Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Sebenarnya, apa rencana Ares?!



POV: Vani


Aku duduk dengan perasaan gelisah sambil menatap keluar jendela. Kekacauan huru-hara yang begitu besar, kota yang damai kini telah menjadi puing-puing yang tersulut api. Di ruangan ini, masih hanya ada aku serta Ken, padahal harusnya masih ada Ares juga. Tapi sekarang, Ares sedang bekerja sama dengan Safa untuk menyelamatkan pendudukan kota yang tersisa.


Aku melirik ke arah Ken sejenak, melihatnya yang masih makan buah dengan lahap.


Badannya jadi lebih kurus dari saat terakhir kami bertemu, sepertinya dia bahkan tidak diberi infus selama pingsan 5 hari.


Aku kembali menatap ke luar jendela, rasanya sangat kesal karena aku tidak bisa melakukan apapun dengan kekuatanku sekarang. Padahal baik Ares, Safa, Riot ataupun Elly, mereka tengah bertarung di arena yang penuh teka-teki ini.


"Tapi aku masih sedikit bingung," ucap Ken. Aku melirik ke arahnya yang sibuk mengumpulkan kulit buah.


"Bingung apa lagi?" tanyaku dingin sambil mengetuk-ngetukkan jariku ke tepi jendela. Ken langsung gugup sambil berusaha menghindari pandangan mataku.


"Kenapa kau terlihat sangat marah?" tanya Ken sambil mengerucutkan bibirnya, hampir saja tanganku terpeleset hendak menamparnya lagi.


"Ga tau, diam saja kau." Aku membalikkan badanku dan kembali menatap ke luar jendela.


"Ayolah~ beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi~!" rengek Ken dengan wajah yang memerah. Aku menghela nafas pelan lalu segera berdiri dan berjalan ke arahnya.


"Aku mau bercerita, tapi tidak bisa sekarang," ucapku sambil menepuk bahu Ken. Dia menatapku dengan bingung, sorot matanya bertanya-tanya kenapa.


"Kita ketahuan."


DUARK!


Dinding rumah ini hancur berkeping-keping, debu serta pecahan dinding yang bahkan mengotori bajuku serta Ken. Dari balik dinding yang hancur itu, berdiri seorang gadis kecil yang tidak lagi asing bagiku, maupun Ken.


Civilian.


"Kembalikan ... Ken!" ucapnya dengan amarah yang tertahan. Dia menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan darah, matanya menatapku dengan nyalang dan penuh dendam.


Aku tertawa kecil lalu segera berdiri di depan Ken. Mata coklatnya bertatapan lurus denganku, semilir angin yang terasa menusuk kulit ini semakin lama semakin kencang.


"Kembalikan? Bukankah kau yang mencurinya dari kami? Oh, tidak. Ambil saja kalau kau mau, aku juga tidak peduli lagi pada Ken." Aku tersenyum remeh sambil menunjuk ke arah Ken. Aku tidak peduli bila Ken sakit hati sekarang, karena aku harus melakukannya sesuai dengan rencana Ares.


"Kau mendengar mereka kan, Ken? Kemarilah," ucap Civilian dengan nada yang tegas. Ken menggenggam rokku dengan pelan, tatapannya begitu ragu untuk pergi bersama Civilian.


"Bukankah kau yang duluan mencampakkan kami? Kenapa sekarang kau ragu? Kau tahu jelas aku adalah orang yang pendendam, jadi lebih baik kau tidak menguji amarahku sekali lagi," ucapku sambil menjambak rambut coklat milik Ken. Kudekatkan wajahnya ke arahku, lalu kubisikkan sesuatu padanya.


BRUK!


"Ambil saja Ken, aku tidak butuh." Aku melemparkan Ken ke depan Civilian, mataku fokus ke arah lutut Ken yang mengeluarkan darah karena kulempar. Civilian segera membantu Ken untuk berdiri, lalu menatapku dengan tajam.


"Tapi sayangnya, aku juga tidak bisa membiarkanmu hidup." Civilian mengarahkan telapak tangannya ke arahku. Dalam hitungan detik, aku bisa merasakan tubuhku terangkat oleh kuatnya arus angin.


