Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Apa-apaan lendir itu?!



...Lendir merah apa itu?...


POV: Ares


"Bagaimana jika kita memancing di sini?" tanya Ken saat kami berhenti di sebuah sungai. Lokasi ini berada di pinggir kota. Aku segera turun dan melihat keadaan sekitar.


Di sini masih sangat asri, dan benar-benar tidak ada kerusakan sedikitpun. Apakah Ron belum menjamah tempat ini? Yah, tapi syukurlah kalau begitu. Ini bisa jadi salah satu referensi tempat untuk markas selanjutnya.


"Di sini boleh juga! Rasanya tempat ini belum pernah dikunjungi semenjak roket itu meluncur," ucapku sambil mengambil sampah plastik yang kupijak. Meskipun dunia ini sudah berubah, tapi jejak kehidupan dahulu masih ada. Seperti sampah plastik, makanan cepat saji yang sudah busuk, dan beberapa pakaian yang kotor.


"Ini alat pancingmu! Aku akan memancing di sebelah sana," ucap Ken sambil memberikan alat pancing milikku, dia kemudian menunjuk ke sebelah barat, dimana ada rumah tua di sana. Sepertinya Ken akan memancing di dekat situ.


"Baiklah! Aku akan memancing di sekitar sini!" ucapku lalu duduk di tepi sungai. Ken segera berjalan pergi, kini hanya kesunyian yang menemani kami.


Plung!


Aku melemparkan kail pancingku lalu duduk termenung sambil menunggu ada ikan yang menggigitnya. Ini sudah hampir tengah hari, dan kami belum mendapat ikan satupun sejak pagi. Mungkin karena kami terlalu menghabiskan waktu di sungai yang sebelumnya.


Clik!


Aku melihat kail pancingku yang bergerak ke sana dan kemari. Dengan cekatan aku mulai menariknya, hingga seekor ikan terbang ke arahku sambil menggigit kail.


"Aku dapat satu!" ucapku senang. Aku mulai melepaskan kail yang ikan itu makan. Sembari melepaskan kailnya, tanganku menelusuri bagian tubuh ikan itu.


Syukurlah, ikan ini masih sehat. Aku tidak menemukan adanya cacat di bagian tubuhnya. Dan lagi, ukurannya termasuk besar! Mungkin 5 atau 6 ekor bisa digunakan sampai makan malam nanti!


Aku kemudian lanjut memancing, seperti aku yang baru saja mendapat ikan, Ken juga sudah mendapat ikan dengan ukuran yang sama besarnya. Berarti setiap orang hanya perlu menangkap 3 ikan saja.


3 jam kami masih memancing, hingga akhirnya sudah mendapat 6 ikan. Aku segera membereskan peralatan memancingku dan menaruhnya di mobil.


Brak!


"Hah? Suara apa itu?" gumamku saat mendengar suara dari bagasi mobil. Aku terdiam sejenak, mengingat-ingat apa yang Ken taruh di sana.


"Jangan-jangan ikan yang tadi?" ucapku curiga. Aku akhirnya membuka bagasi mobil, lalu mengambil wadah yang tertutup karung. Tanganku sedikit gemetar saat berusaha membukanya, rasanya sedikit menakutkan.


Deg.


"Ikannya ... sudah habis," ucapku pelan. Habis, benar-benar tidak tersisa apapun di sana. Sepertinya lendir merah ini yang memakan ikan itu secara utuh. Dan ukurannya juga menjadi lebih besar dari sebelumnya.


"Heh, bahkan lendir ini juga mulai bisa merespon dari jarak sejauh ini."


Aku bahkan tidak memasukkan tanganku ke dalam air, tapi lendir ini sudah bergerak ke arahku. Dengan cepat aku segera menutup wadah itu dengan kain lagi. Lalu mengikatnya rapat-rapat.


Brak!


"Kau diam saja di situ!" Aku melemparkan wadah itu kembali ke dalam bagasi lalu menutupnya.


"Ada apa?" tanya Ken sambil membawa peralatan memancingnya. Aku menoleh ke arah Ken, sembari tangan kananku menunjuk bagasi mobil.


"Lendir merah tadi, sepertinya itu karnivora? Ikannya sudah habis tidak bersisa," jelasku pada Ken. Ken tampak terkejut, saat dia hendak berlari ke arah bagasi, tiba-tiba ada gempa yang mengguncang kami.


GRAAK! GRAAK! GRAAAK!


"TUNGGU! APA-APAAN INI?!" teriakku sambil berlutut, mencoba menyeimbangkan diri. Sementara Ken sudah seperti berdansa sambil membawa peralatan memancingnya.


