Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Awal Rencana Ares! (4)



"Kami siap bergerak kapanpun perintah anda dikeluarkan."


POV: Ares


Ene dan Eni, mereka berdua adalah gadis kembar yang ditemukan oleh Vani. Salah satu buronan Boni karena mereka punya kekuatan yang merepotkan. Mereka bisa membuat kue kukis kering dengan kekuatan penyembuh yang luar biasa, mungkin lebih hebat dari kekuatan penyembuhan milik Ken.


Atas bujukan dari Vani, Ene serta Eni kemudian mengikutiku. Tentu saja aku tidak mungkin menyuruh mereka untuk bertarung, yang punya kekuatan penyembuh adalah Ene, sedangkan kekuatan Eni adalah menciptakan medan ilusi, membuat diri mereka tidak bisa dilihat siapapun.


Sejak ditemukannya Ene dan Eni, aku sudah meminta mereka membuat kue kering sebanyak yang Ene bisa, dan aku memberi mereka perintah untuk berkeliling, mengobati para warga yang terluka.


Mungkin Boni punya pasukan boneka yang tidak bisa merasakan sakit, tapi kami punya pasukan bernyawa yang punya otak dan kecerdasan.


"Harusnya ... Elly sudah berhasil membawa para warga keluar," gumamku sambil menutup mata. Aku mengambil satu lagi kue kering tapi tidak untuk aku makan, aku mengantonginya di saku celana pendekku lalu terbang ke langit.


"Lanjutkan pekerjaan kalian, aku harus memastikan sesuatu!" ucapku pada Ene dan Eni. Mereka berdua mengangguk, lalu mulai menghilang bagaikan angin. Aku segera melesat pergi ke arah Utara, karena aku juga tidak tau dimana Thea tinggal, jadi aku hanya bisa mencari secara acak.


Bip.


DOR DOR DOR DOR DOR.


Begitu mendengar suara tembakan, spontan aku menghentikan kekuatan terbangun dan memilih untuk terjun bebas ke tanah.


Sial! Apakah aku masuk ke zona milik Elvon?!


Aku menutup mataku dan membayangkan sebuah perisai.


CRING!


TRANG TRANG TRANG TRANG!


Walaupun perisai yang kubuat ini memang berat, tapi peluru biasa tidak akan mampu untuk menembusnya.


WHUNG!


TANGGG!


BRUGH!


Sebuah senapan laser berwarna merah menembakkan satu peluru. Akibatnya, perisaiku yang keras ini mungkin mampu menahan peluru, tapi tidak dengan tekanan, perisainya langsung terhempas bersamaan dengan tubuhku yang terangkat.


CRING!


Aku segera bangun lalu kembali berlari, sambil berlari, beberapa kali aku membuat beberapa granat mungil dan ketapel.


Kalau dengan kekuatan tangan mungilku, tidak mungkin granat ini bisa mengenai senjata Elvon. Membuat ketapel memang pilihan yang bagus!


KRRT!


WHUS!


Aku mulai membidik dan menembakkan satu buah granat yang telah kulepas segelnya. Granat itu melayang cepat ke arah senjata Elvon, lalu ...


DUAR!


"YUHU! BERHASIL!" teriakku senang saat melihat asap hitam.


DOR DOR DOR!


"AKU LUPA KALAU SENJATANYA TIDAK CUMA SATU!! AAAAA!" Aku langsung berlari lagi dan mencoba bersembunyi di balik sebuah kantor yang ditinggalkan.


"Dasar tukang adu domba, untung saja rencanamu ketauan sejak awal," ucapku sambil menatap ke arah senjata Elvon.


Elvon adalah salah satu bawahan langsung milik Boni. Karena itu aku merasa aneh saat dia meminta tolong pada kami untuk mengalahkan Boni, padahal dia adalah bawahannya.


Setelah Vani pergi hari itu, aku membereskan rumah sebentar lalu segera keluar. Tujuanku bukanlah mencari rekan atau mengalahkan seseorang, tapi untuk tahu rencana Elvon yang selanjutnya.


"Dia dengan bodohnya menggigit umpan yang kupasang," ucapku sambil tertawa renyah.


Sedikit yang kutahu tentang kekuatan Elvon. Dia adalah pengontrol jaringan informasi. Pantas saja dia bisa menemukan Riot dimanapun dan kapanpun itu, semua akses CCTV adalah miliknya, semua akses kamera atau bahkan soundsystems adalah miliknya.


