Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Chaos.



JREBB!


"Hah?"


POV: Riot


Aku terdiam membisu, menatap tidak percaya pemandangan di depanku. Mulutku menganga tanpa bisa bersuara, mataku terbuka tanpa bisa berkedip melihatnya.


Ene dan Eni, menusuk Thea tepat di jantungnya.


"A-apa ... yang kalian lakukan?" tanyaku dengan mulut yang menggigil. Ene dan Eni langsung menatapku, tanpa senyuman, atau bahkan kemarahan, atau emosi lainnya. Mereka hanya diam, menatapku dengan tatapan mata yang kosong.


"Kami hanya mengurangi jumlah musuh dengan pasti. Ini kami lakukan agar bos tidak perlu kesusahan lagi," jawab Eni yang memegang pisau di tangan kanannya.


CRAT!


Tanpa ragu, Eni mencabut pisaunya, membuat darah Thea muncrat mengenai wajah dan baju mereka.


"Apakah ... Ares yang meminta kalian melakukannya?!" tanyaku dengan nada yang berteriak. Ene serta Eni menganggukkan kepala, dengan tatapan mata yang kosong, mereka menjawab pertanyaanku tanpa ragu.


"Tidak, kami melakukannya atas kemauan kami sendiri. Bukankah ini juga lebih menguntungkan kita? Musuh dengan kekuatan besar telah berhasil kita tumbangkan, kini hanya tersisa beberapa yang harus kita urus," ucap Ene sambil membawa keranjang kue itu. Aku menggertakkan gigiku kesal, aku tidak menerima alasan mereka. Meskipun kita sedang bertikai, bukankah mengampuni nyawa manusia itu tetap harus dilakukan?


Jumlah manusia di muka bumi ini sudah tinggal sedikit, tinggal berapa persen manusia jika kita terus saling membunuh seperti ini?!


"TAPI KALIAN JUGA TIDAK BOLEH BERTINDAK SEPERTI INI! BUKANKAH THEA JUGA SUDAH TIDAK BISA BERTARUNG?!" Aku berteriak dengan marah ke arah Ene dan Eni. Tapi kedua gadis kecil itu hanya saling memandang lalu kembali menatapku dengan datar.


"Bukankah kamu adalah rekan dari bos Ares? Tidakkah kamu juga melihatnya?" tanya Eni. Aku mengernyitkan keningku bingung, aku tidak paham apa yang mereka maksud.


"Melihat apa?" tanyaku bingung.


"Bos sudah mencapai batasnya. Bukan chastnya, tapi mentalnya. Kalau perang ini semakin lama, bos Ares lah yang akan tumbang lebih dulu."


Deg.


Apa?


***


POV: Ken


"Ack ... aduh kepalaku, pinggangku juga sakit," gumamku sambil berusaha bangun. Aku sangat kaget karena tiba-tiba tubuhku kembali ke ukuran semula. Bukan hanya aku, Elly dan seluruh warga kota lainnya juga sudah kembali ke wujud asal mereka.


"Apa kau baik-baik saja Ken?" Elly ternyata tidak terjatuh, dia langsung terbang dengan kekuatannya setelah tubuhnya membesar. Aku menganggukkan kepalaku saat menjawab pertanyaannya, sambil sesekali tanganku mencoba untuk menyembuhkan lukaku sendiri.


Setelah lukaku membaik, aku berdiri tegap lalu menatap sekelilingku. Asap, api, gedung yang rusak, bangkai hewan, kabut. Entah sudah berapa banyak hal yang terjadi, kota yang awalnya masih terjaga rapi ini, kini menjadi tempat antah-berantah yang bahkan tidak bisa dihuni.


Drrk ... drkk ... drkk.


"Ng?" Tanah di sekitar kami bergetar pelan, kerikil mulai berlarian kesana kemari, puing-puing bangunan yang jatuh bahkan ikut pecah sedikit demi sedikit. Aku mulai mengedarkan pandanganku, mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi.


Whuss.


Mataku langsung tertuju pada bayangan hitam raksasa yang berada di balik kabut tebal ini. Perlahan tapi pasti, guncangan tanah di sini semakin kuat tiap bayangan itu mendekat.


DEM!


DEG DEG!


"Gila ... untuk apa Boni mengoleksi boneka sebesar ini?!" ucapku sangat pelan, menatap boneka beruang yang setinggi 10 meter di depanku itu. Tanah, lumpur, debu, darah, entah sudah berapa banyak kotoran yang menempel di boneka itu, hingga bulunya bahkan tidak terlihat lembut lagi.


