
POV: Riot
Deg.
Deg.
Deg.
Nyut!
Ack! Kepalaku! Ini sangat berat!
Aku bahkan tidak bisa membuka mata?!
"Uhm, aw!"
Tunggu- ini suara ... ku?! Kenapa mirip seperti anak kecil?!
Perlahan-lahan aku membuka mataku, sinar matahari segera menyambut dan masuk secara paksa ke dalam inderaku. Aku mulai menopang tubuhku untuk duduk, baik itu kepala maupun anggota tubuh lainnya, rasanya sangat sakit dan berat.
"Ha? Ini tanganku? Kenapa sangat kecil?" gumamku pelan. Aku segera ingat bahwa sekolahku ditimpa oleh roket yang sangat besar. Dengan cepat aku berdiri lalu menatap ke area sekolah dari retakan pagar.
"Mustahil ... sudah ... rata dengan tanah?" ucapku sambil gemetar.
Rasanya baru kemarin aku sangat senang bisa masuk sekolah ini. Kenapa sekarang jadi seperti ini?
Oh! Ayah dan ibuku!
Aku dengan cepat berlari pulang, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang, mereka semua terdiam seolah tidak bertuan. Nafasku mulai tersengal-sengal, jarak dari sekolah ke rumah sangat jauh. Aku tidak kuat berlari sampai ke rumah.
Andai saja, aku bisa berpindah dengan cepat! Aku harus memastikan keadaan Ibu dan Ayahku!
Fuut!
Dalam sekejap mata, aku sudah berada di depan rumah. Aku yang tadi berlari hingga tersengal-sengal, sekarang malah kebingungan sambil menepuk pipiku beberapa kali.
Deg!
Sebuah suara tiba-tiba masuk ke otakku.
["Halo.
Selamat bagi yang kalian yang bertahan hidup. Kalian adalah orang terpilih! Inilah era baru manusia! Kalian punya kekuatan super dalam diri kalian! Kalian sekarang kembali ke wujud 12 tahun. Mengenai kekuatan kalian, itu berbeda-beda.
Bahkan kalian bisa menggunakannya sesuka hati! Sekarang lihatlah punggung tangan kanan kalian masing-masing.
Aku menatap sesuai instruksinya. Begitu kagetnya aku saat melihat tato berbentuk hati di sana.
Itu namanya 'chast' batas penggunaan kekuatan. Kalian bisa menggunakannya sesuka hati, tapi jangan sampai tato kalian itu penuh.
Jika tidak, kalian akan mendapat penalti yang disebut 'infik'.
Oh! Dan jangan khawatir, tato kalian akan kosong lagi di ke esokan harinya, jadi batasnya adalah 24 jam. Lebih tepatnya tepat pada jam 12 malam.
Semoga kalian tetap hidup!"]
Nyut!
"ARGHH!" Suara itu menghilang. Meninggalkan rasa sakit yang seperti menancap di kepala. Aku terduduk berlutut, mataku sedikit berkunang-kunang.
"Ibu ... aku harus memastikan kondisinya!" ucapku sambil mencoba berdiri. Aku berjalan tertatih-tatih sambil memegangi kepalaku. Saat sampai di depan pintu, tangan kananku segera membukanya.
Creak!
"Ibu!" Aku begitu senang saat melihat ibuku masih di sana. Dia berdiri dengan wujud yang hampir mirip denganku. Kembali ke umur 12 tahun! Aku segera berlari dan memeluknya, air mataku menetes tak terbendung.
"Huee! Aku sangat takut! Untung saja Ibu tidak apa-apa!" ucapku sambil memeluknya erat. Ibuku membalas pelukanku, matanya menatapku dengan tulus dan hangat.
"Oh iya! Bagaimana dengan Ayah?!" ucapku dengan panik, aku segera menggenggam tangan ibuku, menutup mataku, membayangkan ke tempat ayahku bekerja.
Fuut!
"Ternyata benar kemampuanku teleportasi!" ucapku senang. Ibuku yang masih bingung, tiba-tiba menutup mulutnya sambil berlari ke pinggir bangunan.
"Huek! Aduh! Kepalaku sangat sakit! Dan kenapa sekarang aku merasa mual!" ucap ibuku. Aku segera mendatanginya dan memijat tengkuknya.
"Sudah ... Ibu tidak apa-apa. Cepat kita cari Ayahmu!" ucap ibuku sambil membersihkan bekas di mulutnya. Aku mengangguk lalu segera masuk ke kantor tempat ayahku bekerja.
