sampai di situ, Civilian langsung membuat 4 pusaran angin di sekitar tubuhnya, pusaran itu mengarah ke kaki Thea yang baru saja menjauh.


Ctik.


Civilian menjentikkan jarinya lagi, ke empat pusaran angin itu mulai memanjang dan langsung menerjang ke arah luka di telapak kaki Thea. Seperti lintah yang kelaparan, pusaran angin itu menggerogoti telapak kaki raksasa itu hingga akhirnya Thea terjatuh.


BUM! DUARRRR!


WHUSSS!


Angin berhembus kencang dari arah tubuh Thea yang jatuh. Perempuan raksasa itu merintih pelan sambil menatap kakinya yang berlumuran darah. Melihat Thea yang jatuh tak berdaya, Civilian tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.


"[Tail of winds.]"


WHUSSS!


Angin berhembus kencang sekali lagi, puluhan pusaran angin mulai datang, mereka seperti melilit tubuh raksasa Thea.


DUARR!


Beberapa kali Thea memberontak agar tidak terkena lilitan pusaran angin. Tapi itu sia-sia, semakin Thea memberontak, semakin banyak pusaran angin yang datang untuk menghentikannya.


"Civilian! Kau serius melakukan ini?!" tanya Thea dengan suara yang lantang dan menggema. Gadis berambut coklat sebahu yang kini terbang sambil menaiki angin itu hanya diam, mata datarnya tidak merespon pada apapun yang Thea katakan.


"Apa kau lupa dengan kebaikan yang telah Boni berikan padamu?!" bentak Thea dengan ekspresi penuh kemarahan. Civilian tersenyum lembut, air matanya menetes satu-persatu.


"Tidak akan pernah lupa, tapi ... aku juga sudah menemukan orang yang berharga untukku." Civilian tersenyum tulus, Thea yang sudah lelah memberontak, akhirnya hanya berbaring dan diam.


"Cepat lepaskan kekuatanmu!" ucap Civilian yang terbang mendekati wajah raksasa Thea. Gadis dengan tubuh besar itu mulai menutup matanya, tak lama kemudian sebuah cahaya merah mulai memenuhi area ini. Silau, sangat menyilaukan hingga semuanya terpaksa menutup mata.


NGINGGGG!


DRRKKKKK!


***


POV: Riot


Aku membuka mataku lagi setelah kurasa tidak terlalu silau. Dan saat kulihat sekelilingku, semuanya sudah kembali ke ukuran semula. Thea yang menjadi normal, tapi ... gedung yang runtuh tidak bisa diperbaiki. Akibat pertempuran mereka tadi, area kota yang seluas 7 kilometer persegi kini rata dengan tanah.


"Civilian itu kuat ya ... ayo ke sana," ajakku pada Eni serta Ene. Mereka berdua mengangguk lalu memegang tanganku, setelah itu aku mulai menutup mata.


Fuut.


Aku berteleportasi ke sambil Civilian. Yah, seperti biasa, gadis itu hanya memandangku dengan tatapan datar. Mata coklatnya hanya melirikku sejenak, lalu dia kembali menatap Thea.


"Kau tidur saja di sana, aku akan membereskanmu setelah semua ini selesai." Civilian berbalik setelah mengatakan itu, dia berjalan ke arahku lalu menepuk pundakku.


"Ayo kita cari Ken," ucapnya dengan nada yang serius.


Hah? Ini jadi bagaimana? Dia ada di pihak siapa? Loh? Kok?


Aku akhirnya terdiam dan menatap Civilian dengan bingung. Padahal sejak sebelumnya dia masih berada di pihak Boni, apakah dia benar-benar akan berkhianat hanya karena Ken?


"Apa kau hanya akan diam saja?" tanya Civilian tanpa menoleh ke arahku. Aku berdecak kesal lalu mulai menghampirinya.


"Iya-iya aku baru mau jal-."


JREBB!


"Hah?"


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys! Komen yuk biar aku makin semangat nulisnya:3


oiya, novel ini akan update setiap tanggal genap~