
"Hei ... apa aku boleh ikut bersama kalian?"
"Hah?!"
POV: Ares
Aku langsung terkaget-kaget dan menatap Safa dengan mulut yang terbuka. Gadis kecil dengan rambut pirang itu terlihat malu-malu dengan wajah yang sudah sedikit memerah, dan pandangan yang selalu dia arahkan ke tanah.
"Kau ... yakin? Maksudku- bukankah kau harus berada di sini untuk membantu para warga?" tanyaku bingung sambil menatap Safa serius. Gadis itu menghela nafas dan mulai bermain tanah yang ada di bawah kakinya.
"Memang aku ingin melindungi mereka, tapi ... jika dunia tetap seperti ini, bukankah hal yang akan kulakukan akan jadi sia-sia? Akan ada banyak orang yang bertambah kuat, dan akan ada banyak orang mati dalam proses tersebut.
Kita juga tidak bisa menambah angka kelahiran dengan kondisi dunia yang begini. Jadi aku menarik sebuah kesimpulan, selama dunia masih seperti ini, artinya kepunahan manusia hanya tinggal menunggu waktu saja." Safa berbicara dengan tenang dan serius, aku terdiam dan menatap Safa dalam.
Angin berhembus pelan, membawa tiga ekor kupu-kupu serta puluhan burung gereja yang melintas di atas langit.
"Ah! Waktunya menanam pohon! Ayo! Kau bisa mempertimbangkan permintaanku nanti!" Safa langsung berdiri dan mengajakku dengan antusias. Aku jadi ikut berdiri dan keluar dari bawah pohon, sebelum langit mulai menggelap, burung-burung gereja itu melemparkan banyak biji-bijian di atas tanah yang rata ini. Dibantu dengan para cacing dan tikus tanah, biji-biji itu diatur untuk masuk ke kedalaman yang sesuai agar mereka tumbuh dengan baik.
"Terimakasih! Besok bantu kami lagi ya!" Safa melambaikan tangan pada gerombolan burung yang mulai pergi menjauh. Langit yang sudah semakin gelap, memberikan cahaya ungu kebiruan yang mengenai tubuh kami. Dengan awan yang tipis dan angin lembut yang berhembus, sekarang baru terasa bahwa kedamaian itu benar-benar ada.
***
BRAK!
"PRITTT! ADA BERITA PENTING SEMUANYA HARAP BERKUMPUL!" Aku mendobrak rumah kecil yang aku buat khusus tim kami, begitu masuk aku langsung berteriak dan melihat sekeliling.
Oke, Ken ada. Riot, ada. Vani? ... MANA VANI?!
"MANA VANI?!" Aku bertanya menatak ke arah Ken. Anak laki-laki yang duduk tenang sambil menulis sesuatu itu menoleh ke arahku, dan mulai mengingat-ingat.
"Sepertinya tadi dia bilang untuk mencari makanan yang segar. Mungkin buah? Kalau begitu mungkin saja pergi ke hutan." Ken menjawab sekenanya lalu kembali fokus ke kegiatan yang dia lakukan tadi. Aku menghela nafas lelah lalu kembali keluar rumah.
Aku harus mencari Vani.
Whus!
Aku terbang ke langit, dan mulai masuk ke daerah atas hutan.
"BRRR! HARUSNYA TADI AKU PAKAI BAJU YANG HANGAT!" teriakku kesal di atas udara. Aku berhenti di udara lalu menggosokkan kedua telapak tanganku dengan cepat. Mataku menatap ke arah deretan hutan gelap di bawahku.
Loh ... ini tidak mungkin 'kan kalau Vani berani masuk ke hutan gelap sendirian? Karena sekarang juga sudah malam, lalu kemana dia?
Aku turun perlahan, dan bertengger di atas dahan pohon yang cukup besar.
Aku memerlukan senter.
CRING!
Sebuah senter berukuran sedang muncul di hadapanku, aku langsung mengambil dan mulai menyalakan senter itu.