Sejak aku tau bahwa hal itu adalah kekuatannya, langkah pertama yang kulakukan adalah menghancurkan pembangkit listrik di kota ini. Beruntung karena masih dalam pembangunan, kota ini tidak punya pembangkit listrik cadangan. Mungkin beberapa perusahaan yang memilikinya.


"Eng?" Aku menatap ke segerombol anjing di sampingku, awalnya memang sedikit kaget, tapi ternyata mereka tidak berniat untuk menyerangku. Kelihatannya mereka adalah anjing yang diperintah oleh Safa untuk membantuku.


"Kalian datang tepat waktu! Apa kalian bisa mengerti bahasaku?" Aku berjongkok sambil mengusap kepala anjing itu dengan lembut. Wajah yang awalnya menunjukkan permusuhan, perlahan berubah menjadi wajah yang bersahabat.


Syukurlah, sepertinya mereka bisa mengerti! Pasti ini alasan Safa mengirimiku anjing daripada hewan lain!


"Baiklah! Jadi begini ..."


***


WHUSS!


Aku langsung terbang dengan kecepatan tinggi, mengarah lurus ke arah senjata yang berada di sebuah gedung lantai 46. Aku sudah membuat kacamata agar mataku tidak terkena tekanan dari angin atau benda asing lainnya.


DOR DOR DOR DOR!


PRANG!


Aku melewati peluru pistol itu dengan cepat dan langsung memecahkan jendela untuk masuk.


Deg.


A-apa ini?


Mataku terpaku pada apa yang kulihat. Ruangan ini penuh dengan kabel dan cahaya biru yang aneh. Bukan hanya kabel, ada tabung dan beberapa alat eletronik yang tidak aku pahami.


BZZZT!


[Haha! Halo Ares, selamat datang di tower of Elvon! Ini adalah senjata khusus yang kusiapkan untukmu!]


"Namanya jelek banget ya? Kau sangat tidak kreatif!" ejekku sambil tersenyum remeh.


[Aku tidak butuh komentarmu! Tapi yang pasti! Ini adalah gedung pembalasan atas kau yang mengkhianatiku! Padahal aku sudah memberimu hampir 100 karung granat!]


Aku tertawa kecil sambil mengangkat kedua bahuku. Memang granat yang kuterima itu adalah pemberian dari Elvon, kalau aku yang membuat sendiri, bahkan seluruh chastku hanya akan cukup untuk 5 kantung setiap harinya.


[Gedung ini adalah akhirmu Ares! Mulai dari lantai 46 hingga lantai 1, akan ada berbagai macam jebakan!]


"Aneh, bukankah biasanya dimulai dari lantai satu dulu? Kenapa ini dimulai dari lantai atas?" tanyaku bingung.


[Kalau aku menaruhmu di lantai 1, kau akan merobohkan gedung ini! Dan aku yang ada di lantai 46 nanti akan ikut jatuh! Tapi kalau aku di lantai 1 dan kau di lantai 46, tak peduli apapun yang kau lakukan aku akan tetap aman! Hahahaha!]


"Ohhhh jadi kau itu pengecut yang tidak selamat karena jatuh dari gedung ya? Kau payah sekali," ucapku sambil berkacak pinggang. Bisa kudengar bahwa Elvon jadi semakin marah karena provokasi dariku.


[ARGHHH AWAS SAJA! NIKMATILAH SIKSAAN TIAP LANTAI!


LANTAI 46! LANTAI ILUSI!]


PSSSHH!


Setelah suara Elvon menghilang, sebuah gas aneh di ruangan ini mulai menyebar. Gas ini berasal dari banyaknya kabel yang kulihat tadi, entah gas macam apa ini, tapi sepertinya ini punya efek kuat untuk membuat orang berhalusinasi.


"Nah jadi, apa yang akan kulihat?" Aku duduk bersila dan menunggu apa yang akan muncul.


"A ... res?" Suara Vani muncul dengan nada yang kesakitan, aku bisa menduga bahwa yang mereka tampilkan adalah Vani yang terluka parah.


"Sudah kuduga, ini sangat klise." Aku menghela nafas kecewa dengan apa yang muncul. Setelah Vani, kemudian muncul Riot, Ken, dan beberapa rekan kerja kantorku dulu.


Tidak ada yang menarik.


"Ka ... kak?"


Deg.


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!