Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Pertolongan Safa!



POV: Ken


Aku menatap raksasa yang terbuat dari gumpalan kapas itu dengan tatapan penuh amarah. Rasa bingung serta takut memenuhi relung pikiranku. Berkali-kali aku melirik ke arah chastku yang sudah hampir mencapai batas, jika aku menggunakan kekuatan seperti tadi, jangankan 10 menit, 1 detik saja aku tidak yakin chast ini akan cukup.


Bagai ... mana ini? Apa yang harus kulakukan?


Aku terduduk perlahan, sambil mendongak ke arah boneka itu. Aku sudah sangat putus asa karena tidak bisa menemukan jawabannya.


"[Hmm? Apa ... kau menyerah?]" tanya boneka itu dengan nada yang merendahkan.


Saat aku hendak menundukkan kepala, tiba-tiba ada sebuah suara yang mengagetkanku.


DUARR!


Aku langsung tersentak, sebuah ledakan air dari bawah tanah, menyembur sangat deras hingga membuat hujan buatan.


Apa? Bukankah harusnya pipa bawah tanah sudah berhenti bekerja? Kenapa aliran airnya masih sederas ini?


"Bumi itu kuat, alam itu kuat. Jangan pernah meremehkan mereka, bukankah begitu? Boneka rongsokan."


Ini ... suara siapa?


Aku menoleh ke arah belakang, pada saat itu ... pandangan mataku terpaku pada sesosok gadis kecil berambut pirang pendek dan mata kuning. Kedua mata yang secerah matahari itu terlihat tegas, sosok yang entah kenapa terasa mirip dengan seseorang.


"Ng? Kau ... Ken bukan?" tanya gadis itu sambil tersenyum ke arahku.


"Terimakasih sudah bertahan hingga saat ini, aku yang akan mengambil alih. Dan ... jangan khawatir, karena aku pasti menyelamatkan temanku." Seekor burung elang langsung hinggap di bahu anak kecil itu, meskipun bahunya terlihat sedikit kesakitan, tapi gadis kecil itu tetap tegar.


Seperti orang yang telah terbiasa dengan rasa sakit.


Ah ... tunggu, jangan-jangan ... dia ... adalah Safa?


"Majulah."


SRAK!


Elang itu langsung terbang lagi dan menerjang lurus ke arah boneka yang terdiri dari gumpalan kapas itu. Tanpa rasa ragu, elang itu berkali-kali mencabik kapasnya, tapi itu tetap saja sia-sia.


Melihat hal itu, Safa tidak tinggal diam. Dia ikut berlari maju, tangan kanannya disimpan di punggung, dan memberikan sebuah kode.


Tunggu, kode itu untukku?


...


TAPI AKU TIDAK PAHAM DIA INGIN MENYAMPAIKAN APA?!


Aku masih berdiri linglung, menatap jari Safa yang terlihat menari-nari di punggungnya.


"Grrr!"


WHUNG! WHUNG! WHUNG!


Singa?!


Aku langsung terduduk lemas saat 3 ekor singa jantan melompat di atas kepalaku. Hewan buas yang memiliki surai indah itu langsung menerjang ke arah gumpalan kapas, mereka mencabik-cabik kaki kapas yang lembut itu hingga tak berbentuk.


"Ken! Apa kau bisa naik kuda?!" tanya Safa tiba-tiba dari kejauhan. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat, jangankan naik kuda, aku saja tidak bisa naik motor, kalau naik mobil sih bisa.


"Bagus! Setelah ini bawa Elly pergi dengan kuda yang akan kupanggil!" ucap Safa lagi.


"APA?!" teriakku shock. Ternyata Safa ini tipe yang sama keras kepalanya seperti Ares. Pantas saja aku tidak asing dengan kepribadiannya!


Aku masih duduk bersila sambil melihat cara bertempur Safa. Sebuah cara bertempur yang unik tanpa mengotori tangannya sendiri, tapi ...


Aku yakin dia merasakan banyak beban dari cara bertempurnya itu. Perasaan bersalah, tanggung jawab atas kematian hewan-hewan. Pundak yang terasa semakin berat setiap kali dirinya melangkah.


FWIIIIUUUIIIT!


