Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Pertengkaran?



"KEN! KAU BAJ*NGAN!"


POV: Vani


Aku benar-benar marah pada Ken sekarang, bisa-bisanya dia memukul seorang perempuan?! Jika Elly tidak berdiri di depanku tadi, pasti aku yang akan kena pukul! Apa dia sudah kehilangan pikirannya?!


"Kau menjijikkan, Vani," ucap Ken dengan nada yang dingin dan tegas. Aku langsung memelototinya, rasanya rahangku mengeras karena menahan amarah.


"Ugh ...," rintihan Elly menyadarkanku dari kendali rasa marah ini. Aku langsung berjongkok dan membantu Elly berdiri sekali lagi. Sekarang ... aku tau kenapa Ares dan Riot tidak bersama Ken. Pasti mereka lebih dulu tau sikap Ken yang berubah.


"Aku menjijikkan? Setidaknya aku tidak jadi kacang yang lupa kulitnya seperti seseorang," sindirku sambil melirik tajam ke arah Ken. Dia terlihat semakin marah padaku, bahkan dia sudah mengepalkan tangannya, bersiap meninjuku.


"KENKI EMORA! APA YANG KAU LAKUKAN?!"


DEG!


Suara Ares yang lantang menghentikan gerakan Ken.


Fuut.


"Sssst, jangan banyak bicara. Pegang tanganku." Riot tiba-tiba sudah ada di sebelahku Elly. Dia langsung memegang tangan kami, dan berteleportasi pergi.


Fuut.


Kami sekarang ada di belakang Ares, bahkan hanya dari punggungnya ... aku bisa tau sebesar apa dia marah sekarang.


"Ini ... pertama kalinya aku melihat Ares sangat kecewa seperti ini. Bahkan saat melawan Ron, Ares tidak membuat ekspresi seperti sekarang," jelas Riot sambil memicingkan matanya tajam ke arah Ken. Atmosfer di jalan ini menjadi sangat berat dan menekan, perang panas antara Ken dan Ares sepertinya akan panjang.


"Apa yang aku lakukan? Sebaiknya kau tanya saja pada Vani, lihat apa yang dia telah perbuat," ucap Ken sambil menunjuk ke arahku. Aku segera berdiri dan berjalan maju ke arah Ken, sekarang aku sudah sangat kecewa dan muak pada Ken.


"Apa yang telah kulakukan katamu? Memangnya kau tau apa yang sudah aku alami sampai aku harus keluar dari rumah sakit? Memangnya apa yang kau tau sampai kau bisa seyakin ini dalam memperlakukan sampai kau hendak memukulku Ken?!" ucapku penuh amarah, bahkan aku bisa merasakan air mataku menetes keluar. Ken terlihat terdiam saat aku berbicara seperti ini.


"Apa yang kau tau tentang aku dan Ares sampai kau berani berkata begitu? Apa kau tau apa yang sedang Ares dan Riot lakukan saat kau sedang tidak ada?" tanyaku dengan nafas yang tidak beraturan.


"Kau juga tau apa tentangku?!" bentak Ken pada Vani.


"Kami tau. Bukankah kau hanya sibuk bersama dengan gadis kecil di sebelahmu itu? Hingga kau melupakan rekanmu dalam satu malam?" tanya Riot yang tiba-tiba ikut bergabung dalam pertengkaran ini. Ares menatap Ken dengan tatapan penuh rasa kecewa serta amarah.


Sedangkan Riot mungkin terlihat lebih tenang, tapi aku yakin dia juga sedang merasakan hal yang Ares rasakan.


Lalu aku? Aku bahkan tidak bisa mendeskripsikan rasa sakit di hatiku dengan mulut. Kenapa Ken berubah jadi begini? Apa yang membuatnya berubah sejauh ini?


"Haaah! Sudahlah! Aku malas bertemu kalian! Pergi saja!" Ken langsung menggandeng gadis itu pergi dari kami, aku menatap Ken tidak percaya, dia bahkan tidak menoleh ke arah kami saat dia pergi.


"Vani, lupakan saja dia. 9 hari dari sekarang, kita akan pergi dari kota ini. Sebelum itu, kau boleh bersenang-senang dulu di sini," ucap Ares sambil mengusap matanya. Mungkin aku memang tidak mendengar isak tangisnya, tapi mata basahnya itu tidak bisa berbohong padaku.


