Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
3 Days After.



POV: Ares


Aku sedang duduk melamun sambil melihat arus sungai. Sudah 3 hari berlalu sejak kita mengalahkan The Ants, salah satu hasil penelitian Ron. Mataku menatap hampa pada arus sungai yang tenang, sinar matahari yang redup dan angin yang berhembus pelan, membawa perasaan aneh di hatiku.


"Rasanya 3 hari ini sangat tenang, sampai aku terhanyut dalam ketenangan ini," gumamku pelan.


"ARES! SUDAH BERAPA IKAN YANG KAU DAPATKAN?" Teriakan Ken segera menyadarkanku dari lamunan.


Benar ... aku ke sini untuk memancing ikan, kenapa aku malah melamun?


"Belum Ken! Maaf aku tadi melamun!" ucapku pada Ken dengan sedikit berteriak. Ken berada cukup jauh dariku, kami berdua sama-sama memancing untuk makan. Sebenarnya, semenjak hari masuknya Riot ke dalam tim, kami sepakat untuk bergantian dalam mencari makan. Aku pergi dengan Ken hari ini, sedangkan besok adalah waktunya Vani dan Riot yang mencari makanan.


"Dasar! Tapi, apa yang kau lamunkan?" tanya Ken lagi. Aku melirik ke arah Ken lalu tersenyum simpul.


"Tidak apa-apa, aku hanya kagum kita bisa bertahan hidup sampai sekarang!" ucapku bohong. Ken menghela nafasnya lalu kembali fokus memancing. Aku segera mengambil kain pancing di sampingku dan memasangkan cacing yang kucari di kailnya sebagai umpan.


Clup!


Sekarang aku dan Ken sama-sama diam, karena jika kami terus berbicara, sudah pasti tidak ada ikan yang mendekat. Karena terus memperhatikan kail pancingku, aku jadi mengantuk dan beberapa kali hampir tertidur. Perasaan melihat air di sungai yang mengalir itu sangat aneh dan menyenangkan. Rasanya seperti kecanduan dan mengantuk.


Deg.


Kailku bergerak!


Dengan cepat aku menarik pancingku dan mulai mengangkatnya.


Splash!


"Yah ... ikan yang hampir mati lagi ... kenapa sejak kemarin banyak ikan yang perutnya sudah berlubang?" tanyaku pelan. Perutnya seperti sudah digigit binatang lain, atau mungkin ada parasit?


"Ikan rusak lagi?" tanya Ken. Aku mengangguk, meskipun ikan ini sudah berlubang, tapi dia masih hidup. Aku segera menaruhnya di wadah yang cukup besar untuk dimasak nanti.


"Kemarin Vani dan Riot juga mendapat ikan yang seperti ini, aku tidak tau apakah ada predator di sungai ini?" ucap Ken lagi. Aku juga jadi ikut berpikir. Seolah semua ikan di sungai ini sudah rusak dan di badan mereka banyak lubangnya.


"Haruskah kita pindah tempat memancing?" tanyaku pada Ken. Dia terlihat berpikir sejenak.


"Benar juga, sepertinya kita harus pindah tempat untuk memancing!" Ken segera berdiri dan membereskan peralatan memancingnya. Aku juga ikut membereskan peralatanku dan membawa satu ikan yang berhasil kutangkap tadi.


"Oh, kau tadi taruh mobilnya di mana?" tanya Ken. Aku terdiam, kita memang berangkat dengan mobil yang aku ciptakan dua hari yang lalu. Karena semua mobil yang tersisa di dunia hanya ada ukuran untuk orang dewasa.


Tapi aku yakin tadi memarkirkannya di antara dua pohon beringin itu kok?! Kenapa sekarang tidak ada?!


"Tadi aku parkir di sana ... kenapa sekarang tidak ada?" tanyaku pada Ken dengan ekspresi bingung. Ken segera menaruh alat memancingnya lalu menepuk pundakku.


"Kau tunggu di sini, aku akan mencarinya. Mungkin kau lupa untuk mengunci rem tangannya, jadi mobilnya terus berjalan mengikuti arah tanah," ucap Ken.


Rem tangan? Apa itu? Ini alasan aku tidak mau belajar mobil dan lebih suka naik kendaraan umum. Bahkan jika terpaksa aku lebih memilih jalan kaki.