Safa mulai bersiul dengan keras, tak lama kemudian, suara derap langkah yang cepat terdengar begitu dekat. Aku menolehkan kepalaku ke samping kanan, ternyata memang benar-benar ada seekor kuda yang datang.


SRAK!


"DAPAT! KEN! BAWA ELLY PERGI!"


Aku langsung mengalihkan fokusku ke asal suara Safa.


Tapi ...


"WOY KENAPA ELLY DIGOTONG SAMA GIGI SINGA?! ITU ANAK ORANG LOH!" teriakku panik saat melihat Elly yang digotong dengan digigit baju belakangnya, seperti induk kucing yang sedang memindahkan anaknya.


Pluk.


Singa itu meletakkan Elly yang dalam keadaan pingsan di depan Ken, lalu langsung berlari lagi ke arah Safa.


Lah anak singa! ... Tapi dia memang singa, kalau kusebut babi tidak cocok. Aish sudahlah!


"Bertahanlah, Safa!" ucapku lalu menaikkan Elly ke atas kuda, barulah aku mencoba naik ke atas kuda coklat itu. Setelah aku naik, aku mendudukkan Elly dengan posisinya bersandar di dadaku, sebisa mungkin tanganku mulai memegang otot kuda yang keras ini.


Sebelum aku pergi, aku menatap Safa yang masih bertarung dengan hebat di sana. Untuk sejenak, aku menutup mataku lalu merenung.


Pasti ... dia akan jadi rekan tim yang sangat berguna jika dia bergabung dengan kami nanti.


"Ayo pergi, maaf karena aku tidak tau namamu," ucapku sambil mengusap leher kuda itu dengan lembut. Seolah mengerti perkataanku, kuda itu perlahan mulai berlari kecil, tahap ke tahap barulah menjadi kencang.


***


"Ene ... Eni ... apa-!"


Ucapakanku terpotong karena Civilian membungkam mulutku. Gadis kecil berambut coklat itu menutup matanya rapat-rapat, hingga akhirnya dia menghirup nafas panjang.


"Aku tidak peduli apakah Thea hidup atau mati, hubungan kami hanya sekedar rekan kerja. Tidak lebih dari itu, aku malah berterimakasih karena kalian ... aku jadi tidak perlu mengotori tanganku," ucap Civilian dengan nada yang datar. Setelah mengatakan itu, dia langsung terbang tinggi, meninggalkan debu serta angin kencang yang menghantam kami cukup keras.


"Kami juga akan pergi, dan berhati-hatilah, tuan Riot. Chast anda tidak sebanyak yang anda pikirkan," ucap Ene yang sebelum akhirnya menghilang lagi dengan Eni.


Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi ... sepertinya aku harus segera pergi dari sini.


Karena perkataan Ene barusan, aku kini melihat sisa chast di tangan kananku.


Deg.


Tunggu, sejak kapan ini tinggal sedikit? Apakah aku terlalu sering berteleportasi? Tapi seingatku tidak sesering itu kok ... ah! Tidak ... tadi aku menghabiskan sisa chastku saat bertarung dengan Thea. Pantas saja sekarang tinggal sedikit!


Sial! Kalau begitu, mungkin aku sekarang hanya bisa berteleportasi sekitar 4 kali lagi! Sekarang juga masih siang, butuh waktu yang lama hingga hari berganti.


Apakah lebih baik aku sembunyi? Kalau aku tidak bisa berteleportasi ... AKU BENAR-BENAR JADI ORANG YANG LEMAH LUNGLAI TIDAK BERGUNA!


Sepertinya memang benar lebih baik aku sembunyi saja ...


Fuut.


***


POV: Ares


Aku sekarang sudah terbang cukup jauh, dan kini aku berhenti di sebuah atap gedung pencakar langit yang tinggal setengah. Entah apa yang terjadi, tapi gedung ini sudah kehilangan setengah dari bagiannya.


Dan yang lebih buruk, adalah chastku yang hampir penuh. Membuat banyak benda sihir membutuhkan chast yang jumlahnya begitu banyak juga. Meskipun kapasitas chastku sudah meningkat, tapi tetap saja aku boros chast.


Dan lagi ...


DUAR!


"Sejak kapan ada boneka dengan tinggi 700 meter itu?"


TBC.


Jangan lupa like dan komen ya guys! Biar aku makin semangat updatenya!:3