Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Hari yang damai.



POV: Riot


"Riot!"


"Riot!"


Deg.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ares sambil berlari ke arahku. Aku segera mengusap air mataku dan menepuk dahiku pelan.


Apa yang terjadi?


Sepertinya aku melamun untuk sesaat.


"Aku baik-baik saja, hanya teringat masa lalu," ucapku sambil berusaha tersenyum. Ares menepuk pundakku beberapa kali, matanya menatap dengan tegas ke arahku.


"Kalau ... kau membutuhkan tempat untuk bersandar, kau boleh bersandar pada kami," ucap Ares sambil tetap menatapku. Hatiku sedikit goyah, bolehkah aku mempercayainya?


"Kita semua punya kisah di balik dunia ini, baik itu menyenangkan maupun tidak. Tapi satu hal yang pasti.


Kita tidak bisa mengubah yang sudah terjadi." Vani datang menimpali. Tangannya memegang ujung jari telunjuk kananku, sembari mengusapnya pelan, sorot matanya terlihat lembut dan hangat.


Mirip seperti Ibu.


"Jangan khawatir, tidak ada yang berniat untuk menyerah di sini." Ken datang lalu merangkulku dari samping. Aku jadi menyadari satu hal.


Orang baik itu benar-benar ada.


Seperti orang tuaku, kenapa aku bisa melupakannya?


"Tentang pertanyaan kalian sebelumnya ... sejujurnya aku tidak yakin berapa cabang laboratorium yang Ron miliki," ucapku dengan gugup. Meskipun aku sudah berselisij cukup lama dengan Ron, tapi kupikir Ron belum pernah serius dalam menghadapiku.


Begitu banyak rahasianya yang tidak aku tahu.


"Hmmm. Tidak masalah! Bukankah kita tinggal menghancurkan semuanya?!" ucap Vani dengan semangat. Ares dan Ken ikut melongo saat mendengarnya. Aku tertawa kecil saat melihat tingkah mereka.


Bukankah mereka adalah orang dewasa? Kenapa sikap mereka jadi seperti anak umur 12 tahun?


Entahlah ... kalau begitu ... sepertinya aku juga bebas bertindak seperti seorang remaja.


***


POV: Ares


Aku menghela nafas lega saat melihat Riot tertawa. Entahlah, dia seperti menanggung beban berat di pundaknya. Tapi dia juga tidak mau bercerita pada kami.


Sebenarnya aku ingin membahas tentang rencana mengalahkan The Ants, tapi karena mereka sedang bahagia. Kupikir rencananya ditunda saja.


"Baiklah! Apa yang harus kita makan untuk sarapan?!" ucapku sambil menepuk tangan beberapa kali. Vani dan Riot yang awalnya ribut langsung diam dan ikut berpikir.


"Memangnya apa yang bisa kita makan selain roti?" tanya Ken dengan tatapan malas. Aku menunjuk ke arah chast milikku.


"Tidak boleh. Kau harus menghematnya!" tegas Ken lagi. Aku terdiam sejenak, ada beberapa spekulasi yang muncul di otakku.


"Hei ... kalian tau? Kupikir, lebih baik kita tidak menghemat kemampuan kita," ucapku sambil menatap Ken dan Vani.


"Apa maksudmu?" tanya Vani bingung. Aku menunjuk ke arah chast di tangan kananku.


"Kalian juga pasti heran, kenapa chast milik Ron tidak kunjung penuh bahkan setelah menggunakan kekuatan berskala besar seperti sebelumnya, kan?" tanyaku serius. Mereka mengangguk bersamaan.


"Kupikir, semakin sering kita menggunakan kekuatan, maka chast ini akan terisi lebih lama. Sama halnya dengan latihan meningkatkan stamina!" ucapku. Ken terlihat berpikir.


"Mungkin saja kau benar ... tapi kita juga tidak bisa mengambil resiko dengan menghabiskan sisa chast. Bagaimana jika tiba-tiba Ron datang menyerang?" tanya Ken. Benar juga, jika Ron menyerang saat semua chast terisi penuh, maka tidak ada peluang untuk selamat, apalagi untuk menang.


"Aku tau sebuah sungai yang banyak ikannya, harusnya sekarang populasinya bertambah banyak karena tidak ada polusi," ucap Riot dengan ekspresi canggung. Aku mengangguk dengan cepat.


