
POV: Ares
"Sudah jadi es krim?" tanyaku sambil menatap Riot yang berkali-kali melihat ke dalam lemari pendingin. Tapi Riot malah menghela nafas sambil cemberut, barulah dia menoleh ke arahku lalu menggelengkan kepalanya.
"Mungkin nanti sore baru jadi," gumam Riot dengan tatapan kecewa. Buah yang kami petik kemarin, memang rencananya kami ubah menjadi es krim. Yah ... walaupun dengan peralatan seadanya, tapi untuk bahan-bahannya aku bisa membuat mereka dengan kekuatanku.
"Lalu sekarang kita harus apa? Aku sangat bosan~," rengek Riot sambil merebahkan badannya di lantai. Aku ikut bingung sambil menatap ke langit-langit rumah, memikirkan apa yang harus kami lakukan hari ini.
"Oh tunggu, kalau dipikir-pikir ... bukankah kita belum menjelajah kota ini?" tanyaku antusias sambil membalikkan badan ke arah Riot. Dia segera duduk lalu menatapku dengan berbinar.
"Benar juga! Ayo kita menjelajah kota ini!" Riot langsung berdiri dan berlari ke arah pintu. Aku juga segera berdiri dan berlari mengikutinya.
"Kita harus kemana dulu?" tanya Riot saat sudah sampai di pintu. Aku menepuk pundaknya pelan dan tersenyum licik.
"Mau berenang?".
***
BYUR!
"Hahahaha! Rasakan!" ucapku puas saat menceburkan Riot ke tepi laut. Dia terlihat cemberut dengan pakaiannya yang sudah setengah basah.
"Hei! Kau juga harus basah! Tidak adil jika hanya aku yang basah!" Riot segera bangun dan berusaha menarikku untuk terjatuh bersamanya. Aku tertawa sambil berusaha untuk melawannya, tapi usahaku gagal.
BYUR!
Saat aku menoleh ke belakang, ternyata ada Vani dan Elly yang ikut mendorongku supaya tercebur. Riot tertawa puas saat melihatku basah kuyup di sampingnya. Elly dan Vani juga tersenyum jahil sambil menatapku.
"Ngomong-ngomong, darimana kau menemukan pantai ini?" tanya Vani sambil melihat deburan ombak biru yang jernih. Aku segera berdiri sambil memeras kaosku yang basah.
"Saat aku terbang cukup tinggi, aku mencium bau air laut di atas langit. Jadi kupikir pasti ada pantai di sekitar sini. Yah ... sepertinya hidungku jadi sedikit sensitif akhir-akhir ini?" ucapku pelan sambil mengusap hidungku yang tidak gatal.
"Wah~ berarti mungkin kau bisa disebut beruntung ya? Karena jarang ada orang yang tau bahwa kota kami punya pantai, terlebih lokasinya di pedalaman hutan," ucap Elly sambil berjongkok dan bermain air laut. Setelah itu, kami bermain di pantai cukup lama hingga akhirnya air mulai pasang.
Barulah kami menepi dan duduk di bawah pohon yang cukup rimbun.
CRING!
"Nih, karpet," ucapku sambil melirik ke arah karpet yang baru saja aku buat. Vani menerima karpet itu dengan senyum lebar lalu segera menggelarnya dan dibuat untuk duduk.
"Aku juga mau duduk di sana, tapi bajuku basah ... dan rasanya lengket," ucap Riot sambil cemberut, aku tertawa pelan lalu menarik pergelangan tangan Riot untuk mengikutiku.
"Loh?! Mau kemana lagi?" tanya Riot terkejut.
"Kau tidak mau ganti baju?" tanyaku bingung sambil menatap Riot.
"Aku tidak bawa baju," ucap Riot.
"Kekuatanku gunanya apa?" tanyaku ganti dengan ekspresi datar. Riot langsung menatapku dengan senyuman hampa dan hanya pasrah padaku yang membawanya untuk ganti baju.
CRING! CRING! CRING!
"Nah itu, aku membuatkan yang sama persis untukmu," ucapku sambil menunjuk ke tumpukan baju yang kembar dengan yang Riot pakai. Dia segera memeriksa tumpukan baju itu, dan ekspresinya langsung terlihat terkejut.
