Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Gerombolan anjing!



...DUAR!...


POV: Ares


Pom ini meledak secara tiba-tiba, padahal tidak ada pemicunya. Mataku segera melihat ke arah Riot yang berteleportasi, syukurlah dia bisa memindahkan Ken tepat waktu. Sedangkan aku langsung membayangkan balon air yang sangat besar.


SPLASH!


Meskipun ini bukan baja atau besi, tapi dengan balon air ini kami tidak akan terbakar. Balon ini langsung meledak setelah perkena pecahan dari dinding pengisian bensin.


"Apa? Ada apa?!" Vani yang baru terbangun langsung panik, dia melihat ke kiri dan kanan, barulah setelah itu dia menatapku.


"Ada apa ini, Ares?" tanyanya dengan nada yang khawatir, aku menepuk ujung kepalanya dengan pelan.


"Tidak ada apa-apa, tapi lebih baik kau jangan tidur dulu setelah ini. Ada yang aneh di sini," ucapku pelan sambil melihat ke asal ledakan tadi. Api masih berkobar di kanan dan kiri, asap juga mengepul sangat lebat.


Fuut!


"Ayo kita pergi!" Aku mendengar suara Riot, ternyata dia berteleportasi lagi untuk menjemput kami. Dengan cepat dia langsung menggenggam tanganku dan Vani.


Fuut!


Kami berteleportasi ke hutan. Tapi saat aku melihat ke langit, aku bisa tau bahwa ini tidak jauh dari lokasi ledakan tadi. Sepertinya hanya beberapa ratus meter saja.


"Vani! Ares!" Aku menengok ke belakang, ada Ken yang datang dengan raut wajah yang pucat, dari matanya jelas terpancar sorot mata kekhawatiran.


"Kalian tidak apa-apa?" tanyanya sambil melihat tubuh kami dari atas sampai bawah. Aku mengangguk pelan lalu menatap Vani, syukurlah bahwa dia juga baik-baik saja.


Grrr!


Deg!


Aku menoleh dengan cepat ke arah belakang, rasanya langsung merinding saat aku melihay segerombol anjing besar yang datang ke arah kami. Karena di kota Oner kami tidak melihat banyak hewan, jadi di sini aku sedikit terkejut.


"Ares ... apa dia akan memakan kita?" tanya Ken curiga, aku hanya diam dan menelan ludahku gugup. Bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.


"Riot ... kalau mereka datang, bawa Vani pergi dari sini," bisikku pelan pada Riot. Dia menganggukkan kepalanya, lalu fokus ke arah gerombolan anjing itu.


GRRAWL!


CRING! BLAR!


"SEKARANG RIOT!" Aku membuat sebuah tongkat besi yang cukup panjang, dan Ken telah siap dengan aura hijaunya. Riot langsung menyentuh Vani, dan menatapku sejenak.


"Tunggu aku!" ucap Riot sebelum dia berteleportasi.


Fuut!


Setelah Riot menghilang, gerombolan anjing yang terdiri dari sekitar 10 ekor itu langsung menyerbu kami. Baku hantam dan kabur-kaburan masih terus terjadi.


BUAGH!


"KENAPA MEREKA SANGAT GIGIH? APA MEREKA LAPAR?" tanya Ken sambil berusaha bertahan saat menahan moncong anjing di depannya.


BUAGH!


"Aku tidak tau!" ucapku di sela-sela pertarungan.


BUAGH!


"Tapi kalau mereka lapar, bukankah harusnya mereka akan langsung menggigit kita?!" Aku masih memukul kepala mereka setiap kali mendekat, tak jarang juga mereka mengayunkan cakarnya padaku. Untung aku bisa menahannya dengan tongkat besi ini.


CRASH!


"Ack!" Mataku langsung menoleh ke arah Ken, tangannya tergigit oleh salah satu anjing itu. Begitu melihat Ken yang lengah, segerombol anjing lainnya mulai menyerbu Ken dengan cepat.


"Sial! Ken!" Aku hendak berlari ke arah Ken dan membantunya, tapi gerombolan anjing di sekitarku malah mengurungku di sini, seolah mereka sudah dilatih untuk memangsa manusia.


BRUAK!


Tiba-tiba ada seekor anjing yang terlempar menjauh. Padahal di sini tidak ada anak selain kami.