"Apa? Kau akan meninggalkan Ken?! Kenapa kau setega itu?! Kita tetap harus membawanya!" ucapku tak terima dengan keputusan yang Ares buat. Aku bahkan sampai menggoyangkan pundak Ares, tapi dia kelihatannya tidak akan merubah keputusannya itu.


Tep.


Aku menoleh ke arah orang yang menyentuh pundakku.


"Keputusan temanmu itu sudah tepat. Pergilah 9 hari lagi, atau bahkan lebih cepat lebih baik. Semakin lama di kota ini, tidak akan membawa keuntungan bagi kalian," ucap Elly dengan mata pipi yang sedikit membengkak. Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tangan, lalu menyentuh pipinya itu dengan halus.


CRING!


"Minumlah ini, nanti itu akan sembuh," ucap Ares sambil menyodorkan satu botol kecil dengan larutan yang berwarna hijau pekat di dalamnya. Aku segera menerima botol itu dan membukanya, lalu menyodorkannya ke Elly.


"Ini ... aman? Bukan racun, kan?" tanya Elly curiga.


"Itu sianida," ucap Riot dari belakang.


BUGH!


"Ngawur! Bukan! Itu obat kok!" ucap Ares sambil membungkam mulut Riot. Elly mengendus obat itu beberapa kali, barulah meminumnya perlahan.


"Hm, rasa apel ya?" gumam Elly setelah meneguk sampai habis.


CRINGG!


"Hah? Ada apa ini?!" teriak Elly panik saat asa cahaya dan angin yang mengitari tubuhnya. Aku hanya tersenyum kecil sambil berusaha menenangkan Elly, karena memang seperti ini proses pengobatan dari Ares.


Wush.


Anginnya mulai menjadi lebih pelan, dan bengkak di pipi Elly sudah menghilang. Dia langsung menyentuh pipinya beberapa kali, menatap ke arah Ares dengan tidak percaya.


Ares dan Riot hanya tersenyum jahil lalu berjalan pergi meninggalkan kami.


Sambil berjalan pergi, Ares berkata, "Jangan lupa, 9 hari lagi. Kita akan bertemu di taman kota!" Begitulah ucapnya sambil bersenda gurau dengan Riot. Elly mendekat ke arahku, lalu menepuk pundakku pelan.


"Dia ... sangat hebat. Apakah dia kuat?" tanya Elly tiba-tiba. Aku terdiam sejenak, mencoba mengingat kejadian selama ini yang menimpa kami.


"Ya. Dia kuat." Aku menatap punggung Ares yang kian menjauh.


Dia bisa membuat apapun jadi kenyataan. Dia bisa mengalahkan raksasa dengan tubuh kecilnya itu. Dia bisa mengalahkan ratusan mayat hidup hanya dengan dua buah tangan mungilnya. Dia juga bisa mengalahkan bencana alam dengan kekuatannya.


Mungkin kami memang tidak sadar, tapi sejujurnya ... Ares adalah orang yang membuat kami bertahan hingga saat ini.


"Syukurlah. Saat kau sudah tidak bersamaku nanti, aku akan lega karena kau sudah punya teman yang melindungimu," ucap Elly sambil tersenyum cerah. Setelah itu kami saling tertawa dan berjalan pulang ke rumah Elly. Kejadian hari ini, mungkin memang sedikit menyedihkan.


Ken sudah pergi dari tim kami. Itulah yang dianggap oleh Riot dan Ares. Aku yakin mereka tidak akan menerima Ken sampai dia meminta maaf dengan benar. Karena aku juga akan bertindak seperti itu.


Kalau dipikir-pikir, aku juga bodoh. Kenapa aku menghalangi orang yang bahkan tidak mau berada di jalan yang sama denganku? Tak peduli seberapa keras usahaku, jika dia tidak mau, berarti dia tidak akan mau.


Aku menghela nafas pelan, lalu menatap ke arah langit sore berwarna jingga.


9 hari lagi.


Di taman kota.


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


Anw, ga nyangka ya guys! Ini hari terakhir aku update 3 bab! Mulai besok dan seterusnya, akan jadi update normal lagi!