Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Masa Lalu Ron! (End)



..."Tapi ayah, bukankah mereka yang mencintaiku, lebih bisa dimanfaatkan?"....


POV: Author


Sang ayah terdiam, matanya menatap lurus ke arah putra semata wayangnya. Tidak ada yang bicara diantara mereka, atmosfer udara di sini terasa sangat kaku. Sang ayah awalnya hanya menatap Ron dengan datar, lalu tiba-tiba dia tersenyum.


"Terserah kau saja, tapi biar kuperingatkan satu hal. Tidak ada hal yang baik jika kau mengenal apa itu cinta," ujar sang ayah dengan senyuman kaku miliknya. Ron hanya mengangguk lalu menatap ke arah langit yang biru.


"Aku tinggal membuatnya cinta mati padaku, bukan?" ucap Ron dengan tatapan liciknya.


Waktu berlalu dengan cepat, seperti yang Ron katakan sebelumnya. Akhirnya dia punya seorang wanita di sisinya, namanya Hela. Pada awalnya Hela hanyalah seorang fans dari Ron, yang hanya bisa mengagumi anak itu dari kejauhan. Dengan siasat licik milik Ron, akhirnya Hela berhasil menjadi pacarnya.


Bukan hanya itu, Ron bahkan membuat Hela berpikir dia tidak bisa hidup tanpa Ron.


Sebuah cerita tentang cinta mati yang didasari oleh manipulasi perasaan.


Hubungan mereka berjalan dengan lancar, hingga sampai di tahap pernikahan. Setelah menikah, Ron dikaruniai satu anak laki-laki. Dia diberi nama Tom.


Setelah itu, Ron lanjut untuk mengejar ambisinya, yaitu menjadi seorang profesor. Tapi sebelum itu ada sebuah kejadian ... yaitu tentang terungkapnya adik Ron.


Benar, pada kenyataannya ... Ron memiliki seorang adik laki-laki, yang berusia 12 tahun lebih muda darinya. Hasil perselingkuhan ibunya dengan pria lain.


Berkat hal ini, keluarga yang awalnya memang sudah retak. Jadi hancur tak tersisa. Sang ayah tidak mau mengurus adik baru Ron, jadi Ron membawanya ke keluarganya.


Ron akhirnya memutuskan untuk pindah ke sebuah pulau kecil, dan menjadi dosen di sana. Dia membawa semua keluarganya untuk ikut serta. Satu tahun setelah mereka pindah, insiden gas ini datang.


Dan dimulailah, percobaan keji dari Ron.


Diantara keluarga Ron, hanya Ron saja yang berhasil bertahan hidup. Bahkan putranya yang baru berusia 15 tahun, kini sudah meninggal. Apakah Ron merasa kecewa? Tidak. Ron memunguti semua jasad keluarganya, dan pindah ke kota lain.


Kota Oner.


Bersamaan dengan datangnya gas itu untuk yang kedua kalinya. Ron melarutkan gas merah itu menjadi cairan dan memasukkannya ke dalam jasad setiap keluarganya.


Sang istri dijadikan boneka pertama, yang kita kenal sebagai Draw.


Sang anak dijadikan boneka kedua, yang bernama Hunt.


Dan sang adik, dijadikan boneka ketiga. Yang kita kenal dengan nama City.


Proses ketiga boneka itu berbeda-beda, pengekstrakan DNA dengan paksa, membuat sel mereka bermutasi secara instan. Menjadi boneka yang hanya akan menuruti perkataan Ron.


MASA LALU RON (SELESAI)


***


POV: Ares


Aku masih melayang di udara, dengan tatapan yang terkejut serta bingung. Menatap Ron yang tengah ditusuk jantungnya, oleh anaknya sendiri. Ron hanya diam dan termenung, melihat sebuah anak panah yang menancap lurus menembus tubuhnya.


"Harusnya ... kau tetap jadi boneka saja," ucap Ron dengan kejam. Hunt tidak berhenti sampai di situ, dia tetap memeluk Ron dengan erat.


"Kenapa kau masih seperti ini? Padahal aku menggunakan cara yang sama seperti yang digunakan oleh ayahku untuk mengajarimu," ucap Ron dengan mulut yang terus mengeluarkan darah. Hunt segera mendongak lalu berbisik pada Ron.