"Elly ... pergilah, cari rekan-rekanku. Aku ... akan menghentikannya di sini," ucapku sambil menyuruh Elly pergi. Aku tidak bisa diam saja, bahkan hewan buas seperti harimau dan singa tidak bisa mengalahkan boneka beruang ini. Aku menghirup nafasku dalam, mencoba menenangkan hati.


"Baiklah ... ayo kita coba."


BLARRR!


WHUS!


Aku langsung berlari maju tanpa ragu, api hijau yang berkobar di tanganku, meskipun aku tau bahwa kekuatan penyakitku tidak berguna di sini, tapi ... aku harus bisa bertarung.


DUAR! DUAR! DUAR!


Saat boneka itu menyadariku, dia langsung meninju aspal dengan brutal. Bukan hanya retak, bahkan aspal itu sudah berlubang di tangan boneka yang terlihat lemah itu.


WHUNG!


Saat boneka itu hendak meninjuku, aku mengambil inisiatif untuk melompat ke arah tangannya.


DUAR!


Tepat sebelum tubuhku tertindih, aku berhasil meraih bulu boneka itu dan mulai merangkak naik melalui lengannya.


Tapi aku terlalu ceroboh, aku tidak menyangka ... bahwa boneka ini akan memukul tangannya sendiri.


WHUNGG!


KRAK!


ZRASHH!


Lengan boneka ini putus. Begitu juga dengan seluruh tulang rusukku yang hancur. Sebelum menutup mata, aku melihat ke arah Elly yang terbang ke arahku dengan wajah yang berlinang air mata.


Tidak ... jangan ke sini ... Elly!


Bonekanya ... masih punya ... satu tangan ...


WHUNG!


BUAGH!


Kretek.


Aku terdiam kaku, mataku tak bisa lepas dari Elly yang tertinju oleh boneka itu.


Elly ...


Kehilangan kaki kirinya.


DEG DEG.


Tidak ... Elly!


***


POV: Author


Detik itu, Ken langsung merasa tidak berguna. Dia punya kekuatan untuk menyembuhkan, tapi dia tidak punya kekuatan untuk menyelamatkan. Tanpa dia sadari, rasa ketidakbergunaan yang dia rasakan, membangkitkan sebuah api kecil di hatinya.


Aku ... ingin jadi kuat,-batin Ken.


BLARRR!


WHUSSSS!


Api hijau itu membara layaknya api lahar panas. Seluruh tubuh Ken dilapisi oleh api hijau itu.


Tapi bukan hanya itu.


Seluruh luka Ken juga sudah sembuh.


"Kau ... boneka sialan. Apa kau mau kujadikan boneka bongkar pasang?!" teriak Ken dengan amarah yang membara. Tanpa ragu, Ken langsung berlari ke arah boneka raksasa itu.


Whus.


Boneka itu mengangkat kaki kirinya, bersiap untuk menginjak Ken.


BRUAGH! CRATT!


Ken yang hanya dipenuhi amarah, langsung terinjak tanpa aba-aba, darah Ken bahkan sampai terciprat beberapa meter jauhnya.


Whung.


BUAGH! BUAGH! DUAR! BUAGH!


Bagaikan tidak mengenal belas kasihan, boneka itu masih menghajar Ken tanpa ragu. Bercak darah Ken semakin banyak, bahkan semak-semak kini berwarna merah karenanya.


DUAR!


DRKKK!


Boneka itu mencungkil aspal yang besar, dan bersiap untuk menghantamnya ke arah tubuh Ken yang masih berkobar itu.


DUAR!


Aspal tadi langsung dihempaskan di atas tubuh Ken, pecahannya terbang kesana kemari, darah yang berceceran semakin lama semakin banyak.


"Ken ... Ken ...," ucap Elly sambil merangkak tanpa kaki. Kehilangan kaki kirinya, membuat Elly tidak bisa berkonsentrasi karena rasa sakit. Bahkan tubuhnya juga beberapa kali terkena pecahan gedung.


"HENTIKAN KAU BONEKA SIALAN! AKU BILANG HENTIKAN!" Elly berteriak hingga suaranya menjadi nyaring, dia mengabaikan rasa sakit di kakinya, dan berusaha untuk menyelamatkan jasad Ken yang terus dihantam tanpa ampun.


Drrk.


Boneka itu berhenti menyerang, dia menatap Elly dengan mata boneka hitamnya yang terlihat menakutkan.


Whung.


"Apa?" Elly menatap aspal yang akan dihantamkan ke arahnya. Bukannya merasa takut, Elly justru kasihan menatap jasad Ken yang sudah tidak berbentuk.


"Maaf ... Ken."


WHUS!


DUARR!


CRATT!


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys! Komen juga biar yang nulis makin semangat!:3


Oh! Dan untuk selama bulan Agustus hingga Oktober, novel ini akan terus update kecuali hari minggu ya!