Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Kematian Elvon.



"Ka ... kak?"


Deg.


POV: Ares


Aku terdiam kaku, sambil menatap seorang anak kecil di depanku. Anak kecil yang selalu kukasihani sejak aku keluar dari rumah orang tuaku. Aku berdiri dengan pelan, lalu melangkah ke arah anak kecil itu.


Mungkin kau keluar karena aku memikirkanmu ... padahal beberapa tahun ini aku sudah jarang memikirkanmu, tapi sepertinya karena kabut ini, membuatku bernostalgia beberapa menit.


"Wahh, obat ilusimu ini keterlaluan ya? Aku tidak suka melihat masa lalu dari bagian diriku," ucapku kesal sambil melihat ke arah atas. Tapi kabut ini semakin, tebal, membuat pemandanganku jadi semakin buram.


Hmm, sepertinya aku butuh kipas angin.


CRING!


"Nah! Ayo terbangkan gasnya!" Aku mulai menyalakan kipas di sampingku.


Tentu saja ini bukan kipas biasa hahaha!


WHUUUSSSSS!


PRANG PRANG PRANG!


Angin dari kipas raksasa yang kubuat ini bertiup kencang, bahkan kaca dari gedung ini ikut pecah saat menahan tekanan anginnya. Bersamaan dengan pecahnya kaca, gas halusinasi yang pekat ini perlahan memudar.


Aku berjongkok sejenak, lalu mencium sisa gas yang ada di lantai.


Sampai jumpa lagi, panda kecilku.


Fyutt.


Kipas raksasa di sampingku mulai memudar lalu hilang. Saat aku melihat sekeliling, ruangan ini sudah dipenuhi oleh kabel dan lantai yang terkoyak.


"Oh? Apa speakernya juga ikut kurusak? Suara Elvon tidak terdengar lagi hahaha! Sepertinya aku harus turun ke lantai selanjutnya," ucapku sambil membuat sebuah granat kecil di tanganku. Aku membuka segel granat itu dengan santai, lalu melemparkannya ke depan.


DAR!


Ledakannya memang tidak seberapa, tapi itu cukup untuk melubangi lantai. Aku berlari kecil lalu melompat turun melewati lubang.


Tap!


Ini lantai 45? Lantainya berbeda lagi, sepertinya Elvon sangat berniat untuk membunuhku kali ini.


Aku menatap ke arah 17 patung besi yang berada di pinggir ruangan. Mereka berjajar rapi, seperti aksesoris biasa yang dipajang untuk pameran.


Itulah yang kupikirkan. Tapi tidak mungkin bukan? Elvon sengaja menyiapkan ke-tujuh belas patung ini hanya sebagai hiasan? Pasti dia sudah merencanakan sesuatu.


[Aku tidak menyangka kau bisa lolos dari lantai 46 dengan mudah. Kau memang pantas disebut ketua.]


"Aku? Ketua? Entahlah ... aku bukanlah orang yang baik dalam mimpin, dan aku juga bukan orang yang baik untuk peduli terhadap sesama.


Hanya saja ...


Aku tau strategi yang bagus," ucapku sambil menyeringai.


KLANG!


Patung itu mulai bergerak, berjalan layaknya besi yang hidup seperti robot. Mereka mengangkat pedang yang awalnya disampirkan ke pinggang mereka.


"Tidak masalah. Rencanaku juga berhasil. Chastku sudah mencapai batasnya, kalau aku memakainya lagi, aku akan mendapatkan infik." Aku bergumam pelan sambil duduk bersila. Aku tidak bohong saat aku bilang chastku hampir penuh. Membuat kipas memang tidak butuh chast sebanyak itu ... tapi chastku bukan kugunakan untuk kipas saja.


"Iya, hati-hati digigit anjing ya." Aku tertawa kecil sambil tersenyum lega. Sesaat, aku bisa melihat para patung besar yang siap menebaskan pedang berat mereka ke arahku.


Nah, harusnya mereka sudah datang.


CRINGGG!


ZRATTTT!


Sebuah tumbuhan menjalar mulai tumbuh secara acak dari dalam ruangan ini, tumbuhan itu melilit para patung hingga tubuh mereka tidak terlihat. Dari balik tumbuhan merambat, mulai muncul beberapa capung yang datang menghampiri Ares.