"Karena ... guruku pernah bilang. Tiru saja hal baik, tapi jangan meniru yang salah," ucap Hunt lagi. Sebuah perkataan yang simpel dan sederhana, tapi banyak orang yang salah dalam melakukannya.


"Ayah ... berhenti jadi orang jahat ... ayo kita temani ibu saja," ucap Hunt dengan nada sedih. Di detik berikutnya, aku kembali tercengang. Bahkan aku tidak berani membuka mataku.


Puluhan anak panah datang dari segala arah. Menghujani tubuh Ron serta Hunt tanpa ampun. Gemuruh petir dan badai ini mulai tenang. Jasad Ron dan Hunt terjatuh ke tanah.


PLUK!


Dengan darah yang segar yang mengalir keluar. Aku segera terbang dan menutupi tubuh mereka dengan kain, sisa dari chastku.


"Bagaimana?" Riot datang dengan tertatih-tatih. Raut wajah lelahnya terlihat dengan jelas. Aku hanya diam dan melirik ke arah dua jasad di depanku ini.


"Mereka sudah tiada. Aku bahkan tidak menyangka ... orang ini punya cerita yang cukup panjang," ucapku sambil menyentuh kain hijau yang kugunakan menutup jasad mereka.


"Bagaimana dengan Vani dan Ken?" tanyaku khawatir.


"Mereka tidur dengan nyenyak, meskipun kondisi mereka cukup mengkhawatirkan," jelas Riot dengan wajah yang khawatir juga. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling.


Kota yang indah ini, telah berubah menjadi puing-puing layaknya bangunan bersejarah. Tidak ada satupun gedung yang utuh, tidak ada infastruktur jalan yang masih bisa digunakan, bahkan mobil saja tidak akan bisa berjalan di medan ini.


Puing-puing gedung yang memenuhi jalanan dan taman. Sungai yang berbelok dan arahnya yang tidak beraturan, mungkin ini karena kekuatan City tadi. Samar-samar, bisa kulihat ekspresi sedih dan rindu dari wajah Riot.


"Oh iya Riot, aku belum bilang padamu ya?" tanyaku dengan senyuman yang lelah.


"Bilang apa?" tanya Riot penasaran.


"Hmm, kata mereka begini sih," ucapku sambil berusaha mengingat-ingat.


"Hah? 'Mereka' siapa lagi?" tanya Riot bingung.


"[Riot, hidup yang lama ya? Jangan cepat menyusul kami. Makan yang banyak tapi jangan jajan sembarangan. Aku tidak memintamu jadi anak yang mandiri, tapi setidaknya jangan jadi anak manja dan egois.


Kamu boleh menangis, kamu boleh lelah, tapi jangan menyerah ya? Aku sudah menitipkanmu pada mereka.


Jangan terlalu menyusahkan mereka, jadilah anak baik dan selalu bantu mereka.


Sudah, itu saja yang ingin kami sampaikan. Selamat tinggal dan sampai jumpa, anakku Riot.]" Aku berbicara dengan sebisa mungkin meniru nada gaya orang tuanya. Suara ini sudah menghilang, bersamaan dengan jatuhnya Ron ke bumi.


Bisa kulihat ekspresi Riot yang berubah menjadi kaku dan sedih. Bulir-bulir air mata tampak seperti kaca yang menghiasi matanya.


"Itu ... orang tuaku?" tanya Riot lagi. Begitu aku menganggukkan kepala, tangisnya pecah. Dia langsung duduk sambil menundukkan kepalanya.


Baik Ron ataupun Riot. Garis takdir mereka yang bersinggungan, telah merubah kehidupan mereka berdua. Mungkin mirip seperti aku, Vani atau juga Ken.


Jika andai saja kami tidak bertemu, mungkin aku akan jadi salah satu anak yang mati lebih dulu. Aku hanya diam dan terus mendampingi Riot hingga tangisannya selesai.


Seperti inilah hari yang panjang berakhir. Menyambut malam yang gelap dengan ribuan bintang yang bersinar terang. Perang di kota ini telah usai, tapi perjalanan kami masih panjang.


Tujuan kami di kota ini menemui titik buntu. Tapi sepertinya, kami juga akan mendapatkan anggota baru.


..."Baiklah. Riot Valvera, mau ikut kami?"...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


Oh dan novel ini bakal up 3 hari sekali sampai tanggal 22 Juni nanti ya guys! Setelah itu bakal balik up 2 hari sekali!