Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Bangkit kembali!



..."Kau ... berani melukai ... Ken?"...


POV: Author


Draw terdiam saat mendengar suara anak perempuan lain. Matanya melirik ke arah bawah, jantungnya langsung berdetak cepat saat melihat Vani yang berdiri sempoyongan.


CRINGGG!


DUARR!


Sebuah cahaya kuning memancar terang dari tubuh Vani.


Ya, Vani mendapat infik kuning.


Cahaya kuning itu bersinar bagaikan pilar yang menjulang ke langit. Cahayanya sangat menyilaukan, ditengah kepulan awan hitam, cahaya itu terlihat mulai memudar. Draw yang fokusnya teralihkan, langsung melemparkan Ken ke bawah.


BRUK!


Ken jatuh tepat di atas Vani. Kedua anak itu mendapat luka fatal pada tubuh mereka. Bagaikan monster, Vani kembali berdiri, mata merahnya terlihat kosong dan hampa.


"Sambar ... semuanya." Detik berikutnya. Hujan turun dengan sangat deras, kilat menyambar seluruh kota. Gedung-gedung mulai hancur, tidak ada tempat berlindung. Ini seperti dihujani oleh bom.


DUAR! DUAR! DUAR! DUAR!


"APA?! KUPIKIR DIA HANYA BISA MENGENDALIKAN HUJAN? KENAPA DIA BISA MENGENDALIKAN PETIR JUGA?!" teriak Draw sambil berusaha turun dari gedung. Tapi ... itu sudah terlambat. Sebuah kilat kuning raksasa turun dan akhirnya menyambar Draw.


DUAR!


"ARGHHH!" Draw berteriak di tengah kilat yang menyambar dirinya.


Zap!


Kilat itu telah menghilang, menyisakan daging matang dengan rasa manusia. Draw sudah tiada.


Tapi kilat Vani tidak berhenti sampai di situ, seluruh kota ini masih terus disambar oleh petir.


"Vani! Vani!" Ken berusaha sadar sambil menyembuhkan luka di perutnya, dia berdiri dengan sempoyongan lalu memeluk Vani dari belakang.


"Astaga ... luka sayatan selebar ini ... infik kuning?" gumam Ken dengan ekspresi yang sedih. Perlahan-lahan, Ken mulai mengobati Vani dalam keadaan berdiri. Demi apapun, Ken sangat takut dengan keadaan Vani sekarang.


Dengan tubuh yang basah kuyup, serta darah yang sudah meresap ke dalam bajunya. Matanya terlihat kosong dan sayu, seperti mayat hidup.


"Aku tidak bisa mengobati luka akibat infik, jadi aku hanya mengobati luka karena jatuh tadi," ucap Ken lalu melepaskan bajunya. Dia mulai menyobek bajunya menjadi kain yang cukup panjang.


"Aku harus menghentikan pendarahannya dulu," ucap Ken lalu membalut tubuh Vani dengan kain itu. Setelah selesai, Ken langsung menggendong Vani.


"Kita ... harus menemukan Riot dan Ares! Aku mohon, bertahanlah ... Vani!"


***


Sementara itu di tempat lain.


Riot sudah tak sadarkan diri. Seluruh tubuhnya tertancap oleh anak panah. Di depannya, berdiri seorang Hunt dengan senyuman kosong.


"Yah, kupikir kau akan lebih seru, ternyata tidak menyenangkan!" ucap Hunt lalu mulai mencabuti panah yang menancap di tubuh Riot. Setiap anak panah yang Hunt cabut, meninggalkan luka terbuka hingga pendarahan yang lebar.


Hunt berhenti sejenak, lalu menatap pada hujan petir yang tak kunjung berhenti.


"Wahh, petirnya sangat menakjubkan ya?" ucap Hunt sambil termenung.


GREB!


Hunt yang lengah, tak sadar bahwa Riot sudah bangun. Mata biru langit milik Riot menatap Hunt dengan penuh kemarahan.


"Wah? Kau bangun? Begitu dong! Baru asik!" ucap Hunt dengan senyum psikopat miliknya. Bukannya ketakutan, Riot malah tersenyum lebar.


"Benar ... aku tidak perlu jadi manusia untuk melawan orang yang bahkan bukan manusia," ucap Riot sambil tersenyum lebar. Hunt yang sudah terbiasa dalam pertarungan, mendapat firasat buruk di balik senyuman Riot.