Tapi dia siapa ya?


Mataku memicing ke arah gelapnya hutan ini. Dan begitu terkejutnya aku ... saat tau bahwa yang menolong kami adalah boneka beruang yang besar. Boneka itu seperti dikendalikan, tapi dia hanya menyerang anjing-anjing ini saja.


GRRR!


Fokus dari anjing-anjing ini mengarah ke boneka beruang itu. Dan tanpa gentar, mereka langsung maju ke arah bonekanya, mencabiknya tanpa ampun.


BUAGH!


Meskipun dengan kondisi tubuh yang terkoyak-koyak, boneka itu masih bisa memukul anjingnya hingga terlempar. Aku dan Ken hanya diam sambil mengamati.


Grr!


Anjing itu perlahan mundur, dan kembali ke gelapnya hutan.


Loh ... berarti sekarang tinggal kami dan boneka ini ... apa dia juga akan menyerang kami? Tapi ini mudah sih, karena boneka, aku hanya tinggal membakarnya saja.


Sruk.


Tiba-tiba boneka itu duduk dan bersandar di pohon, setelah itu dia tidak bergerak lagi. Aku dan Ken jadi saling bertatapan dengan bingung.


"Lalu ... kita harus ngapain?" tanyaku sambil menyenggol lengan Ken.


"Tidak tau juga, bukankah lebih baik kita pergi?" tanya Ken juga.


"Pergi ke mana? Riot saja tidak menjemput kita!" ucapku kesal karena Riot tidak kunjung datang.


Tap ... tap ... tap


Aku dan Ken berhenti berdebat, suara langkah kaki terdengar dari dalam hutan ini. Jantung kami yang tadinya sudah lebih tenang, kembali berpacu untuk menunggu siapa yang datang.


Jika dia musuh, akan langsung kulempar tongkat besi ini ke wajahnya.


"Maaf aku terlambat, apa kalian baik-baik saja?" Muncul seorang anak perempuan dengan rambut hitam dan kuncir dua. Dia mengenakan seragam sekolah full warna hitam dengan dasi merah serta rok pendek. Kulitnya seputih boneka porselen, apalagi warna mata ungunya yan terlihat seperti permata.


Siapa gadis ini?


"Permisi? Siapa kau?" tanya Ken dengan curiga. Gadis itu masih tersenyum lalu duduk di atas pangkuan boneka yang tadi bersandar.


"Baiklah, wajar jika kalian curiga ... kalian bisa memanggilku Boni, dan seperti yang kalian lihat ... aku adalah pengendali boneka," ucapnya memperkenankan diri, tangannya menyentuh pipi boneka yang koyak itu. Tapi tidak ada ekspresi sedih di dalam raut wajahnya.


"Beberapa hari yang lalu, aku merasakan sebuah gempa yang besar. Dan setelah diselidiki, ternyata asalnya dari kota tetangga. Apakah kalian tau sesuatu?" tanyanya lagi.


Srek!


Boneka itu berdiri, lalu memanggul Boni. Dengan langkah gontai, boneka itu berjalan ke arah Ares dan Ken.


Gempa? Mungkin karena kekuatan City waktu itu.


"Kalau iya, memangnya kenapa? Dan kalau tidak bagaimana?" tanya Ken dengan nada mengintrogasi. Boni hanya tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tau apa yang terjadi. Karena kehidupan di kota ini begitu damai," ucapnya lagi. Dan ada sesuatu yang membuatku terkejut saat mendengar perkataannya.


Itu adalah kata 'damai' di dalam kalimatnya.


Damai di kondisi seperti ini, terasa tidak mungkin dan mustahil. Dunia dimana kekuatan adalah segalanya, bagaimana mungkin bisa damai?


"Damai?" tanyaku bingung dan penasaran, Ken terlihat kesal karena aku termakan omongan Boni.


"Benar, aku adalah penguasa Kota Ansorteri. Di sini kalian akan aman, apa kalian mau ikut?" tanya Boni dengan senyuman cerah.


...Penguasa Kota Ansorteri?...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


Halo guys! Mulai hari ini sampai hari Selasa minggu depan, akan update 3 bab dalam satu hari! Sesuai dengan yang aku janjikan! Happy reading!