
"Sejak kapan ada boneka dengan tinggi 700 meter itu?"
POV: Ares
Aku melihat ke arah chast di tangan kananku.
Dengan sisa chast sedikit ini, apa yang bisa kulakukan? Aku tidak bisa membuat senjata besar ataupun senjata luar biasa, jangankan membuat senjata, untuk membuat granat saja aku yakin hanya bisa untuk 10 granat. Lalu bagaimana ini?
Peperangan ini berjalan ke arah yang semakin merugikan. Meskipun aku sudah berusaha meminimalisirnya dengan berbagai persiapan, tapi ini akan sia-sia kalau persiapannya habis sebelum perang berakhir.
Di tengah perang yang intens ini, kira-kira siapa yang masuk punya sisa chast yang banyak ya?
Saat aku terdiam, aku tidak sadar bahwa boneka raksasa itu kini sudah ada di depan wajahku.
Deg.
Aku menatap ke arah mata hitamnya yang berukuran dua puluh kali lipat tinggi badanku.
"Woah ... ternyata kalau dilihat dari dekat menakutkan juga ya?" Aku menelan ludahku gugup dihadapan mata hitam yang luar biasa besar itu.
WHUNG!
Aku melihat boneka itu mengayunkan tangannya ke arah tengah gedung. Spontan aku langsung melompat turun dan terbang menjauh.
BRAAAKKKKK!
Gedung yang tadinya sudah tinggal setengah itu, langsung putus jadi dua.
WHUNG WHUNG WHUNG!
Belum selesai dengan menghancurkan gedung, boneka raksasa itu malah memutar badannya layaknya menari di tengah kota yang hancur ini.
DUAR DUAR DUAR!
Begitu banyak gedung-gedung serta bangunan yang runtuh terkena sapuan tangannya. Dan aku sendiri juga terseret ke kanan dan kiri, angin yang dihasilkan boneka ini juga sangat besar.
Em? Benar juga, sejak kapan kabutnya menghilang?
"ARES!"
DEG.
Suara ini ... Vani?
Aku langsung melihat ke arah bawah, mataku tertuju pada seorang gadis berambut coklat di bawah sana, mata merahnya menatapku dengan sorot mata yang khawatir.
"TUNGGU! JANGAN DI SANA! KAU BISA KEJATUHAN BANGUNAN!" teriakku sambil melesat terbang ke arahnya. Aku terbang secepat yang kubisa, berlomba dengan puing-puing gedung yang jatuh.
Sial! Tidak akan sempat!
CRING!
Aku membuat granat, lalu membuka segelnya dengan tangan kananku.
WHUNG!
Dengan segala kecepatan yang bisa kucapai, aku melemparkan granat itu dengan tangan kiriku ke arah puing-puing yang mengarah pada Vani.
DUAR!
Berhasil! Arah jatuhnya berubah!
Aku langsung mendarat di depan Vani.
"Hei! Harusnya kau berhati-hati! Bagaimana kalau aku telat?! Bagaimana kalau aku tidak sempat?!" ucapku dengan nada yang sedikit marah. Tapi anak di depanku ini malah tersenyum lega sambil menepuk-nepuk pundakku.
"Aku percaya padamu, karena itu aku tetap berlari ke arahmu," jawab Vani dengan senyumannya.
Sial, karena dia tersenyum aku jadi tidak bisa marah.
"Oh? Lalu untuk apa kau kemari?" tanyaku sambil membuat sebuah tali.
CRING!
"OH IYA! KITA DALAM KONDISI BURUK! BARUSAN AKU DAPAT KABAR BAHWA ELLY TERLUKA PARAH! BEGITU JUGA DENGAN RIOT DAN KEN YANG HAMPIR KEHABISAN CHASTNYA!" ucap Vani berteriak sambil memegangi kepalanya. Aku sudah menduga bahwa kita akan mulai kehabisan chast meskipun chast kita bisa terisi setiap harinya.
Tapi ... kenapa Ken bisa kehabisan chast?
Sudahlah, nanti saja aku urus itu.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanyaku pada Vani. Dia terdiam lalu menunjukkan punggung tangannya.
Setengah.
Dia masih punya setengah sisa chast.
Tunggu- setengah?! Tapi aku tidak merasakan hujan sama sekali loh?!
"Kenapa tinggal setengah?" tanyaku bingung.
