Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Penguasa Kota Ansorteri!



...Penguasa Kota Ansorteri?...


POV: Ares


Gadis kecil di depanku ini memberikan senyuman yang cerah, tatapan matanya tidak terlihat ragu sedikitpun. Ken berkali-kali membisikkan sesuatu agar aku menolak tawarannya.


"Itu akan jadi kehormatan untuk kami, tapi sayangnya ... kami harus mencari rekan kami yang pergi lebih dulu, mungkin kita akan singgah nanti," tolakku dengan nada yang sesopan mungkin. Boni menganggukkan kepalanya, lalu melihat sekeliling. Seperti sedang memeriksa sesuatu, tatapan matanya melekat ke arah semak-semak di gelapnya hutan ini.


"Kalian yakin mau pergi sendiri? Mereka masih belum pergi ternyata," ucap Boni sambil melirik ke arah semak-semak tadi. Saat aku dan Ken mengikuti arah matanya, ternyata gerombolan anjing tadi masih bersembunyi di sana.


"Kami bisa pergi sendiri," ucapku dengan yakin. Aku segera merangkul Ken dan menggendongnya di punggungku. Setelah itu aku segera terbang ke atas dan pergi ke arah Utara.


Penguasa Kota Ansorteri ya? Itu bukan julukan yang ringan, demi bisa mendapat kata penguasa ... setidaknya dia harus sekuat atau bahkan lebih dari Dave. Pasti ada sebuah kekuatan besar hingga dia diakui sebagai penguasa.


"Syukurlah, kukira kau akan menerimanya." Suara Ken memecahkan lamunanku, aku segera sadar lalu mulai terbang ke arah bawah. Dengan perlahan, aku menurunkan Ken saat kakiku telah menapak di tanah.


"Mana mungkin aku menerimanya, kita harus menemukan Riot dan Vani lebih dulu, baru kita pergi ke sana," ucapku tanpa menatap Ken. Aku lalu melihat ke sekeliling, mencari tanda-tanda keberadaan Vani dan Riot.


Greb!


Saat aku masih sibuk mencari, tiba-tiba Ken mencengkram bahuku dengan kuat.


"Kau ada pikiran untuk menerimanya? Apa kau yakin dia bukan orang jahat?!" tanya Ken dengan penekanan di setiap kata-katanya. Aku menatap Ken yakin, sambil menggenggam tangannya yang mencengkram bahuku.


"Bukan masalah aku percaya dia baik atau tidak. Tapi Vani butuh dokter Ken, kemampuanmu tidak bisa menyembuhkannya. Kita tidak punya pilihan selain pergi ke kota itu," ucapku dengan nada yang lemas, Ken menggerakkan giginya kesal. Aku yakin dia yang paling tau seberapa parah kondisi Vani. Karena dia adalah anak yang setiap pagi memberi Vani pengobatan hingga rasa sakit perempuan itu menipis.


"Kau ... benar ... tapi bagaimana jika-," ucapak Ken terpotong, karena aku membungkamnya dengan tanganku. Mataku menatap ke arah mata hitamnya.


"Aku akan melindungi kalian," ucapku yakin. Aku melepaskan tanganku dari mulut Ken secara perlahan. Meskipun tidak bisa menghilangkan kecurigaannya, setidaknya itu bisa mengurangi rasa khawatirnya.


Dan memang benar, jika kota itu benar-benar kota yang 'damai', maka harusnya di sana masih ada dokter yang tersisa.


"Ares? Ken? Kalian baik-baik saja?".


Suara Riot terdengar tiba-tiba, kami serentak menoleh ke asal suara itu. Tak lama kemudian Riot muncul dengan Vani, ternyata mereka bersembunyi di atas pohon.


"Ya, kami baik-baik saja." Aku tersenyum sambil menatap Riot. Tapi wajah Riot langsung fokus ke arah baju Ken yang sedikit robek. Tapi sepertinya Ken sudah menyembuhkan lukanya yang kena gigit tadi.


Riot segera berteleportasi dengan Vani, lalu mereka muncul di hadapan kami.


"Kita akan ke Kota Ansorteri. Di sana kita akan mencari dokter yang tersisa," ucapku yakin. Untungnya Riot hanya mengiyakanku, sekarang aku menatap ke arah Vani yang hanya diam dengan senyum terpaksa itu.


