
..."Jadi, kita akan menginap di sini malam ini!"....
POV: Ares
Aku menatap ke arah toko yang cukup besar di depanku, gelap, dan pengap. Kami segera mengambil tas kami yang berada di dalam gerobak lalu hendak membawanya masuk ke dalam toko.
BRAK! BRAK!
"Apa pintunya tidak bisa dibuka?" tanyaku saat melihat Riot yang kesusahan untuk membuka pintu dari kaca itu. Dia beberapa kali mendorongnya, tapi pintu itu tak bergeming sama sekali.
"Aku akan menggunakan teleportasi dan membukanya dari dalam," ucap Riot. Saat dia hendak menutup matanya, aku ganti yang maju dan melihat pintu kaca itu.
Dreeek!
"Ini pintunya digeser, bukan didorong," ucapku sambil melihat tanda geser di lantai. Riot langsung melongo, Ken dan Vani menepuk pundak Riot bersamaan.
"Lain kali otaknya dipakai ya," ucap Ken dengan nada yang halus. Tapi perkataan itu berhasil menusuk hingga ke ulu hati Riot. Akhirnya Riot berjalan masuk dengan ekspresi yang lemas dan lunglai.
Setelah mereka semua masuk, barulah aku menutup pintu dan ikut masuk bersama mereka. Toko ini sangat gelap, tapi udaranya terasa hangat. Mungkin karena ventilasi di toko ini sangat sedikit, sehingga suhu di dalamnya lebih terjaga.
"Ares, senter ... atau lilin saja tidak apa-apa," ucap Ken sambil menengadahkan tangan kanannya di depanku.
CRING!
Aku segera membuat sebuah senter dan memberikannya pada Ken.
Ctek!
Pats!
Akhirnya mata kami bisa melihat dengan jelas. Karena kami memakai alas kaki, jadi kami tidak sadar bahwa lantai di sini ternyata juga sangat kotor. Untung saja kami belum berbaring. Ken masih berjalan lurus dan melihat-lihat toko ini terlebih dahulu. Sedangkan aku langsung membuat sebuah karpet yang cukup luas agar cukup digunakan untuk alas tidur kami berempat.
CRING!
"Van! Sini!" panggilku padanya. Mata lelahnya segera melihatku di dalam kegelapan. Dengan gerakan yang lemas, dia berjalan ke arahku.
Aku segera menggelar karpet itu dan menata barang bawaan kami di sampingnya. Ada juga yang dijadikan bantal oleh Vani.
Bruk!
Ssszzt.
"Dia langsung tidur pulas ya?" tanya Riot saat melihat Vani yang tertidur nyenyak. Aku hanya mengangguk dan segera duduk di sampingnya, tak lama kemudian cahaya senter dari Ken mengenai kami. Artinya Ken sudah kembali.
"Bagaimana?" tanyaku.
"Ini ruangan tertutup, hanya bisa masuk dari depan," jelas Ken sambil menatap pintu kaca yang kami lalui tadi.
Ctek.
Ken segera mematikan senternya dan ikut berbaring di sampingku. Sementara Riot berbaring di samping Vani. Riot dan Vani sudah tertidur lelap, menyisakan aku dan Ken yang masih membuka mata.
"Apa ada yang kau pikirkan?" tanyaku memecah keheningan. Ken tampak sibuk memikirkan sesuatu, sorot matanya menyiratkan ekspresi sedih dan marah.
"Di pertarungan terakhir ... aku benar-benar menjadi beban," ucap Ken dengan suara yang ditahan. Seperti menahan amarah dari dalam dirinya sendiri.
"Itu bukan salahmu, tidak ada manusia yang benar-benar sempurna bukan?" ucapku sambil melirik ke arah Ken. Begitu terkejutnya aku saat melihat ekspresi kecewanya. Entah hal seperti apa yang telah dia alami, tapi dia terlihat sangat tertekan dengan kondisi sekarang.
Aku harus mengubah topiknya.
"Jadi, apa saja yang tadi kau temukan?" tanyaku dengan cepat. Mendengar pertanyaanku, ekspresi Ken mulai menjadi lebih lembut.
"Tidak ada banyak hal, seperti minimarket pada umumnya," ucapnya singkat. Aku mengernyitkan keningku, menatap Ken dengan tatapan heran.
