
POV: Ken
10 hari lagi, adalah festival yang aku baru saja baca di ponsel Civilian. Mungkin dia sengaja mengambil hari libur sekarang sebelum semakin sibuk, aku juga tidak bisa membantu pekerjaannya.
"Vil," panggilku pada Civilian. Dia menoleh ke arahku dengan tenang, mata coklatnya yang selalu datar, entah sejak kapan membawa kedamaian bagiku.
"Ada apa?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya. Aku tersenyum simpul lalu mendekatkan diri ke arahnya.
"Maaf karena tadi aku membaca sesuatu tanpa izinmu. Tapi ... aku sangat penasaran dengan festival yang akan kalian adakan," ucapku sambil tersenyum lebar. Civilian langsung menatap ke arah mataku, tentu saja aku kebingungan dengan tingkahnya yang seperti ini. Apa mungkin dia marah karena aku membacanya tanpa izin?
"Jadi kau melihat pesan dari Boni ya? Benar, kami akan mengadakan festival 10 hari lagi. Itu digunakan untuk menyambut datangnya orang-orang penting di dunia ini," ucap Civilian menjelaskan padaku, aku mengangguk paham, tapi aku juga penasaran siapa orang penting yang dia maksud. Apakah masih ada salah satu petinggi negara yang hidup? Tapi tidak mungkin dia bisa bertahan hidup jika hanya mengandalkan status serta jabatan di dunia yang mengutamakan kekuatan.
"Siapa orang penting yang tadi kau maksud?" tanyaku pada Civilian. Sorot matanya sedikit berubah, dari yang awalnya sorot mata datar dan tenang, kini menjadi sedikit sedih dan kecewa.
"Mereka ... adalah orang yang paling kuat di dunia ini," jelas Civilian tanpa menoleh ke arahku. Setelah dia berkata seperti itu, aku tidak bertanya lagi. Sepertinya Civilian juga enggan membahas hal yang sama.
"Um, hei ... apakah kau tidak berminat untuk mengajakku keliling kota?" tanyaku mengalihkan pembicaraan, Civilian tampak berpikir sejenak sambil beberapa kali melirik ke arahku.
"Hmm, boleh juga. Haruskah kita berangkat sekarang?" tanya Civilian dengan ekspresi senang. Aku mengangguk dengan cepat lalu segera berdiri.
"Ayo!".
***
POV: Vani
"Aghhmm! Hoaam!" Aku meregangkan otot tubuhku yang terasa kaku. Entah jam berapa sekarang, tapi rasanya aku sudah tidur sangat lama. Aku segera bangun dan berdiri, lalu berjalan ke arah jendela. Matahari sudah berada di titik tertingginya, berarti sekarang mungkin diantara jam 12 siang.
"Oh? Kau baru bangun?" Suara Elly membuatku menoleh ke arahnya, dia terlihat memakai celemek kebesaran dengan warna biru serta rambut hitamnya yang dikucir kuda. Dan ... sepatu boots?
"Kau akan pergi ke mana?" tanyaku saat melihatnya akan memakai topi, dia melirik ke arahku lalu tertawa kecil. Sambil memakai sarung tangan, dia melirik ke arah sebuah foto yang terbingkai rapi di atas meja.
"Keluargaku adalah keluarga petani, yah walaupun lokasi tanah pertanian kami cukup jauh, tapi dengan kekuatanku sekarang ... aku bisa menjangkaunya dengan mudah. Kenapa? Kau mau ikut?" tanya Elly dengan nada yang ramah. Aku langsung menatapnya dengan tatapan berbinar, ini pertama kalinya seseorang mengajakku bertani! Aku langsung mengangguk dengan cepat berkali-kali sebagai tanda setuju bahwa aku mau ikut.
"Mau mau mau mau!" ucapku penuh semangat. Elly tertawa kecil sambil mengangguk, setelah itu dia melemparkan sepasang sarung tangan berwarna merah tua padaku.
"Pakai itu, dan jangan lupa untuk memakai sepatu boots. Aku masih punya sepatu boots juga ... tapi karena itu milik mendiang ayahku, sepertinya akan sangat kebesaran." Elly tampak berpikir keras.
