Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Safa's memories (5)



"Aku ... mempunya alasan lain.".


POV: Boni


Aku bisa melihat raut wajahnya langsung menjadi sedih dan agak memucat. Mata kuningnya masih sama berkilaunya seperti dulu, rambut pirangnya juga masih sama indahnya seperti waktu itu.


"Alasan apa?" tanya Safa dengan nada yang sedih. Aku menaruh garpu serta sendok di sebelah piring makan, dan meminum seteguk air yang tadi kupesan.


"Aku ... masih belum cukup kuat untuk melindungimu saat itu. Jadi, aku memutuskan untuk mengakhiri kontak kita sementara." Aku menjawab dengan nada yang ragu-ragu. Aku yakin dia tidak percaya dengan omonganku sekarang, dan aku juga tau bahwa aku tidak bisa dipercaya, sekarang aku terlihat seperti orang yang mencari-cari alasan saja.


"Lalu? Kenapa sampai sekarang kau tidak menghubungiku?! Padahal aku ... masih terus menunggumu. Aku tidak pernah mengganti nomor ponselku, atau bahkan berpindah alamat rumah dalam 10 tahun ini!" Safa berbicara dengan nada yang kesal. Aku hanya diam tanpa bisa menjelaskan apapun.


Karena ... mana mungkin aku yang seorang pembunuh ini bisa mendapat kesempatan untuk berbicara?


Ya ... karena aku harus berhasil membunuh orangtuaku sendiri dalam beberapa tahun terakhir, barulah aku bisa mewarisi perusahaan mereka.


"..."


"Kenapa kau tidak menjawab?" Safa bertanya lagi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Aku masih diam lalu mencari tisu di saku celanaku. Tapi belum sempat aku memberikannya Safa sudah berdiri dan meninggalkan restoran ini.


Aku masih terdiam sendirian, sambil meremas tisu yang ada di genggamanku.


Bagaimana aku menjelaskan bahwa seluruh surat yang kukirimkan disita oleh ibuku? Bagaimana aku menjelaskan bahwa nomor ponselku diganti paksa oleh ayahku? Bagaimana aku menjelaskan ... jika pada akhirnya kau tidak mau mengerti?


Aku menghela nafas sejenak, lalu menyandarkan kepalaku di bahu kursi.


"Kelihatan konyol bukan? Maksudku penampilanku sekarang. Apakah sudah tidak ada cara untuk mengembalikannya?" gumam Boni pada seorang wanita dengan pakaian jas lengkap yang baru datang.


"Tidak, menurut saya anda sangat keren. Tapi mungkin ... sekarang hanya keren saja," jawab gadis itu dengan tatapannya yang datar.


"Civilian, siapkan mobil, ayo kita kembali ke perusahaan. Bilang pada Pak Hiro agar mengantarkan Safa pulang lalu berikan dia uang pensiun sekalian." Aku segera berdiri sambil memijat keningku. Civilian dengan cermat mencatat semua yang kukatakan dan langsung cekatan untuk menelepon Pak Hiro.


Aku ingin berbaikan dengan Safa, tapi apakah mungkin?


Tidak mungkin, sudah tidak ada tempat untuk kembali. Tujuanku hanya satu sekarang.


Menguasai dunia.


***


POV: Safa


Aku kini sedang duduk di dalam mobil yang dikendarai Pak Hiro. Sepanjang perjalanan, Pak Hiro banyak berbicara padaku. Mulai dari kesulitan yang dialami Boni saat dia pindah ke luar negeri, hingga rantai kekang yang diberikan oleh orangtuanya pada kehidupan pribadi Boni.


Astaga, harusnya aku tidak bertindak implusif seperti tadi. Kenapa aku langsung marah hanya karena hal sepele seperti tadi ... padahal ini pertama kalinya aku kembali bertemu Boni setelah sekian lama.


Dan aku juga baru tau bahwa dia mengalami banyak hal seperti itu.


"Nona Safa pasti paham bahwa Nona Boni adalah orang yang tidak terlalu pandai dalam bersosialisasi. Beliau adalah orang yang sangat kaku. Jarang sekali beliau mendapat teman yang mau mengajaknya main bersama saat masih sekolah ataupun kuliah dahulu." Pak Hiro lanjut lagi bercerita. Aku memperhatikan omongan Pak Hiro, hingga mataku menangkap objek raksasa yang berwarna cerah turun ke Bumi.


Apa ... itu?


Ting.


DUUUAAAARRRRR!