Pasti rasanya masih sangat sakit.


"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang." Aku berbalik dan mulai berjongkok. Membayangkan dua buah motor kecil yang bisa kami naiki.


CRING!


"Kita akan naik motor saja, di lingkungan hutan ini ... mobil lebih susah bergerak," ucapku sambil menatap ke arah pepohonan yang lebat. Riot dan Ken menganggukkan kepalanya.


BRRM!


Tak lama setelah kami melalui hutan gelap di malam ini. Kami akhirnya sampai di Kota Ansorteri. Pemandangan takjub tak henti-hentinya kami tunjukkan.


"Ini ... hampir mirip dengan kehidupan normal kita," ucap Riot dengan mata yang berkaca-kaca. Kota ini memiliki wujud yang indah. Layaknya kota besar pada umumnya, di sini sangat bersih. Beberapa orang ada yang sudah menggunakan kendaraan.


Kami mulai turun dari motor dan mulai berjalan masuk ke kota ini. Jalanan untuk keluar masuk kota sudah rusak, seperti sengaja diisolasi. Mungkin ini adalah bentuk penjagaan agar tidak ada yang merusak keadaan kota.


Saat kami sudah memasuki keramaian, seluruh manusia kecil itu langsung terdiam. Mereka menatap kami dengan tatapan yang aneh, bingung, dan takut.


Tak lama kemudian, segerombol boneka besar langsung mengerubungi kami, mereka seolah memberi batas pada kami agar tidak mendekat ke manusia lainnya.


"Apa-apaan ini?" tanya Riot dengan nada yang menahan amarah.


"Penguasa kota ini adalah pengendali boneka, kita harus sabar dulu ... aku yakin dia akan mengenali kita," ucapku sambil mencoba menenangkan Riot. Tak lama kemudian, ada sebuah boneka kecil dengan bentuk kelinci yang datang. Mata merah dari boneka itu menyala, seolah bisa melihat kami.


WUSHH!


Angin bertiup kencang, membuat seluruh debu dan daun yang tergeletak berterbangan. Saat aku melihat ke atas, ada Boni yang datang sambil menaiki boneka burungnya.


"Wah, tak kusangka kalian benar-benar ke sini!" Boni mulai turun dari boneka burungnya, Riot langsung bersikap waspada dan melindungi Vani.


"Apakah mereka berdua adalah rekan kalian yang hilang tadi?" tanya Boni sambil menatap Riot. Aku menganggukkan kepala, sedangkan Ken masih menatap Boni dengan tatapan malasnya.


"Syukurlah! Nah ... bagaimana kalau kalian ikut aku dulu?" tanya Boni sambil membuat jalan dengan boneka beruang besarnya. Beberapa puluh boneka beruang itu langsung membuka jalan untuk kami, membelah keramaian dengan mudah.


Dia benar-benar penguasa kota ini. Melihat bagaimana orang lain hanya tunduk dan hormat padanya, eksistensinya yang terasa berwibawa dan kuat.


"Kita akan kemana?" tanya Ken dengan malas. Boni hanya melirik dan tersenyum saat menatap Ken.


"Kita akan ke rumahku," jawab Boni dengan ramah.


"Tunggu!" Riot berucap tiba-tiba, sontak kami berhenti berjalan dan menatap Riot.


"Bisakah kau beritahu kami dimana letak rumah sakit lebih dulu?" tanyaku sebelum Riot bertanya. Boni mengernyitkan keningnya, matanya menatap kami dengan heran.


"Apakah kalian ada yang terluka? Tadi kulihat kalian bertarung cukup baik kok?" heran Boni sambil melihatku dan Ken. Spontan aku menggelengkan kepalaku, lalu melirik ke arah Vani.


"Bukan kami, tapi dia," ucapku sambil menunjuk Vani. Boni hanya diam saat menatap Vani, senyumnya yang tidak luntur itu terasa sedikit mengerikan.


"Baiklah, aku akan membawanya ke rumah sakit," ucap Boni cepat.


CTIK!


Boni menjentikkan jarinya, langsung ada dua boneka yang datang dengan tandu. Mereka berjongkok agar Vani bisa berbaring di sana.


..."Nah sisanya, tolong ikut aku dulu."...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!