Anak yang takut hantu hingga dia demam berhari-hari. Bahkan berani mengecek minimarket ini sendirian? Aku yakin dia pasti berbohong.
"Apa benar?" tanyaku lagi untuk memastikan.
Sruk!
Aku segera bangun dan mulai mengambil senter. Sambil memakai alas kakiku yang hanya berupa sandal. Aku menyalakan senter lalu mulai menyusuri minimarket ini.
Glup.
Aku menelan ludahku dengan takut dan gusar, suasana di sini cukup menyeramkan. Tapi ... sepanjang aku melihat, memang benar seperti apa yang dikatakan oleh Ken. Ini benar-benar hanya minimarket biasa.
Srak.
Tanpa sengaja, kakiku menginjak lembaran kertas yang lecek. Aku segera mengarahkan senterku ke bawah, dan melihat kertas itu.
Maaf, harusnya aku membakarnya lebih cepat.
Singkat dan jelas, tapi aku tidak paham apa maksudnya. Aku menyimpan kertas itu di tanganku lalu lanjut berjalan. Sambil terus mengarahkan senternya ke kanan dan kiri, mataku tidak berhenti mengamati.
DEG!
Jantungku serasa mau copot saat melihat boneka beruang berwarna ungu yang cukup besar. Tapi setengah dari boneka itu sudah terbakar, hanya menyisakan bagian kanannya saja.
Sial jantungku! Rasanya sudah bergeser ke kanan deh! Atau bahkan jatuh ke perut, apa-apaan sih boneka ini?!
Aku mendekat ke arah boneka besar itu. Serius, bahkan ukuran boneka ini saja dua kali lipat tinggi badanku. Mungkin setara dengan tinggi orang dewasa. Tanganku mengelus bulu yang gosong di tubuh boneka itu.
Srak.
Hingga aku menemukan satu kertas lagi.
Sekarang sudah aman, tapi setelah ini berhati-hatilah. Selanjutnya akan semakin banyak.
Aku semakin tidak paham dengan apa yang kertas itu maksud. Sepertinya kertas ini ditinggalkan oleh pemilik minimarket yang sebelumnya. Aku segera menyimpan kertas itu juga lalu berjalan kembali untuk tidur.
Terbakar? Tunggu ... bukankah surat sebelumnya bilang untuk membakar sesuatu? Tapi apa?
Dan kenapa ada boneka yang setengahnya sudah hangus? Ada apa ini? Misteri macam apa ini?!
Otakku sudah mengantuk, jadi tidak bisa berpikir. Lebih baik aku tidur saja dulu.
Sesampainya di tempat rekanku, aku segera berbaring ke posisi asalku. Tapi tetap saja aku tidak bisa tidur, mataku masih tetap terbuka tak peduli seberapa mengantuknya aku.
Karena aku punya firasat buruk jika aku tertidur sekarang.
Hampir 6 jam aku terjaga, mungkin sekarang sudah tengah malam.
Srak.
Mataku melirik dengan cepat ke asal suara. Ternyata itu adalah Riot yang terbangun. Matanya masih mengantuk, tapi dia sadar bahwa aku memperhatikannya.
"Loh, kau tidak tidur?" tanyanya dengan nada kaget. Aku tersenyum simpul lalu menggelengkan kepalaku.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Kalau aku ikut tidur, tidak ada yang akan berjaga. Bagaimana kalau ada yang mencurigakan?" tanyaku dengan nada candaan. Meskipun sebenarnya aku sudah menemukan apa yang mencurigakan. Tapi jika aku memberitau Riot sekarang, sepertinya dia akan ikut shock dan tidak bisa tidur.
"Benarkah? Kalau begitu sekarang kau yang tidur, aku yang akan berjaga," ucap Riot sambil tersenyum lebar.
"Apa kau yakin?" tanyaku memastikan. Menunggu sendirian tanpa teman mengobrol, dan berada di tempat gelap tanpa cahaya ini. Tentu saja sangat menakutkan.
"Iya, kau tidur saja, Ares." Riot menjawab dengan senyuman. Aku akhirnya mengalah.
..."Baiklah, aku tidur dulu. Kalau ada apa-apa segera beritahu aku ya?"....
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!