
..."ARES BODOHHHH! KITA AKAN MENABRAK!! AAAAAAA!"...
POV: Ares
"Kau sangat berisik Ken! Bukankah ini menyenangkan? Hahahaha!" ucapku senang sambil terus mendorong keranjang belanja yang kubuat dengan kekuatanku. Sementara Ken malah terus teriak sambil berpegangan erat pada tepi keranjang.
"ARES BELOK BELOK! KITA AKAN MASUK KE SUNGAI NANTI!" teriak Ken sambil menunjuk ke arah pagar pembatas sungai. Aku hanya diam saja lalu membelokkan keranjangnya, dan lagi-lagi Ken berkomentar.
"JANGAN BERBELOK TERLALU TAJAM ARES! BAGAIMANA JIKA KITA JATUH?!" teriak Ken lagi sambil menekuk lututnya. Aku hanya diam sambil mendengarkan teriakkannya.
"Kalau jatuh ya tinggal jatuh, mungkin kulit kita terkelupas jika jatuh dari kecepatan seperti ini~," ucapku dengan nada jahil. Yah kupikir wajar saja Ken takut, sepertinya aku mendorong keranjang ini hingga kecepatannya sekitar 60km/jam? Tanpa rem dan tanpa setir hahahaha!
"OH TUHAN! JIKA AKU JATUH TOLONG BERIKAN BANTAL YANG EMPUK! ARES TIDAK USAH!" Sekarang Ken malah mendoakan yang jelek untukku. Padahal aku hanya berusaha agar cepat kabur dari lendir karnivora itu!
"Hmph! Baiklah!"
TRANG!
Aku melompat turun, membiarkan Ken meluncur sendirian dengan keranjang belanjaan itu.
BRUK!
"Aduh! Masih saja sakit!" ucapku sambil memegang pinggangku. Rasanya cukup sakit karena saat terjatuh aku berguling beberapa kali. Aku segera bangun lalu membersihkan debu yang menempel di bajuku.
Blup blup blup!
Mataku melihat ke arah lendir merah yang mulai bergerak mendekat. Aku mulai membayangkan beberapa petasan, dan korek api tentunya. Berbeda dengan para The Ants kemarin, lendir ini tidak terpengaruh oleh air, dan malah penyebaran pertamanya berada dari sungai.
"Baiklah, tidak ada salahnya aku coba!" ucapku lalu mulai menyalakan sumbunya. Begitu sumbu itu sudah menyala, aku melemparkan petasan itu ke arah lendir merah.
Blup!
"... Kenapa malah seperti kentut di dalam air sih?" ucapku kesal saat petasan itu ditelan oleh lendir merah, tapi bukannya memberi kerusakan, malah hanya menimbulkan bunyi yang lucu.
"Nih makan granat!" ucapku lalu melemparkan granat yang kubuat. Lendir itu langsung menelannya, dalam hitungan detik, akhirnya granat itu meledak.
BLERP!
"..."
"SERIUS HANYA BEGITU?! LALU BAGAIMANA CARA MENGALAHKANNYA?!" teriakku frustasi saat granat yang kulempar ternyata hanya memberi kerusakan kecil pada si lendir. Aku mulai terbang dan berdiri di atas tiang lampu jalanan. Seperti yang kuduga, lendir itu merespon pada makhluk hidup, apalagi manusia.
Terbukti bahwa mereka tidak lagi mengejar Ken, tapi mulai memanjat naik untuk melahapku. Kalau diperhatikan seperti ini, mereka jadi mirip siput bening kemerahan yang tanpa cangkang.
"Lalu bagaimana cara untuk mengalahkan kalian?" tanyaku sambil berjongkok di atas tiang lampu. Saat lendir itu hampir menggapaiku, aku segera terbang dan pergi untuk menyusul Ken.
Sepanjang perjalanan, aku hanya diam dan melamun. Rasanya ada yang aneh.
"OH IYA ASTAGA! KEN MELUNCUR KEMANA TADI?!" teriakku panik, aku segera berhenti di udara dan mulai melihat ke sekeliling.
Gawat! Ken 'kan penakut! Jangan-jangan dia pingsan saat keranjangnya berhenti?! Dia ada di mana astaga?!
Aku mulai terbang rendah dan menyusuri jalanan, mataku melihat ke kiri dan kanan, siapa tau bahwa Ken benar-benar pingsan?