"Kau berhasil, Elly, Ken," pujiku pada Elly dan Ken yang sedang menaiki capung.


Kekuatan Thea adalah mengecilkan tubuh manusia. Sebenarnya bukan hanya manusia saja, benda apapun bisa dijadikan ke ukuran super kecil. Setelah aku diberitahu oleh Riot tentang kekuatan Thea, aku mulai membicarakan dengan Safa tentang bagaimana cara membawa keluar warga yang ditangkap.


Yaitu dengan bantuan para capung ini.


"Dasar! Untung saja ada warga yang punya kekuatan untuk bisa menghancurkan kaca! Hampir saja rencananya gagal karena kacanya tidak bisa pecah!" marah Elly dengan muka yang bersungut-sungut. Aku dan Ken hanya tertawa kecil melihat Elly yang marah.


"Oh? Apakah kalian adalah para warganya?" tanyaku saat melihat segerombol capung lain yang terban dibelakang Elly serta Ken. Mereka mengangguk dengan malu-malu, sepertinya mereka merasa canggung saat melihatku untuk suatu alasan.


[ARGHHH! SIAL! APA YANG KAU LAKUKAN?! ARGHH! KENAPA! KENAPA ADA BANYAK ANJING YANG MASUK KE SINI?!]


Suara dari speaker itu mengalihkan perhatian kami. Aku berusaha untuk berdiri, lalu membersihkan debu yang menempel di belakang celanaku.


"Bisakah kalian pergi untuk membantu Riot serta Vani? Sepertinya mereka butuh bantuan kalian ... oh! Safa juga, aku yakin dia mengalami kesulitan melawan Boni!" ucapku sambil menunjuk ke arah jendela. Mereka mengangguk dan mulai mengendarai capung itu untuk terbang menjauh.


Perhatianku kini fokus pada speaker yang terisi jeritan manusia kecil yang mungkin sedang tergigit oleh anjing.


Alasan chastku penuh, adalah karena aku membuatkan kain tak kasat mata untuk para anjing itu. Masing-masing dari mereka aku pakaian kainnya, sehingga senjata Elvon tidak bisa mendeteksinya dengan sensor biasa.


Anjing adalah hewan yang peka terhadap lingkungan dan punya reflek yang bagus sebagai hewan pemburu. Ditambah mereka punya kecerdasan di atas hewan lainnya, dan tergolong hewan yang pintar.


Safa benar-benar memberiku hewan yang tepat.


"Aku tidak bisa melakukan apa-apa terhadap apa yang anjing-anjing itu lakukan, mereka sepenuhnya bertindak karena perintah dari Safa." Aku berucap ke arah speaker yang berisik itu.


[Bzzzzt! Kau ... sudah bzzzzt ... ini semua?]


"Ya, ini sudah masuk ke dalam perhitunganku," ucapku sambil tersenyum tipis. Suara dari speaker ini perlahan mulai memudar, yang kudengar hanyalah suara sesuatu yang robek, atau mungkin dikoyak.


Aku tidak membenci Elvon ataupun rekan-rekannya. Jika kami menjalani kehidupan yang normal sekarang, aku yakin Elvon akan jadi ilmuwan yang luar biasa. Tapi Elvon yang tidak beruntung karena dia harus bekerja untuk Boni, salah satu orang yang paling dibenci oleh Safa.


Pada akhirnya, dia mati sebagai bidak pion untuk perang kedua saudara ini.


Aku berjalan menjauh dari speaker, dengan langkah yang hati-hati, kakiku melewati tanaman merambat yang sangat banyak. Hingga aku sampai di depan jendela, mataku terpaku pada kota yang terbakar dan dipenuhi oleh asap.


Aku menyentuh kaca tipis itu dengan tangan kiriku, lalu menempelkan dahiku ke kaca. Perlahan aku menutup mata, merasakan hal yang jarang aku rasakan.


Kedamaian.


Lucu sekali bukan? Di kota yang porak-poranda seperti ini, bagiku kata damai malah cocok untuk hal ini. Perang, pertempuran berdarah, kekuatan, kehancuran kota. Entah sudah berapa banyak yang aku alami, dan entah sudah berapa banyak yang aku lihat.


"Pada akhirnya, kedamaian itu hanyalah salah satu deskripsi dari suatu sudut pandang."


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!