"Tidak apa-apa! Aku pakai sandalku saja! Aku jamin akan aman!" ucapku semangat. Elly menatapku dengan bingung lalu menggaruk pelipisnya.
"Hmmm, bagaimana kalau kau pakai sepatu bootsku saja? Kupikir aku masih bisa terbang tanpa menyentuh tanah," ucap Elly sambil berusaha melepaskan sepatu bootsnya. Setelah itu dia segera berjalan ke arahku dan menaruh sepatunya di depanku.
Tak lupa, Elly juga memberiku satu topi lagi yang mirip dengan yang dia pakai!
"Itu milik mendiang ibuku, untung saja kelihatan cocok denganmu," ucap Elly sambil tersenyum lebar. Aku menatap ke atas sambil menyentuh ujung tepi topi yang bundar sempurna. Topi ini terbuat dari daun kelapa kering yang dibentuk dengan pola-pola rumit yang tidak aku pahami.
"Nah, ayo kita berangkat! Mungkin kita akan pulang sore nanti!" ucap Elly sambil menggandeng tanganku, setelah itu dia menyeretku keluar rumah dengan semangat. Setelah kami mengunci rumah, dia langsung membawaku terbang sekali lagi.
Hmm ... sepertinya aku kelupaan sesuatu.
Tapi apa ya?
***
"Tadi kau minta rasa apa?" tanyaku sambil berusaha mengambil buah rasberi yang tergantung cukup tinggi. Aku melompat terbang dan mulai memetik buah itu.
"Aku ingin anggur," ucap Riot yang berteriak dari bawah pohon. Aku langsung menatap Riot dengan tatapan marah.
"Di sini tidak ada anggur! Dimana kita bisa menemukan anggur?! Cari buah yang ada saja!" ucapku geram lada Riot. Dia terlihat kesal sampai menggembungkan pipinya, tapi akhirnya dia memikirkan buah lain.
"Bagaimana dengan buah persik? tanya Riot dengan ekspresi cemberut. Aku tertawa kecil saat melihatnya yang menggerutu seperti ini.
"Baiklah! Persik, kan? Ayo kita cari!" Aku segera turun dari pohon dan mulai berjalan pergi. Riot mengikutiku dari belakang dan ikut mencari buah persik.
"Kira-kira di sebelah mana ya? Aku waktu itu menemukannya kok! Tapi dimana?" Aku bergumam sendiri sambil terus melihat ke kanan dan kiri. Sedangkan Riot malah mondar-mandir kesana kemari mencari pohon buah persik.
BUAGH!
"RIOT?!" Aku terkejut saat mendengar suara keras dari arah belakang. Spontan aku menoleh dengan cepat, dan melihat bahwa Riot terjatuh sambil menyentuh dahinya.
Jangan bilang ... dia baru saja menabrak pohon itu?
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku sambil berlari ke arahnya, Riot menggelengkan kepalanya lalu tersenyum cerah. Walaupun dahinya masih merah bahkan ada ... sedikit benjolan. Tapi sepertinya dia tidak terluka parah.
"Dasar, lain kali hati-hati dong! Nanti Ken bisa-," ucapku terpotong, karena aku teringat tentang Ken.
Aku juga tidak tau kapan Ken akan kembali.
Aku menghela nafas pelan, lalu menutup mataku.
Sudahlah, lebih baik aku saja yang mengobati Riot.
Cring!
Aku membuat sebuah ramuan penyembuh, yang sama seperti saat itu Dave minum. Khasiatnya tidak jauh berbeda dari kekuatan Ken, walaupun ini mengkonsumsi chastku dengan sangat boros.
"Minum," ucapku sambil memberikan satu botol kecil ramuan berwarna hijau. Riot mengangguk dan langsung meminum ramuan itu.
Wush.
Ada angin yang berputar di tubuh Riot, perlahan-lahan menyembuhkan luka di dahi Riot. Riot sendiri manatap takjub pada dahinya yang sudah sembuh secara ajaib itu.
"WOAH?! AKU BARU TAU KAU PUNYA KEMAMPUAN SEKEREN INI?!" teriak Riot bersemangat sambil menatapku. Aku menghembuskan nafas dengan sombong sambil menutup mata.
"Tentu saja~ aku kan memang hebat!" ucapku setengah bercanda.
PLETAK!
"ADUH?!"
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!