
..."Baiklah. Riot Valvera, mau ikut kami?"....
POV: Ares
Aku duduk sambil tersenyum ke arah Riot. Mata emasku menatap lurus ke arah mata biru lautnya yang berkaca-kaca. Bagaikan tau suasana langit malam yang terang, angin dingin berhembus lembut menerpa kami.
"Ikut ... kalian?" tanya Riot dengan ragu-ragu. Aku mengangguk pelan, sambil menopang badanku dengan lutut, aku berdiri lalu berjalan ke arahnya.
"Kami tidak bisa tinggal di sini, karena kami harus pergi mencari seseorang. Dan juga ... kota ini sudah bukan tempat yang layak untuk ditinggali," ucapku pada Riot sambil menunjukkan keadaan sekeliling.
"Tapi ... aku tidak tega ... meninggalkan tempat ini. Di sini, adalah satu-satunya tempat yang pernah kuhabiskan bersama dengan keluargaku," ucap Riot sedih. Aku paham dengan perasaannya, perasaan sedih karena kehilangan orang yang berharga. Perasaan kehilangan saat meninggalkan tempat yang penuh kenangan.
"Kau bisa kembali lagi ke sini, saat dunia sudah normal. Karena itulah tujuan kami." Aku menepuk kedua pundak Riot dengan lembut. Dia memejamkan matanya sejenak, memikirkan jawaban apa yang hendak dia lontarkan.
"Baiklah ... lagipula ibuku sudah berkata bahwa dia menitipkanku pada kalian. Aku juga akan membantumu, Ares!" Riot bersemangat lagi, meskipun masih ada bekas air mata yang belum menetes. Setidaknya dia telah berusaha untuk melangkah maju.
"Tapi ... kita perginya besok saja."
BRUK!
Aku langsung terkapar di aspal. Seluruh tubuhku baru terasa nyeri sekarang.
Ugh, kalau dipikir memang benar juga. Tubuh anak usia 12 tahun, dipaksa terbang kesana kemari, terlempar, terbanting, nabrak dinding. Untung saja aku masih hidup. Karena pertarungannya sudah selesai, rasa lelah dan sakitnya baru terasa sekarang.
Bruk!
Aku menatap ke arah Riot yang membaringkan dirinya di sampingku. Kami sama-sama berbaring sambil menatap langit yang dipenuhi bintang.
Tentu saja dengan dua jasad di samping kami. Sejujurnya aku sedikit takut, bagaimana jika mereka bangun dan jadi zombie.
"Aku ... mengantuk, aku tidur duluan ya?" Riot langsung memejamkan matanya, tertidur pulas di sampingku. Tak lama setelahnya, sepertinya aku juga akan tertidur. Karena mataku saja sudah sangat berat rasanya.
***
"...res!"
"Ar..."
"Ares!"
"ARES!"
DEG!
"ADA APA?!" teriakku dengan cepat. Rasanya kepalaku berdenyut nyeri karena bangun secara tiba-tiba. Mataku langsung menoleh ke arah anak yang memanggilku.
Ternyata dia adalah Vani.
Loh? Vani?
"VANI? KAU SUDAH SEMBUH?!" teriakku lagi. Dia sudah duduk di sampingku, dengan tubuh yang terbungkus oleh perban. Matanya masih terlihat lelah dan menyimpan rasa sakit. Wajar saja, luka selebar itu di punggung, pasti akan menimbulkan bekas nantinya.
"Ngomong-ngomong, sekarang masih jam berapa?" tanyaku bingung. Aku masih tidur di tempat yang sama, tapi Riot dan kedua jasad tadi telah menghilang. Masalahnya adalah, langit yang masih gelap seolah matahari tidak pernah terbit.
"Kau baru bangun saat matahari sudah tenggelam," jelas Vani yang membuatku shock berat.
"Untung saja kau masih hidup, malah tadi Ken pikir kau sudah mati dan hendak menguburmu bersama dua jasad tadi," jelas Vani lagi yang membuatku semakin shock.
"Kalian sangat jahat! Untung saja belum jadi dikubur!" ucapku geram sambil berusaha untuk berdiri. Vani ikut membantuku berdiri dengan memapahku. Meskipun aku bisa melihat dari cara bergeraknya yang kaku, karena luka punggung sebesar itu tidak mungkin tidak sakit.
