
..."Itu? Generator yang bisa meningkatkan arus listrik hingga 100 kali lipat!"...
POV: Ares
Vani berhasil! Dia bisa membawa lendir itu ke sini!
"Riot! Sekarang kita harus melakukan satu hal lagi!" ucapku sambil menatap Riot yang bergelantungan di tanganku. Begitu mendengar suaraku, dia segera mendongak menatapku.
"Apa itu?" tanya Riot dengan ekspresi bingung.
"Ayo kita tanamkan granat pada tubuh lebarnya itu!" ucapku lalu langsung melesat terbang. Riot yang awalnya rileks jadi langsung terperanjat karena terbang dengan cepat.
Aku menuju ke arah Vani, bisa kulihat dengan jelas ekspresinya yang seolah mengatakan 'apa yang mau kau lakukan?'. Aku hanya tersenyum lalu melesat melewatinya.
"Kau siap, Riot?" tanyaku lalu mulai membuat banyak granat.
Cring! Cring! Cring!
Granat itu langsung turun dan berjatuhan di atas lendir itu. Aku terus terbang dan mengitari lendir besar itu sambil menjatuhkan puluhan ... atau bahkan ratusan granat. Di sela-sela waktu, aku mengintip ke arah chast milikku.
Sebentar lagi adalah batasnya.
Fut.
"Loh ... ARES?! KITA JATUH?!" Riot berteriak panik lalu memeluk tubuhku. Ya, ini adalah alasan aku membawanya. Jika aku sudah tidak bisa terbang, dia bisa berteleportasi untuk memindahkan kita.
"Gunakan kekuatanmu dasar bodoh!" ucapku kesal sambil berusaha melepaskan pelukan Riot. Dia akhirnya sadar lalu segera menutup matanya.
Fuut!
Saat aku sadar, kita sudah ada di atap gedung di dekat lokasi rencana kita.
"Hampir saja ... tadi itu sudah satu meter di atasnya!" Riot berjongkok lemas sambil menundukkan wajahnya. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
"Eyy, tugasmu belum selesai. Cepat kau jemput Vani dan Ken, ini akan menjadi ledakan yang besar," ucapku sambil menatap kota yang mulai runtuh ini. Rasanya aneh saat melihat kota yang awalnya begitu indah dan rapi, berubah menjadi kelabu dan menyeramkan.
"Baiklah! Kau tunggu dulu di sini!" ucap Riot lalu dia berteleportasi.
Fuut!
Bruk!
Aku langsung jatuh terbaring. Baru kali ini aku merasa sangat lelah di tubuh kecil ini.
"Haha, masa kecil yang tidak bisa kurasakan ... justru kudapatkan seperti ini ya?" gumamku sambil tersenyum kecil.
DUAR!
Aku langsung duduk dengan cepat, mataku bisa melihat bahwa rencana listrik sudah dimulai. Lendir itu mulai meledak-ledak. Ya, air dan listrik. Itu adalah hal yang merugikan, karena air berperan sebagai isolator yang sangat baik. Ditambah dengan granat yang sudah aku taburkan di atas tubuh lendir itu, maka ledakan beruntun akan terjadi.
Fuut!
"Hampir saja!" ucap Riot dengan ekspresi yang pucat.
"Telat satu detik, kita sudah jadi manusia panggang!" geram Ken sambil menggoyang-goyangkan bahu Riot. Aku segera berbalik setelah mendengar suara mereka.
"Selamat! Kita berhasil!" ucapku sambil tersenyum lebar. Mataku kemudian melirik ke arah lendir yang mulai menghilang, menyisakan berbagai kerusakan di jalurnya.
"Apakah kita sudah berhasil membasmi seluruhnya?" tanya Vani dengan wajah yang penuh debu. Aku mengangguk pelan lalu langsung memeluk mereka bertiga.
"Kalian sudah beraksi dengan keren!" pujiku dengan senyuman.
"Yah tapi, kota ini jadi semakin hancur, sudah banyak gedung yang tidak berbentuk lagi," ucap Riot sambil menatap ke arah kota kesayangannya. Pasti ada rasa sedih, melihat kota tempatnya lahir jadi seperti antah-berantah.
***
POV: Author
"Woah~ mereka bahkan bisa mengalahkan slime ciptaanmu, Ron!" ucap seorang gadis kecil dengan mata berwarna hijau serta berambut biru langit. Dia memakai topi bundar serta jaket berwarna kuning.
