Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Ada apa ini?!



"Ayo."


POV: Ken


Kenapa aku mau mengantarkan anak ini ya? Bukankah harusnya ini bukan urusanku dia tersesat atau tidak? Dan bukankah dia juga sangat aneh? Baru kali ini aku melihat orang dengan warna rambut merah menyala sepertinya.


"Apakah masih jauh?" tanya Negan sambil cemberut. Aku masih menatap ke arah rambut merah menyalanya itu. Sungguh, warna rambutnya sangat mencolok. Kalau dia hilang di keramaian, pasti mudah menemukan anak ini.


"Hei! Aku bertanya padamu!" Dia sedikit berteriak sambil menyentuh lenganku. Aku segera tersadar lali berdehem pelan.


"Oh, maaf. Sebenarnya aku tidak tau dimana rumah Elly yang kau maksud," ucapku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Negan langsung menatapku dengan waspada, mata hitamnya itu kini terlihat sangat marah.


"Jadi, apa tujuanmu bilang bahwa kau tau tadi?!" ucapnya kesal sambil menunjuk wajahku.


"Karena aku juga ... perlu sesuatu dari Elly," jawabku bingung sambil mengangkat kedua tanganku. Gadis itu terlihat semakin marah, dia segera mengambil sesuatu dari sakunya. Bentuknya kecil dan bulat, mirip seperti kelereng.


"Nih, ambil." Negan memberikan benda itu ke padaku, dia memaksa agar aku menerima benda itu.


"Untuk apa ini?" tanyaku dengan bingung sambil melihat benda bulat kecil yang entah apa namanya.


"Itu bom." Negan tersenyum cerah.


"HAH?!"


DUAR!


Apa?! Ini bom asap?! Tapi untuk apa fungsinya?! Sial! Aku harus segera keluar dari kabut asap ini!


Tapi kemana gadis tadi? Dia menghilang?! Apakah mungkin untuk menghilang dalam waktu sepersekian detik?


Bisa ... sial! Apa dia pemilik kekuatan teleportasi seperti Riot?!


Loh ... kenapa ... rasanya ngantuk ya? Apa ini ... gas tidur?


WUSH!


Angin berhembus kencang, menerbangkan semua gas yang sedari tadi menyelimutiku. Perlahan pandanganku menjadi semakin buram, dan aku yakin ... ada seorang gadis yang kukenal sedang berdiri di depanku.


Itu adalah Civilian.


Kenapa ... dia di sini?


BRUK!


***


Ini ... dimana? Ukh! Kepalaku rasanya masih sakit.


Saat aku membuka mata, aku sudah berada di sebuah ruangan berwarna coklat muda. Dengan jendela besar di samping kananku, serta kasur empuk yang sedang kutempati.


"Ini ... dimana?" gumamku sambil menatap ke luar jendela. Langit sudah tidak tampak sore lagi, bahkan sekarang terlihat seperti siang hari.


...


BRAK!


Aku mendekat ke arah jendela dan menempelkan wajahku ke sana. Melihat dengan jelas apakah mataku bermasalah? Rasanya aku pingsan terakhir kali itu masih sore hari.


"Ini ... sejak kapan aku pingsan?" tanyaku dengan nada shock yang pelan. Aku segera turun dari kasur dan hendak berlari ke arah pintu. Tapi begitu aku turun dari ranjang, seluruh tubuhku terasa lemas. Seperti tidak punya tenaga.


BRUK!


Aku jadi terjatuh dengan posisi tengkurap. Tapi aku tidak menyerah dan masih berusaha merangkak ke arah pintu.


Cklek!


Aku mendongak saat mendengar suara pintu yang terbuka. Dia adalah Boni, dia menatapku dengan tatapan terkejut lalu segera membantuku berdiri.


"Astaga! Kau sudah bangun? Harusnya kau memberitau kami jika sudah bangun!" ucapnya dengan wajah yang khawatir, dia segera memapahku untuk duduk kembali di atas ranjang.


"Tunggu, berapa hari aku pingsan?" tanyaku sambil memegang lengan Boni. Dia tersenyum sambil melepaskan tanganku dengan lembut.


"Mungkin sekitar 5 hari? Kudengar ada yang menyerangmu dengan gas pelumpuh ya?" tanya Boni dengan ekspresi yang kasihan. Aku langsung menatap Boni dengan mulut ternganga, rasanya seperti tersambar petir di siang bolong.