"Lepaskan!" Hunt mulai memberontak, mencoba melepaskan cengkraman Riot. Tapi itu tidak berguna, Riot sudah menutup matanya. Bersiap untuk teleportasi.


Fuut.


JDER!


Riot memindahkan diri mereka ke atas langit. Kini mereka sedang melayang tepat di bawah gumpalan awan hitam itu.


Fuut!


Riot berteleportasi lagi, dia menghilang entah kemana, meninggalkan Hunt sendirian di atas langit.


"Sial! Aku akan jatuh!" ucap Hunt tanpa daya di udara. Saat Hunt mulai terjatuh, disitulah siksaannya dimulai.


JDER! DUAR! JDER JDER!


Kilat menyambarnya tanpa ampun. Bahkan kilat itu tak membiarkan suara Hunt lolos dari sana.


Dari bawah gedung, Riot terduduk lemas sambil menikmati kilatan cahaya. Dia tersenyum tipis saat melihat Hunt yang tersambar tanpa henti. Karena tubuhnya terluka parah, dia tidak bisa berdiri apalagi berjalan. Meskipun dia ingin mencari rekannya yang lain.


"Di situasi ini ... aku benar-benar tidak berguna. Sepertinya ... aku harus mencari cara mengatasi situasi ini untuk kedua kalinya," ucap Riot dengan lemas. Perlahan-lahan Riot menutup matanya, kepalanya menjadi semakin berat dan berkunang-kunang.


***


JDER! JDER! JDER! DUAR!


Sementara di sisi yang lain, raksasa yang bertarung dengan Ares, tengah dirundung oleh petir habis-habisan. Karena tubuh raksasanya, dia menjadi sasaran empuk untuk kilat di atas sana.


Tapi itu tidak berarti banyak, karena tubuh raksasa itu sendiri berasal dari tanah kota. Petir dan tanah, kedua elemen yang saling menetralisir.


"Vani? ... Apa yang terjadi dengannya?" gumam Ares yang berlindung di balik celah bangunan. Dia masih belum bisa berdiri, pukulan City memberi kerusakan pada alat keseimbangannya. Dalam diam, Ares terus berpikir. Bagaimana caranya mengalahkan raksasa itu.


Bom, bahkan petir. Tidak memberi kerusakan berarti pada City.


"Bagai ... mana ya? Chastku juga tinggal tersisa sedikit, apa yang harus kulakukan?" gumam Ares lagi. Dia sudah sangat frustasi dengan keadaan ini. City lebih merepotkan dari lendir yang kemarin dia hadapi.


[Apa kau butuh bantuan?]


"Apa? Siapa?" tanya Ares saat dia mendengar suara dari dalam kepalanya.


[Kami akan membantumu jika kau mau!]


"Kami? Kalian ada berapa banyak?" tanya Ares lagi dengan bingung dan sedikit takut.


[Kami adalah penduduk kota ini.]


Deg!


"Penduduk ... kota?" tanya Ares tidak percaya. Ares mulai bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah dia akan jadi gila seperti Ken?


[Kami akan mengambil chast milikmu.]


[Chastmu akan langsung kosong setelah ini!]


[Habisi monster itu!]


Berbagai suara itu memenuhi kepala Ares. Luka Ares perlahan mulai sembuh, chastnya menurun drastis hingga akhirnya kosong. Cahaya biru kekuningan mulai menyelimuti tubuh Ares.


[Kau hanya punya satu kesempatan, jangan sia-siakan itu!]


[Majulah nak!]


[Beri profesor itu pelajaran!]


[Tolong jaga putraku.]


Deg!


Sebuah suara memecah fokus Ares.


"Putra? Orangtua Riot?" gumam Ares dengan mata yang berkaca-kaca. Ares mulai menangis setiap mendengar sorakan semangat dari mereka.


"Kau tau, Riot? Kau benar-benar anak kesayangan penduduk kota ini!" ucap Ares lalu mulai berdiri tegap. Hujan petirnya sudah mulai mereda, menyisakan seonggok raksasa dengan tubuh yang sudah rusak dan pecah-pecah.


"Ya, sekarang aku tau bagaimana membuat raksasa itu remuk!" ucap Ares dengan seringaian. Dia menutup matanya, membayangkan suatu karung yang dipenuhi sesuatu.


..."Bubuk mesiu tidak bekerja bukan? Lalu bagaimana dengan asam kuat?"...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys! Bab ini udah mau selesai nih!