"Kau memang benar-benar pengendali angin ya?" tanyaku dengan senyuman yang cerah. Civilian hanya berekspresi datar, dia mengayunkan tangannya ke arah kanan. Aku juga ikut terlempar ke arah kanan, yang ternyata dia berniat membenturkan tubuhku ke tembok.


BRUAK!


"UHUK!" Mataku menatap Civilian dengan samar-samar, bahkan Ken juga berusaha untuk melindungikubagar tidak terluka semakin parah.


Tidak masalah, setelah ini ... kuserahkan sisanya padamu, Ken.


Setelah itu pandanganku membuatmu, satu-satunya hal yang sempat kulihat ... adalah banyaknya kucing yang menyerbu Civilian.


***


POV: Ken


Aku panik saat melihat Vani dibenturkan ke tembok dengan begitu keras. Segera aku menarik lengan Civilian dengan cukup cepat agar dia menoleh ke arahku.


Hingga segerombol kucing muncul lalu dengan ganas mencakari dirinya.


"MWIAANG!"


"NGWAAUNG!"


"Apa-apaan mereka?! Ini pasti ulah Safa sialan itu! Ayo Ken! Kita harus lari!" Civilian menarik tanganku lalu membawaku terbang dengan hembusan angin. Kucing-kucing itu sudah tidak bisa mengejar Civilian walaupun mereka sampai naik ke atas atap.


Tapi ... kucingnya hanya menyerang Civilian saja, mereka tidak menyerangku. Jangan-jangan ... ini ada hubungannya dengan apa yang Vani beritahukan padaku?


Dari ketinggian, aku mengamati keadaan sekitar. Kota ini jadi sama kacaunya dengan Kota Oner. Walaupun memang tidak separah kota itu, tapi ini tetap saja sudah mengerikan. Aku melirik ke arah punggung Civilian di depanku, dia bahkan tidak peduli pada kesehatanku.


Kalau tidak salah ... tadi Vani bilang ... aku harus menemui Elly dulu, baru aku tau kisah lengkapnya, bukan? Tapi ... Elly sudah menghilang di depan mataku. Lalu kemana dia? Aku juga tidak punya petunjuk sama sekali tentang keberadaannya.


WUSH!


Aku melihat ke samping, ada Ares yang terbang sambil membawa sebuah piring besar di punggungnya.


Tunggu, memangnya itu piring? Bukankah itu lebih mirip ... perisai? DAN KENAPA DIA MALAH TERBANG KE ARAH SINI, APA RENCANANYA?!


"HAHAHAHAHA! KETEMU KAU!" Aku tersentak dan langsung mendongak ke arah atas. Seorang wanita dengan rambut coklat kemerahan yang kukenal, sedang terjun bebas ke arahku dan Civilian. Dia adalah Thea.


Aku menatap dengan cemas ke arah Ares, bisa kulihat bahwa dia sedang bersiap untuk melemparkan perisainya ke arahku. Aku langsung kelabakan dan memberi isyarat agar Ares tidak melemparkan perisainya.


WHUNG!


Sial, dia tidak peka.


Perisai itu terbang menyamping dengan cepat ke arahku, begitu juga dengan Thea yang sudah bersiap untuk menyentuhku. Civilian kelihatannya tidak sadar, entah apa yang membuatnya begitu banyak pikiran.


Aku juga tidak bisa diam saja!


BLAR!


Aku mengeluarkan kekuatanku dengan segenap usaha, kobaran api hijau di kedua tanganku sudah membara. Walaupun ini memang tidak berefek pada benda mati, setidaknya ini bisa mengobati tanganku secara langsung saat menerima hantaman perisai Ares.


Perisainya sudah dekat, siap ... OKE SEKARANG!


BUAGH! KRAK!


Aku bisa merasakan jariku yang patah dengan renyah seperti kulit ayam goreng.


"UAGHH!"


Wush!


Aku membuang perisai itu ke bawah, dan tanganku sudah langsung sembuh. Tapi saat aku menatap ke arah atas, tangan Thea sudah berada di depan wajahku.


"Ti-tidak." Mataku melirik ke arah Ares yang tersenyum lembut. Dalam hati, aku bertanya-tanya apa maksud senyumannya itu.


Ah sial ... aku sudah terlambat.


CRING!


TBC.


Jangan lupa like dan komennya ya guys!