"Oh ... apa kau ingat kabut tadi? Itu aku yang membuatnya. Karena itu ... dengan sisa setenga chast ini ... aku akan membuat boneka raksasa itu terbakar hangus!" ucap Vani serius. Aku terkejut bukan main, Vani mengalami perkembangan yang luar biasa.
"Kalau begitu ... jangan-jangan caramu membakar boneka raksasa itu adalah ..." Aku menatap Vani yang kini tersenyum miring.
"Tidak ada kain yang masih bersih setelah terkena halilintar."
Dia butuh faktor pendukung yang lebih besar lagi.
"Baiklah, bersiap-siaplah untuk memanggil halilintar! Aku akan membantunya agar lebih kuat!" ucapku sambil terbang ke atas lalu melambaikan tangan. Vani terlihat bingung tapi dia tidak membantah ataupun bertanya padaku, dia langsung berlari menjauh ke tempat lain, sedangkan aku mulai terbang mendekati boneka raksasa tadi.
CRING!
Apakah satu wadah minyak cukup? Sepertinya kurang deh ... lalu bagaimana ya? Dengan sisa chastku ... sepertinya hanya cukup untuk membuat sekitar 4 wadah saja.
Tidak apa-apa deh, 4 wadah saja.
CRING CRING CRING!
Aku bersiap untuk melemparkan ke empat wadah minyak ke arah boneka raksasa tadi.
SPLASH!
"Yap! Pas kena badannya!" ucapku senang.
Greek.
"Eh?" Boneka itu kembali menoleh padaku, menatapku dengan mata hitamnya.
Ah ... firasatku gawat.
WHUS!
"TUH KAN! KENAPA DIA MULAI MENGINCARKU LAGI?!" teriakku panik sambil terbang ke sana dan ke sini, mencoba menghindari serangan boneka raksasa itu.
Tidak! Sisa chastku tinggal berapa ya?! Haruskah aku menjatuhkan diri saja?! Apakah Vani masih lama?!
Aku menatap ke arah boneka itu yang siap untuk menghantamku, setelah pemikiran singkat, aku memutuskan ... untuk menjatuhkan diri ke tanah.
WHUSS!
Bersamaan dengan melayangnya pukulan boneka raksasa, aku terjun bebas ke permukaan tanah tanpa pengaman.
Grudrkkk!
Aku menatap ke arah langit yang mulai menghitam, angin yang berhembus pelan, dan suhu udara yang mulai menjadi lebih dingin. Vani sudah memanggil awan hitam, untuk persiapan mengeluarkan halilintar.
WHUNGG!
Tanah sudah semakin dekat, apakah aku harus terbang dari sini? Tapi ... aku baru ternyata terjun bebas memiliki rasa setenang ini.
Aku ingin menikmatinya lebih lama lagi.
JDERRR!
"ARES BODOH! APA KAU BERNIAT BUNUH DIRI?!"
DEG.
Fuut!
Aku terdiam mematung di udara, bersamaan dengan munculnya anak berambut biru yang muncul di belakangku.
Ya, Riot ... selalu datang tepat waktu.
Fuut!
JDARRRRRRRR!!
BLARR!!
Riot membawaku berteleportasi ke bawah sebuah teras apartemen yang tinggal sedikit. Bersamaan dengan itu, sebuah kilatan yang sangat besar dan terang, turun menghantam bumi.
Aku dan Riot menutup mata kami, cahayanya sangat terang bahkan hingga kami kesulitan melihat, bukan hanya itu, guncangan yang terjadi akibat turunnya halilintar itu seolah membuat kota ini terkena gempa yang mematikan.
Perlahan saat cahayanya mulai meredup, barulah aku membuka mata.
Bzzzzt.
Kilat raksasa itu mulai mengecil, lalu menghilang sepenuhnya. Meninggalkan seonggok boneka yang terbakar sambil berdiri.
"Oy."
Aku menoleh ke asal suara Riot.
PLETAK!
"AWW!" Tanpa peringatan, tiba-tiba Riot menjitak kepalaku. Aku langsung menunduk kesakitan, sambil sesekali mengusap kepalaku.
"Hei! Aku tau aku bodoh tapi jangan pukul aku!" Aku protes dengan nada kesal pada Riot.
Tapi ...
Riot malah sedang menangis.
TBC.
Jangan lupa like dan komennya ya guys! Biar aku makin semangat nulisnya:3