"Ken! Ken!" teriakku sambil terus mencari. Mataku melihat ke arah chast di tangan kananku.
Masih banyak, berarti aku bisa terbang lebih lama lagi.
"KEN! HALO? KAU DIMANA?!" teriakku dari atas langit. Akhirnya setelah sekian lama mencari, mataku melihat anak yang sedang melambai ke arahku. Aku terbang turun menuking, saat sudah dekat ternyata benar bahwa itu adalah Ken!
"Ken! Syukurlah kau baik-baik saj-," ucapku terpotong karena Ken sudah lebih dulu membungkam mulutku.
"Sst! Mereka di sini! Ayo kita segera pergi!" bisik Ken padaku. Aku terdiam, siapa maksud Ken? Apa dia tidak tau berapa jam aku mencari dirinya?
BLUP!
DEG!
Detik itu, aku menyadari sesuatu. Lendir yang awalnya hanya seukuran mobil. Sekarang sudah jadi sebesar bus. Aku memeluk perut Ken lalu terbang ke atas, dengan cepat aku melesat pergi menjauhi tempat itu.
"Ken, kau hafal ke mana arah rumah Riot?" tanyaku dengan serius.
"Hah? Apa? Aku tidak bisa mendengarmu karena anginnya terlalu kencang!" ucap Ken dengan sedikit berteriak. Aku berdecak pelan, akhirnya aku menurunkan Ken di salah satu gedung pencakar langit di kota ini.
"Rumah Riot itu di sebelah mana?!" tanyaku lagi.
"Di sebelah sana!" tunjuk Ken ke arah Selatan. Aku mengangguk lalu memeluk perut Ken lagi, dan melesat terbang. Ini adalah masalah serius, aku harus memberitahu Vani dan Riot lebih dulu. Sekitar 20 menit aku terbang, akhirnya aku sampai di rumah Riot.
"Aduh ... perutku keram ... kau mencengkramnya terlalu kuat Ares bodoh!" ucap Ken kesal sambil berjongkok dan memegang perutnya. Aku tertawa kecil, memang sih tadi aku memeluknya dengan erat hahaha!
"Ares? Ken? Kalian sudah pulang?" tanya Riot di ambang pintu. Aku segera berlari ke arah Riot lalu membalikkan badannya agar masuk ke dalam rumah.
"Masuklah dulu! Ada yang harus kalian tahu!" ucapku tegas. Mataku melihat ke arah Vani yang sudah duduk santai di sofa sambil meminum teh.
Bruk!
"Ada apa?" tanya Riot setelah aku mendudukkannya di sebelah Vani. Aku juga lalu duduk di depan mereka, sambil berusaha mengatur nafasku.
"Ron membuat ulah lagi, dan ini ... cukup merepotkan," ucapku lelah. Tatapan mata Riot langsung berubah marah, aku bisa tau dari rahangnya yang mengeras.
"Apa lagi yang dia lakukan?!" ucap Riot dengan kesal.
"Benar! Apa yang dia lakukan?!" Vani malah ikut bertanya dengan kesal sambil mengangkat tangan kanannya seperti orang demo.
"Dia membuat lendir pemakan makhluk hidup!" ucap Ken yang tiba-tiba masuk. Sepertinya perutnya sudah tidak keram lagi.
"Apa?!" kata Riot melongo.
"Apa hebatnya?" tanya Riot lagi dengan wajah polosnya.
"Ayolah, maksudku ... itu hanya lendir! Meskipun dia memakan makhluk hidup, dia lambat, lembek, tidak punya tulang," jelas Riot lagi. Aku menepuk dahiku dengan cukup keras.
"Pertama. Lendir itu tahan air dan api, aku sudah mencoba menyerangnya dengan granat, bahkan itu tidak memberikan luka fatal untuk lendirnya. Sejujurnya ... karena bentuknya hanya lendir, sepertinya dia tidak punya titik vital!" jelasku pada Riot.
"Yang kedua. Lendir itu terus bertumbuh, terakhir kali kulihat, dia sudah sebesar bus," tambah Ken. Vani dan Riot melongo, mereka tampak tidak percaya dengan apa yang kukatakan.
..."Kalau begitu ... BAGAIMANA KITA BISA MENGALAHKANNYA?!" ...
TBC.
JANGAN LUPA LIKENYA YA GUYS!