Bayangkan saja, lukanya itu mirip seperti goresan pisau yang cukup dalam, tapi dimulai dari belakang leher hingga pinggang. Aku sangat bersyukur bahwa Vani masih hidup sekarang.
"Sudah, aku bisa jalan sendiri," ucapku sambil melepaskan diri dari Vani.
"Apa kau tidak nyaman kupapah?" tanya Vani.
"Bukan begitu, aku tau punggungmu masih sakit. Kelihatan dari cara jalanmu yang kaku," jelasku sambil tersenyum saat menatap Vani. Akhirnya dia mengalah dan membiarkanku berjalan sendiri.
Sepanjang jalan, kami hanya diam. Tidak seperti biasanya karena kami selalu banyak omong. Karena aku juga tidak dalam mood yang bagus untuk mengobrol.
"Maaf aku pingsan duluan, saat itu aku sangat panik karena Ken dalam bahaya," ucap Vani tiba-tiba yang membuat suasana ini jadi semakin canggung. Aku menghela nafasku sejenak, lalu berbalik dan menatap Vani.
"Tidak ada yang menyalahkanmu. Dan malah banyak yang merasa terbantu karena kekuatanmu. Tapi aku harap, selanjutnya kau tidak sembrono dalam hal ini," ucapku dengan agak ketus di akhir kalimat. Aku hanya tidak suka melihat rekanku mengorbankan dirinya sendiri, hingga terluka separah ini.
"Maaf ... harusnya aku bisa berpikir dengan tenang," maaf Vani lagi. Aku hanya bergumam sebagai jawaban, lalu kembali berjalan maju.
"Aku tidak menyangka, bahwa dosenku punya kenangan yang buruk seperti itu," ucap Vani lagi. Aku mengernyitkan keningku, bagaimana Vani bisa tau? Bukankah saat itu dia masih pingsan?
"Apa Riot yang menceritakannya?" tanyaku cepat. Vani menganggukkan kepalanya, matanya menatap ke arah bulan yang baru saja terbit.
"Sejujurnya aku tau bahwa aku tidak berhak menilai kehidupan seseorang. Tapi jika aku harus menilai dengan prinsipku, maka aku akan mengatakan bahwa yang Ron lakukan itu salah," ucapku lagi, Vani hanya diam dan mendengarkan perkataanku.
"Bahkan sampai saat terakhirnya, Ron tidak meminta maaf pada anak ya bukan?" ucapku lagi. Saat aku mengingat momen itu, darahku jadi terasa panas. Aku tidak puas hanya dengan kematian Ron yang biasa saja.
"Apa? Serius?" tanya Vani dengan tatapan tidak percaya.
"Padahal tadi saat kainnya dibuka, Ron memeluk jasad anaknya sambil tersenyum loh?".
DEG.
"A-apa?" tanyaku ganti tidak percaya. Anak iblis sepertinya?
"Saat aku dan Ken membuka kainnya, mereka berpelukan dengan erat. Dengan wajah yang bahagia walaupun ada air mata," ucap Vani lagi. Aku hanya diam dan tertegun mendengar ucapannya. Kenapa Ron berubah di saat terakhirnya?
"Sayang sekali aku tidak melihatnya, padahal aku penasaran seperti apa wajah iblis itu saat menunjukkan rasa cinta," ucapku masih dengan nada kesal. Vani hanya tertawa kecil mendengar kekesalanku ini. Setelah itu, akhirnya kami sampai di tempat Riot dan Ken yang baru saja mengubur Ron dan Hunt.
Jasad City sudah hancur lebur, tidak bisa dicari. Begitu juga dengan jasad Draw, dia berubah jadi abu yang tertiup angin.
"Ares! Vani!" teriak Riot sambil berlari ke arah kami. Begitu juga dengan Ken yang berjalan cepat. Kami akhirnya berkumpul lagi tanpa konflik kali ini.
Akhir cerita di kota ini memberi kesan baru pada kami. Tentang apa itu cinta keluarga, dan seperti apa cinta mengubah manusia.
[Seperti yang ayahku bilang, tidak ada hal baik jika kau mengenal cinta. Hati-hatilah, Ares.]
DEG!
Suara Ron muncul di dalam kepalaku.
KENAPA AKU JADI MIRIP ANAK MATA BATIN SIH?!
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!