"Benar! Karena tidak ada aktivitas manusia, polusi di bumi berkurang drastis, aku juga melihat bahwa cukup banyak tumbuhan yang tumbuh tidak terkontrol," ucap Ken. Riot segera menyatukan semua tangan kami di genggamannya. Dia menutup matanya, dalam sekejap ... kita sudah ada di pinggir sungai yang dia maksud.


Fuut!


"Nah Ares! Bisakah kau membuatkan alat pancing?" tanya Riot antusias. Aku mengangguk lalu mulai membayangkan sebuah alat pancing.


Cring!


Seperti biasa, sebuah alat pancing muncul di depanku. Sekarang aku tidak perlu menutup mata untuk membayangkannya.


"TUNGGU! BARUSAN KAU TIDAK MENUTUP MATAMU?!" tanya Ken terkejut. Aku jadi ikut terkejut saat mendengar suara Ken yang cukup tinggi.


"Iya ... aku tidak perlu menutup mata lagi sejak kejadian kemarin," ucapku tenang. Ken menatap kagum diriku lalu memelukku.


Kenapa rasanya seperti seorang ibu yang bangga ke anaknya saat mendapat peringkat 1?


"WOAH! AKU DAPAT! AKU DAPAT!" ucap Riot cukup keras. Dia mengangkat alat pancingnya dengan cepat, memunculkan seekor ikan yang cukup besar sedang memakan kail pancing.


"WOAH! TANGKAP TANGKAP!" Riot mengarahkan ikan besar itu ke arah Ken. Dengan sigap, Ken segera menangkap ikannya lalu melepaskan kail yang dimakan oleh si ikan.


"Lalu ... ini ditaruh mana?" tanya Ken. Aku segera membuat sebuah wadah yang cukup besar. Kupikir ini bisa menampung sekitar 10 ikan.


Cring!


"Nah, masukkan saja ke situ!" ucapku sambil menunjuk wadah di depanku. Ken segera memasukkannya, lalu diberi sedikit air. Vani malah diam saja sambil memperhatikan kegiatan yang aku dan Ken lakukan.


"Hei ... bukankah kita bisa menggunakan cara ini untuk mengalahkan para semut itu?" tanya Vani. Aku menatapnya dengan bingung. Sepertinya Ken dan Riot masih sibuk memancing lagi. Mereka jadi seperti ayah dan anak.


"Bagaimana maksudmu? Memancing mereka?" tanyaku sambil bermain-main dengan ikan di dalam wadah. Vani mendekat lalu memaksa kepalaku agar menatap ke arah sungai.


"Sungai ini cukup besar, kita bisa memanfaatkannya!" ucapnya serius. Aku terdiam beberapa saat.


"Tidak bisa! Ron bisa mengendalikan air! Ini sama saja memberi keuntungan untuknya!" tolakku dengan tegas. Vani menghela nafasnya lalu menepuk dahi. Sepertinya dia kesal akan sesuatu.


"Tidak! Kalau Ron bisa mengendalika air sesuka hatinya, kenapa dia tidak bisa mengendalika air yang kugunakan untuk melubangi atap kemarin?" tanya Vani. Aku jadi sadar akan sesuatu.


Apa Ron hanya bisa mengendalikan air yang dia ciptakan sendiri?


"Kita tidak boleh mengambil kesimpulan secepat ini, kita tanyakan saja nanti pada Riot. Sekarang ... AYO KITA BAKAR IKANNYA!" ucapku dengan semangat. Vani langsung tertawa dan membantuku menangkap ikan di dalam wadah.


Sementara itu di tempat lainnya, tanpa kami sadari ...


***


POV: Author


"Wah~ bagaimana ya~ miaw~," ucap seorang anak perempuan dengan telinga kucing.


"Bagaimana apanya? Bukankah kita tinggal membantai mereka?" tanya seorang anak laki-laki dengan tudung hitam.


"Biarkan saja, kita fokus pada rencana. Mereka tidak mengancam tujuan kita," ucap seorang anak laki-laki dengan tudung hitam lainnya.


Di tempat ini, berkumpul 8 anak dengan tudung hitam. Entah apa yang mereka rencanakan, dan apa tujuan mereka.


Itu belum dipastikan.


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!