"Hap!" Aku melompat turun dari atas dahan, lalu mulai mencari ke sekeliling. Aku sih tidak takut walaupun nanti ada harimau atau bahkan binatang buas lainnya. Selama aku bisa terbang aku yakin bahwa aku akan aman. Toh aku juga bisa bertarung.
"Vani! Vaaaaaniiiii!" Aku berteriak ke kiri dan kanan, tanpa henti untuk menemukan dimana Vani.
Trik trik!
Aku merasakan hawa merinding di sekujur tubuhku, begitu mendengar suara ranting yang patah, dengan spontan aku langsung menoleh ke sumber suara itu.
"AW! Hei itu silau! Apa yang kau lakukan di sini?!" Vani muncul dengan kedua tangan yang memeluk buah-buahan. Begitu tau itu adalah Vani, aku langsung menghela nafas lega dan mematikan senternya.
"Dasar! Ini sudah malam! Kenapa kau malah masuk hutan?! Bagaimana jika kau diserang binatang buas?!" tanyaku sambil menyentil dahi Vani beberapa kali. Anak perempuan itu mengaduh kesakitan dan mulai membalas dengan menginjak kakiku.
NYUT!
"AWWW!" Aku berteriak nyaring sambil memegang jari kaki kananku.
"Itu hukuman karena kau cerewet! Aku sedang mencari buah! Dan kebetulan kau ada di sini!" jawab Vani dengan ekspresi yang kesal. Aku mengelus jari kakiku beberapa kali serta meniupnya, lalu barulah aku kembali berdiri.
"Tapi kau yang ke hutan tanpa mengajak siapa-siapa itu berbahaya tau, kau tidak punya kemampuan untuk berkelahi," ucapku sambil menghela nafas lelah. Vani langsung cemberut dan berjalan pergi meninggalkanku. Aku menatap punggung Vani yang kian menghilang, lalu menengok sekeliling.
"Ah, lebih baik aku ikuti saja dia."
***
POV: Ken
Aku masih duduk diam sambil terus menulis kata-kata yang tidak bisa aku teriakkan. Yah, tidak ada yang menyangka bahwa kisah cintaku akan berakhir seperti ini. Dan aku juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali diriku sendiri.
Ada begitu banyak korban di perang yang Boni ciptakan kali ini. Dan Civilian juga hanyalah salah satu korban dari tragedi ini. Dia juga adalah salah satu pahlawan yang gugur di perang ini.
Sebenarnya aku ingin segera meninggalkan kota ini, dan dengan segera melupakan semua kenangan yang terjadi di sini. Tapi Ares sudah membuat keputusan bahwa kita harus membantu para warga kota untuk setidaknya membuat pemukiman yang layak.
Untungnya berkat kemampuan Ares serta kerjasama yang baik para warga, dalam 3 hari ini sudah ada lebih dari 150 rumah yang sudah didirikan. Kalau tidak salah, tujuan kita adalah membangun 500 rumah. Yah, hanya masalah waktu sampai pembangunan sederhana ini akan segera selesai.
Trak!
"Akhhh siall! Kenapa jatuh?!"
Aku menatap ke arah Riot yang marah-marah karena kartu yang dia susun malah jatuh tertiup angin. Anak laki-laki berambut biru itu juga pasti mengalami masa yang menyakitkan sepertiku, atau bahkan lebih sakit dariku.
Tapi dia masih bisa tersenyum leluasa, berekspresi dengan bebas, dan dia juga berperan besar dalam perang kali ini. Sungguh, kalau bukan karena kekuatan teleportasi Riot, aku yakin kita pasti sudah kalah informasi dan kalah dalam penyelamatan.
Sedangkan aku ... ini gunanya kekuatanku apa sih? Aku memang bisa menyembuhkan tapi apa gunanya jika aku tidak bisa tepat waktu?!
Andai saja aku bisa lebih cepat, andai saja aku tidak terbutakan oleh nafsu semata saat itu.
Pasti ... ada puluhan nyawa yang bisa kuselamatkan bukan? Sekarang aku paham kenapa dokter tidak boleh melibatkan perasaan pribadi.
Selanjutnya ... tak'kan kubiarkan diriku terlena seperti ini.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!