Deg!
A-apa ini?! Kenapa banyak sekali mayat di sini?! Tadi aku memang tidak memperhatikan jalanan, ternyata hanya orang yang kembali ke umur 12 tahun saja yang hidup.
Semoga Ayah masih hidup!
"Ayah! Dimana kau?!" teriakku sambil menyusuri lantai satu. Tapi aku tidak menemukannya di manapun. Aku segera berlari lagi, menaiki tangga menelusuri setiap lantai.
Lantai 2 tidak ada.
Lantai 3 tidak ada.
Dimana dia?!
"Riot!"
Deg!
"Ayah?!" Aku segera berhenti setelah mendengar suara ayahku. Dia sedang berdiri di belakangku dengan seragam kebesaran di tubuhnya.
Sebenarnya aku juga sama sih, bedanya aku pakai seragam anak SMA. Kalau kuingat-ingat tadi, ibuku juga memakai gaun yang kebesaran.
"Kau mencari Ayah sampai ke kantor?" tanya ayahku. Aku mengangguk dengan semangat. Aku segera menggenggam tangannya lalu menutup mataku. Seingatku tadi ibu ada di depan kantor.
Fuut!
"Nah! Itu ibu!" ucapku senang setelah berteleportasi, kemampuan ini sangat bermanfaat. Aku melirik ayahku yang ekspresinya terlihat buruk, padahal tadi baik-baik saja.
"Ada apa Yah?" tanyaku dengan nada khawatir. Beliau menggelengkan kepalanya lalu berlari ke pinggir taman di sebelah kantor.
"Huek! Rasanya sangat pusing dan mual," ucapnya sambil berjongkok.
Apakah semual itu? Tapi aku tidak merasa mual kok? Apa karena aku pemilik kemampuan ini ya?
Aku segera berlari ke ayahku dan mulai memijat tengkuknya seperti yang kulakukan pada ibuku. Ekspresinya terlihat lebih baik setelah beberapa kali muntah lagi.
"Oh tunggu! Kalian dapat kemampuan apa?!" tanyaku antusias. Ibuku menggelengkan kepalanya, sepertinya dia belum tahu. Tapi ayahku menatapku sambil tersenyum lebar. Sepertinya beliau mendapat kekuatan yang cukup keren?
"Aku bisa mengangkat mobil dengan satu tanganku!" Ayahku pamer kekuatan sambil mengangkat sebuah mobil.
Hmm, kalau daritadi kulihat-lihat, sepertinya penguatan tubuh adalah kekuatan paling umum di sini. Aku sudah melihat banyak yang punya kekuatan seperti Ayah.
"Yah sudahlah, setidaknya itu bukanlah kekuatan yang tidak berguna!" ucapku sambil menghela nafas. Aku segera menggandeng tangan ibu dan ayahku, mengajak mereka pulang ke rumah.
Apapun yang terjadi, asal ada mereka ... kupikir aku mampu melewati ini semua.
"Bagaimana caranya menggunakan kekuatan ya?" tanya ibuku sambil murung. Aku mengangkat bahuku tanda tidak mengerti, sejujurnya aku tadi juga tiba-tiba bisa menggunakannya. Karena aku ingin segera sampai ke tempat mereka.
"Nanti juga Ibu akan tau sendiri! Tidak usah diambil pusing!" ucapku sambil tersenyum. Dari sudut mataku, aku melihat beberapa anak yang mulai melakukan penyerangan. Mereka menuju ke arah kami dengan cepat.
"Ayah! Ibu! Maaf ya! Kalau mual ya muntah saja!" ucapku lalu menutup mata, tanganku menggenggam kedua tangan mereka.
Fuut!
Aku berteleportasi ke rumah. Sambil berjalan masuk ke kamar, mataku melihat ayah dan ibuku yang sudah tidak terlihat mual.
Sepertinya hanya berlaku untuk pengalaman pertama ya?
Aku menghela nafas lega, rasanya hari ini sangat aneh. Ada perasaan mengganjal di hatiku, fakta bahwa aku sudah tidak perlu bangun pagi untuk sekolah. Sudah tidak perlu mengerjakan PR setiap malam.
Tapi meskipun begitu, aku merasa damai di dunia yang kacau ini. Walaupun setiap malam juga ada yang menyerang rumah ini, tapi ayahku dengan cepat menghabisi mereka. Memang beliau adalah yang terbaik!
Aku begitu mencintai kehidupan damaiku ini.
Hingga seorang anak gila yang menawari kami menjadi objek penelitian.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!