Sial ... aku tau ini situasi yang serius. Tapi begitu melihat Ken, aku tidak tahan dengan humorku.


Alhasil aku jadi diam saja berusaha menahan tawa, hingga seluruh badanku ikut gemetar.


Ssr.


"Sudah ... berhenti?" tanya Ken dengan ekspresi pusing. Aku menarik nafas dalam, lalu segera melihat sekeliling.


"Sepertinya sudah, syukurlah gempanya tidak kuat," ucapku lega. Aku segera berdiri lalu masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Ken yang menaruh peralatan memancingnya beserta ikan hasil tangkapannya di kursi penumpang.


Setelah itu baru Ken naik ke kursi kemudi. Awalnya baik-baik saja, hingga aku menyadari sesuatu.


"Ken ..."


"Sejak kapan sungainya berwarna merah?" tanyaku dengan ekspresi ketakutan. Ken yang mendengar perkataanku, dengan sigap langsung turun dari mobil dan berlari ke tepi sungai.


Aku juga turun dan berlari mengikutinya. Kupikir ini hanya salah lihat, mana mungkin air yang mengalir ini jadi merah dalam sekejap? Tapi ternyata, ini benar-benar menjadi warna merah.


Cplak! Cplak! Cplak!


Ikan-ikan itu melompat-lompat seolah berusaha keluar dari sungai.


"Ini ... seperti lendir yang kita simpan di bagasi," ucap Ken. Saat itu aku masih sedikit syok, tapi aku masih bisa berpikir dengan waras.


"Ayo! Kita harus segera kembali!" teriakku sambil menarik lengan Ken agar kembali ke mobil.


Deg.


Langkahku terhenti, bagian dalam mobilku sudah dipenuhi oleh lendir merah itu.


"Sial! Ini pasti gara-gara gempa tadi! Lendir itu berhasil keluar lalu memakan ikan tangkapan kita!" kesalku sambil menjambak rambut.


CTAK!


Ken memukul dahiku lalu segera menarik lenganku.


"KITA HARUS LARI BODOH! LENDIR ITU SUDAH NAIK KE DARATAN!" ucap Ken sambil menunjuk ke tepi sungai.


UGH! APA-APAAN ITU?! KENAPA BENDA MENJIJIKKAN ITU HIDUP SIH?! BENTUKNYA SEPERTI INGUS ANAK USIA 3 TAHUN! TAPI KENAPA WARNANYA MERAH?!


"Sepertinya itu salah satu hasil penelitian Ron," ucap Ken sambil tetap berlari. Aku mengernyitkan dahiku, apakah benar itu milik Ron?


Ah sudahlah, aku lelah juga jika harus berlari. Aku melirik ke arah chast di tangan kananku, masih kosong. Dengan cepat aku membayangkan sebuah sekuter mini. Tapi mungkin dengan tambahan panjang agar bisa dinaiki 2 orang?


Cring!


"... MANA BISA KITA NAIK INI BODOH?!" geram Ken sambil berusaha menjitak kepalaku lagi. Tapi aku segera menghindar agar tidak terkena.


"YA KAN MUNGKIN SAJA KITA BISA NAIK INI BERSAMA?! AKU SUDAH MEMBAYANGKANNYA AGAK PANJANG KOK!" belaku pada diri sendiri.


Um, mungkin memang benar. Mana bisa kita naik sekuter dengan panjang 1,5 meter? AISH KAU INI BODOH SEKALI ARES!


"BUANG SAJA!" kesalku lalu melemparkan sekuter itu ke belakang.


GLUP!


Dengan cepat lendir itu menelan sekuternya, tapi tidak bisa dicerna. Berarti benar bahwa lendir itu hanya bisa memangsa makhluk hidup.


"Oh?! Aku ada ide!" ucapku.


Aku mulai membayangkan sebuah keranjang belanja yang cukup besar.


Cring!


"Untuk apa lagi ini? sialan!" kesal Ken. Aku mengabaikan umpatannya lalu mulai menggendong Ken agar masuk ke dalam keranjang belanja beroda itu.


"Nah, siap Ken?" tanyaku dengan senyum miring. Ken yang seolah paham pemikiranku, wajahnya langsung berubah menjadi pucat.


"T-tunggu ... jangan bilang-," ucapan Ken terpotong. Karena aku langsung mendorong keranjang itu dengan cepat.


"MELUNCUR! WIIIY!" teriakku dengan senang.


"ARES BODOHHHH! KITA AKAN MENABRAK!! AAAAAAA!" Sementara Ken berteriak dengan wajah pucat pasi.


..."KITA AKAN KEMANA INI?!"...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!