WHUSSS!


Ledakan yang begitu keras mulai terdengar, bersamaan dengan hembusan angin super dahsyat yang membuat mobil yang kami kendarai sampai terjungkal.


Kepalaku pusing ... Pak Hiro ... apa dia baik-baik saja?


"Pak ... Hiro?" Aku menatap sebuah darah yang mengalir dari kursi. Aku takut, tapi kakiku tidak bisa digerakkan. Tanganku bahkan terjepit diantara kursi-kursi ini. Aku mulai menutup mataku karena kepalaku yang makin pusing, hal selanjutnya yang kudengar adalah ... teriakan panik orang-orang.


***


Ugh ... sakit ... rasanya kepalaku masih sedikit berkunang-kunang. Ini ... dimana?


...


Aku langsung bergerak ke arah depan dan mulai menengok ke arah Pak Hiro.


Loh? Kenapa tubuhku bisa bergerak?


"Hah?


...


BADAN SIAPA INI?! KENAPA TANGANNYA KECIL SEKALI?!" Aku berteriak terkejut melihat tangan kecil yang ternyata adalah tanganku sendiri. Dengan cepat aku menoleh ke arah Pak Hiro.


Pak Hiro tidak berubah menjadi anak kecil, tapi ... dia sudah tidak bernyawa. Aku mencoba untuk tidak panik dan berusaha sekuat mungkin untuk keluar dari mobil.


Brak brak!


"Ukh! Tidak bisa dibuka!" Aku geram sambil terus menggedor-gedor pintu.


"Hei, apa kau butuh bantuan?" Aku terkesiap mendengar suara yang tiba-tiba ada entah darimana. Dengan perasan panik, aku menoleh ke kanan dan kiri.


"Aku di sini! Kenapa kau tidak bisa melihatku?!" Aku langsung menengok ke bawah.


Seekor tikus kotor.


"AAAAAAAAA!" Aku berteriak histeris sambil menutup mataku.


"A A A A JANGAN TERIAK! MAU DIBANTU KELUAR TIDAK!" Tikus itu ganti bertanya dengan marah. Aku mulai memberanikan diri untuk mengintip tikus tadi, dia masih duduk tenang di depanku, sambil menatap dengan mata hitamnya yang kecil.


"Bagaimana ... caramu membantuku?" tanyaku bingung dengan agak takut.


"Mungkin ini akan sedikit lama, tapi aku bisa menggerogoti bagian kunci mobil ini hingga habis," ucap tikus tadi. Aku langsung menyingkirkan tangan yang kugunakan menutup wajahku, dan mendekat ke arah tikus ini.


"Kalau begitu, tolong ya?" ucapku. Tikus itu segera memanjat dan mulai menggerogoti bagian kunci mobil. Sambil menunggu, aku duduk diam dan menatap sekeliling yang tampak kacau.


[NGING!]


NYUT!


Aku merasakan kepalaku yang tiba-tiba sakit, dan sebuah suara aneh mulai masuk ke kepalaku.


Suara ini menjelaskan dengan singkat dan jelas. Dunia apa ini, apa yang terjadi, apa itu infik, semuanya diringkas hanya dalam beberapa detik saja.


Apa? Dunia macam apa ini?! Jadi yang bertahan hidup hanya anak kecil saja!


"Hei! Apa yang terjadi?" Suara tikus itu menyadarkanku dari suara tadi. Aku langsung mencoba untuk mengatur nafas, dan menatap tikus itu.


Sepertinya ini benar. Apakah hal ini mungkin? Seorang manusia yang berbicara dengan tikus? Tubuhku juga sudah mengecil, dan Pak Hiro mati karena tidak bisa beradaptasi dengan gas ini.


Lantas ... bagaimana dengan yang lainnya? Yang tersisa di Bumi ini hanya 50% dari populasi asli manusia bukan?


Dan tunggu ... jika setiap orang punya kekuatan seperti ini ... bukankah INI MALAH JADI BAHAYA?!


MAKSUDKU AYOLAH! JABATAN DAN UANG TIDAK BISA LAGI DIGUNAKAN, SATU-SATUNYA YANG BISA DIGUNAKAN ADALAH ...


YANG TERKUATLAH YANG BISA BERDIRI DI PUNCAK!


Boni ... bagaimana keadaannya?! Apakah dia selamat?!


Aku mohon ... semoga dia selamat.


Dan aku mohon ... agar dia tidak salah jalur.


TBC.


Jangan lupa like ya guys!