"Dimana Civilian?" tanyaku dengan panik. Boni yang baru saja akan memasukkan sapu tangan ke dalam wadah air, jadi menatapku dengan tatapan bingung.


"Oh dia? Sedang sibuk mengurus sesuatu. Ada apa memangnya?" tanya Boni sambil memeras sapu tangan yang dia pegang lalu berjalan ke arahku.


"Berbaring," ucapnya sambil mendorong bahuku pelan. Aku kemudian berbaring dan menatap Boni.


Pluk.


Loh?


Boni menaruh sapu tangan basah itu di atas dahiku. Tentu saja aku langsung menatapnya dengan bingung.


"Maaf tapi, apa yang kau lakukan?" tanyaku dengan penuh kebingungan. Boni ganti menatapku dengan bingung sambil membawa wadah air dengan kedua tangannya.


"Loh? Bukannya kalau orang sakit itu dikompres di dahi?" tanya Boni dengan nada yang ikut bingung. Aku segera duduk lalu mengambil sapu tangan setengah basah di dahiku.


"Iya itu kalau demam! Kan aku tidak demam?!" ucapku sambil mengembalikan sapu tangan itu. Boni menerima sapu tangan yang kukembalikan dengan sedikit ragu tapi tetap menerimanya. Barulah dia menaruh wadah air berserta sapu tangan basah tadi di atas lemari kayu di sampingku.


"Iya sih, kau tidak demam. Maaf, aku belum pernah merawat orang," ucap Boni sambil tersenyum canggung. Aku menghela nafas pelan sambil menatapnya.


"Apa kau juga tidak pernah sakit? Bukankah harusnya kau pernah dirawat oleh orang lain?" tanyaku sambil melihat ke arah kaki kananku.


JDAK!


"ADUH!" Boni langsung berjongkok kesakitan saat kakinya tidak sengaja tersandung kaki meja.


"Kau ... tidak apa-apa?" tanyaku khawatir saat melihat Boni yang gemetar menahan sakit. Tapi dia segera mengangkat tangan kirinya dan menganggukkan kepala.


"Tidak apa-apa ... aku pergi dulu untuk ... mengambilkanmu makanan," ucap Boni sambil berjalan pergi dengan kaki yang tertatih-tatih. Aku menahan tawaku saat melihatnya menutup pintu.


Sudah 5 hari ya? Ares dan yang lainnya benar-benar tidak datang. Apa ini sudah terlambat? Padahal aku baru mau menemui mereka.


...


Negan! Gadis sialan itu! Padahal aku mau tanya ke Elly kemana Vani dan yang lainnya pergi! Malah dia membuatku pingsan?!


Meskipun aku memang menipunya, tapi bukankah ini keterlaluan?! Dia bahkan membuatku tidak sadarkan diri selama 5 hari! Nanti kalau aku ketemu dia lagi, akan kubuat dia pincang.


PRANG!


KWAK! KWAK! KWAK!


Kaca jendela ruangan ini pecah karena dilempari batu. Aku terdiam cukup lama, sampai ingat bahwa ini adalah lantai 19. Siapa yang bisa melempar batu hingga di ketinggian seperti ini?


KWAK! KWAK! KWAK!


Tunggu ... suara gagak?


PRANG!


DUAR! DUAR! DUAR!


Aku segera menjatuhkan diri dari ranjang dan berusaha secepat mungkin mengobati diriku sendiri. Kota ini jadi kacau, burung-burung menyerang membatu buta dengan melemparkan batu atau bahkan bom peledak.


BRAK!


"KEN! AYO KITA PERGI DARI SINI!" Boni datang dengan membawa dua buah sandwich. Dia segera melemparkan sebuah boneka angsa yang cukup besar ke arahku, boneka itu langsung menyerang ke arah kurumunan gagak yang memecah kacanya tadi.


"Ada apa ini Boni?!" tanyaku dengan bingung.


Cring.


Deg.


"Bo ... ni?" Aku menatap dengan kaku ke arah dinding. Bisa kurasakan besi dingin dan tajam di leherku, bergerak sedikit saja ... aku yakin aku akan tewas.


"Kau harus ikut denganku."


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!