Tapi Ken memaksa agar aku belajar naik mobil, katanya biar bisa gantian menyetir. Memang sih, kasian juga Ken karena selama ini hanya dia yang menyetir mobil.


Ken sudah berjalan cukup jauh, hingga mataku sudah tidak bisa melihat punggungnya lagi karena terhalang oleh pepohonan. Aku menaruh alat pancingku di samping alat milik Ken.


Ahh, duduk di bawah pepohonan yang rimbun sambil menikmati hembusan angin. Jujur, taman di Kota Oner ini termasuk salah satu taman yang indah menurutku. Rasanya bersih dan nyaman.


SPLASH!


BYUR!


Aku masih menatap ikan itu dengan tajam, hingga mataku melihat sebuah lendir berwarna merah yang menempel di luka si ikan.


"Hah? Apa ini?" ucapku. Karena penasaran, aku mencelupkan tanganku ke dalam air, hendak menyentuh lendir merah itu.


Apakah ini darah ikan yang sudah membeku?


Srut!


Tiba-tiba lendir merah itu seperti merespon tanganku. Dengan sigap aku mengeluarkan tanganku dari dalam air. Jantungku berdetak lebih cepat karena kaget oleh situasi ini.


A-apa? Barusan lendir itu bergerak ke tanganku, kan?


Apa lendir itu hidup?


Jantungku masih berpacu dengan cepat. Dalam detik berikutnya, aku baru sadar bahwa si ikan sudah mati. Dia tergeletak tak berdaya di dasar wadah. Sebaliknya, justru lendir itu terlihat semakin agresif dan semakin menyelimuti bangkai ikan dengan cepat.


Tinn!


Aku menoleh, ternyata Ken sudah menemukan mobilnya. Dia menatapku dengan bingung lalu segera turun dari mobil.


"Ada apa?" tanyanya. Aku menelan ludahku dengan gugup. Mataku melirik ke arah si ikan.


"Coba kau sentuh," ucapku pada Ken. Dia segera berjalan mendekati wadah ikan lalu memperhatikannya beberapa detik.


"Ini sudah mati?" tanya Ken. Aku mengangguk, Ken jadi terlihat sedikit ragu untuk menyentuhnya. Tapi pada akhirnya dia tetap memasukkan tangannya ke dalam air.


BYUR!


"APA?! KENAPA MERAH-MERAH ITU BERGERAK?!" Ken terkejut hingga jatuh terduduk. Wajahnya jelas terlihat ketakutan dan ada ekspresi cemas di sana.


"Tuh kan! Sebenarnya ini apa?" tanyaku lagi. Ken segera berdiri dan membersihkan kotoran di celananya. Dia berlari ke mobil dan mengeluarkan sebuah karung.


"Lebih baik kita tutup rapat-rapat. Nanti kita bawa pada Vani dan Riot. Mungkin saja Riot tau sesuatu," ucap Ken sambil membungkus wadah itu dengan karung tadi. Aku berdiri dan membantu mengikat karungnya aga air di dalamnya tidak bocor.


Kruyyk.


"Aku ... sudah lapar ...," ucapku sambil menutup wajah karena malu.


Kenapa perutku tidak bisa diajak kerja sama?!


Ken tertawa kecil saat melihat tingkahku, dia mengelus pucuk kepalaku pelan sambil membereskan alat pancing.


"Kita berangkat ke tempat lain dulu untuk memancing, tentang ikan ini kita bicarakan nanti saja!" ucap Ken dengan senyum lebar. Aku mengangguk kecil dan mulai menunjukkan wajahku. Ken sudah memasukkan semua alat pancing dan wadah ikan tadi kedalam bagasi mobil.


"Ayo masuk!" ucap Ken lalu duduk di kursi kemudi. Aku membuka pintu yang berada di kursi samping kemudi, tepat di sebelah Ken.


Sepanjang perjalanan, aku dan Ken tidak berbicara. Kami hanya fokus pada pikiran kami masing-masing.


Dan tentu saja, yang paling mengganggu pikiran kami.


...Lendir merah apa itu? ...


TBC.


JANGAN LUPA LIKENYA YA GUYS! MAAF BARU UPDATE!