"A ... res," panggilnya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Hm?" Aku menyahutinya.
"Darimana kau tau celana dal*m apa yang kupakai?" tanya Riot langsung padaku. Aku tersentak kaget ... bagaimana caraku menjelaskannya? Aku tadi tidak sengaja melihat sedikit saat dia terjatuh. Karena itu aku tau warnanya.
"Kau ... tidak perlu tau. Bukankah kita sama-sama laki-laki? Untuk apa kau malu?" tanyaku berusaha mematikan topik ini. Tapi Riot malah menatapku dengan tatapan curiga, sorot matanya rasanya mampu melihat ke dalam pikiranku.
"Jangan-jangan kau ..."
BUGH!
"Iya-iya!" Dia kemudian mulai melepas bajunya dan memakai baju yang kubuatkan tadi. Aku juga sudah mengganti bajuku, kini tinggal menunggu sampai Riot selesai memakai baju saja.
"Hai Riot, aku cukup kaget karena kau bisa kabur dariku."
DEG!
CRING!
"Setan?!" Aku yang kaget sontak membuat granat dan melemparkannya ke anak laki-laki di depanku.
DUAR!
"... Aku tau kalian kaget, tapi bukankah ini keterlaluan?" Dari dalam kepulan asap itu, keluar anak laki-laki tadi dengan ... pakaian yang sudah setengah hangus. Aku jadi merasa bersalah setelah melihatnya begini.
"HAH?! KAU KAN! PENCULIK MES*M WAKTU ITU!" teriak Riot sambil menunjuk ke anak yang setengah gosong di depan kami. Aku terdiam beberapa saat, hingga akhirnya aku bisa memproses perkataan Riot.
"Kau penculiknya?!"
CRING!
DUAR!
Aku membuat granat sekali lagi dan melemparkannya ke anak itu.
"TUNGGU! AKU TIDAK BERNIAT JAHAT BAIK DULU MAUPUN SEKARANG!"
CRING!
"Eh, benarkah? Tapi aku sudah terlanjur lempar granatnya."
DUAR!
***
"Sial, tau begini aku tidak akan mengagetkan kalian." Dia menggerutu pelan sambil menutupi tubuhnya dengan kaos biasa. Ya ... karena seluruh bajunya tadi sudah hangus terbakar oleh granatku.
"Kenapa kau kemari?!" tanya Riot sambil bersembunyi di belakang punggung Vani. Aku baru tau bahwa nama anak ini adalah Elvon, salah satu bawahan Boni.
"Kau terlihat seperti stalker yang mengikuti kami," ejek Vani sambil menatap Elvon dengan tatapan jijik. Aku mengangguk setuju dengan perkataan Vani, dia benar-benar mirip stalker.
Bayangkan saja, dari banyaknya tempat di kota ini, serta luasnya wilayah kota. Dia bisa langsung tau bahwa kami ada di pantai. Menyeramkan juga dia, mungkin dia punya kekuatan yang berhubungan dengan tempat?
"Apa?! Aku bukan stalker! Dan aku ke sini juga bukan karena aku mau!" ucap Elvon dengan tatapan marah pada kami, aku hanya diam sambil menatapnya malas. Sedangkan Elly sudah bersiap dengan ranting kayu di tangannya.
"Lalu, kenapa kau ke sini?" tanya Elly dengan tatapan waspada.
"Aku dengar kalian akan pergi dari sini sekitar 8 hari lagi," ucapnya tiba-tiba. Kami bertiga menganggukkan kepala kecuali Elly.
Tapi kenapa dia bertanya pada kami? Apakah ... dia akan terlibat dalam pembantaian yang dimaksud oleh Safa?
"Lalu kenapa?" tanya Vani dengan nada yang dingin. Elvon terlihat bingung, berkali-kali dia melirik ke kanan dan kiri, bahkan menggaruk leher belakangnya tanpa henti.
"Itu ... kalian pasti tau apa yang akan terjadi di 9 hari kemudian bukan?" tanya Elvon ragu-ragu.
"Aku ... ingin meminta bantuan kalian. Tolong bantu aku!"
9 hari, menuju kejadian.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!