"Aku tau, biarkan saja. Aku sedang sibuk dengan penelitian terakhirku!" balas Ron sambil terus berkutat dengan botol kimia. Gadis itu mendengus kesal lalu duduk di meja sebelah Ron. Sorot matanya terlihat riang tapi penuh dengan ambisi.
"Jadi, apakah aku boleh membereskan mereka?" tanya gadis itu pada akhirnya. Ron menghentikan kegiatannya sejenak, lalu menatap ragu ke arah gadis itu.
"Pastikanlah kau tidak mati. Akan sangat merepotkan kalau aku kehilanganmu," ucap Ron lalu dilanjut dengan helaan nafas. Gadis yang sudah mendapat izin Ron tadi, langsung kesenangan dan pergi ke arah pintu.
"Jangan khawatir. Aku ini sangat kuat."
***
POV: Ares
Sudah satu Minggu berlalu semenjak kejadian lendir itu. Rasanya sangat tenang dan damai, tidak ada keanehan yang tiba-tiba datang. Tapi, justru ketenangan ini memberi firasat buruk bagiku.
"Ares!" Vani tiba-tiba datang lalu mendorong punggungku. Aku yang sejak tadi sedang asik berdiri sambil melihat sungai, jadi kaget dan hampir saja jatuh ke sungai. Untung saja ada pagar pembatasnya.
"Astaga! Apa yang kau lakukan?! Aku hampir tercebur!" ucapku geram sambil masih berpegangan kuat pada pagar. Sementara orang yang kumarahi hanya tersenyum tidak jelas dan ikut berdiri di sebelahku.
"Ngomong-ngomong, dimana Ken dan Riot?" tanyaku mengganti topik. Vani melirikku tanpa menolehkan kepalanya.
"Mereka sedang berkeliling, entah apa yang mereka cari," ucap Vani sambil mengangkat kedua bahunya. Aku mengangguk paham lalu kembali menatap arus sungai.
Yah, apapun yang mereka lakukan, kuharap mereka baik-baik saja.
***
POV: Ken
Sial, kenapa aku harus ikut menemani anak ini? Ini sangat membuang-buang waktu. Apa yang sedang dia cari sih? Sejak tadi dia hanya mondar-mandir saja kok?
Aku sudah bertanya padanya beberapa kali, tapi dia selalu menjawab 'sabar dulu'. Aku sampai hafal dengan jawabannya. Ini sudah hari ke 3 dia mengajakku ke tempat yang tidak jelas.
"Ayolah, Riot! Sebenarnya apa yang kau cari?!" ucapku pasrah sambil duduk di bongkahan gedung yang hancur. Ya, kota ini sudah tidak lagi berbentuk. Karena lendir kemarin, meskipun dia tidak mencerna benda mati, tapi berat lendir itu sendiri pasti sudah melebihi 100 ton.
"Kemarin ... aku melihat ... ada yang aneh," ucap Riot dengan ekspresi gelisah. Aku yang mendengar perkataan Riot, jadi langsung terfokus pada pembicaraannya.
"Apa yang aneh?" tanyaku dengan serius.
"Aku ... melihat gadis kecil, dengan rambut biru langit, dan topi bundar, serta jaket kuning." Riot menjelaskan dengan rinci. Dia mengekspresikan bahwa gadis itu memiliki rambut lurus sebahu dengan model yang mengembang. Serta topi bundar dengan bunga di tepi kanannya.
"Hah? Apa kau tidak salah lihat? Bukankah ... harusnya tidak ada lagi yang ... hidup selain kau?" tanyaku dengan agak ragu, aku takut ini menyinggung perasaannya.
"Tidak apa-apa ... aku tau. Hanya saja aku berpikir, mungkin dia adalah anak yang baru saja selamat dari laboratorium," ucap Riot dengan senyuman yang agak sedih. Aku masih diam, mencoba memutuskan apa yang harus kulakukan sekarang.
Memang mungkin saja yang dia katakan hanyalah kebohongan, bisa saja itu halusinasi atau mungkin sesuatu yang lain. Tapi jika itu benar, maka dia bisa menjadi rekan kita untuk mengalahkan Ron.
Aku hanya diam menatap Riot, lalu berbalik dan menatap ke arah lain. Hingga mataku juga ikut melihat gadis itu.
"Riot, apa maksudmu ... gadis itu?" tanyaku sambil menunjuk ke arah gadis yang berlumuran darah.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!