Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Terperangkap!



CRING!


POV: Ken


BRUK!


"ARGHH! Ares sialan! Kenapa dia tidak membantu?!" Aku duduk dengan bagian belakang yang sangat sakit. Sepertinya aku jatuh di suatu tempat. Aku melihat ke sekeliling, mengamati satu persatu apa yang ada di sekitar sini.


Suasana pedesaan di Padang rumput yang hijau dan asri, angin berhembus lembut yang seperti membelai tubuh. Kehidupan damai dengan rumah bambu yang tradisional.


Ini ... DIMANA?!


Aku segera bangun dan mulai mengobati tubuhku sendiri, barulah aku berjalan menyusuri Padang rumput ini ke arah beberapa rumah bambu di sana. Saat aku semakin mendekat, barulah aku melihat beberapa anak kecil yang termenung di teras rumah.


Bukan hanya satu. Hampir di setiap rumah ada anak kecil dengan kondisi yang sama. Tapi kenapa sampai mereka seperti itu? Apakah ada hal buruk yang terjadi?


Karena rasa penasaran, aku memberanikan diri untuk bertanya pada mereka.


"Permisi, bisakah saya bertanya sesuatu? Apa yang sedang terjadi sini?" tanyaku sambil berusaha mendekat pada anak laki-laki dengan tatapan mata yang kosong itu. Dia menoleh ke arahku dengan sangat pelan, di dalam sorot matanya sudah tidak ada daya hidup lagi.


"Apa ... kau anak baru di sini?" tanyanya dengan nada yang lemas. Aku mengangguk dengan perlahan lalu duduk bersila di depan anak tadi.


"Kita ... akan mati sebentar lagi, sudah tidak ada kesempatan untuk hidup," ucapnya sambil melihat ke atas langit.


...


Langit? Memangnya itu langit?


MANA ADA LANGIT SEPERTI ITU? ITU LEBIH MIRIP DENGAN PLAFON SEBUAH RUANGAN.


Apa? Plafon? Apakah ini di dalam kamar raksasa? Tapi kenapa bisa ada Padang rumput di sini?


"Mati kenapa?" tanyaku lagi dengan nada yang bingung. Tapi anak itu langsung menundukkan kepalanya lalu menangis, dia tidak menjawab pertanyaanku.


"H-hei, apa kau tidak apa-apa? Apa kau sakit di suatu tempat?" tanyaku dengan ekspresi khawatir, aku ragu-ragu untuk memegang anak ini.


Bagaimana jika dia malah semakin menangis jika aku menyentuhnya? Atau bagaimana jika ternyata dia memang hanya sedang butuh waktu?


Tapi sungguh, apa yang terjadi di sini?


Aku akhirnya mengurungkan niatku untuk menghibur anak tadi, dengan segera aku berdiri dan pergi ke rumah yang lainnya. Tapi kondisi mereka kurang lebih sama, mereka seperti terkena gangguan mental yang membuat mereka putus asa akan kehidupan.


"Woi!"


Aku menoleh saat ada seseorang yang bersuara cukup kencang. Kulihat mulai dari ujung rambut hingga sandalnya. Dia ... adalah Elly.


"Elly?! Kau di sini?" ucapku terkejut lalu segera berlari menghampirinya. Elly mengangguk pelan, lalu menyuruhku masuk ke dalam rumahnya. Sebuah rumah yang sama dengan rumah lainnya, terbuat dari bambu, yang bahkan desainnya mirip, seperti sebuah mainan.


"Akhirnya kau datang juga, aku sudah lelah menunggumu," ucap Elly lalu duduk di kursi ruang tamu. Elly menepuk-nepuk sebuah tempat kosong di sampingnya, mengisyaratkanku agar duduk di sana. Aku segera berjalan dan duduk di tempat yang dia maksud.


"Ada apa di sini?" tanyaku langsung pada intinya. Elly tersenyum kecut untuk sesaat, lalu menunjuk ke arah langit di luar jendela.


"Kau sudah melihatnya bukan?" tanya Elly dengan senyumannya. Aku mengangguk.


"Menurutmu, apa yang kau lihat tadi?" tanya Elly lagi.


"Plafon ruangan raksasa?" jawabku dengan ragu. Elly tertawa kecil sambil menggoyangkan jari telunjukkan ke kiri dan kanan.


"Ini adalah kekuatan Thea. Queen of the small world. Julukan yang dia miliki bukan sembarang julukan saja, itu karena ... dia adalah pencipta dunia miniatur ini," jelas Elly sambil membuka jendelanya. Angin kencang berhembus masuk, memberi sensasi segar yang terasa menakutkan di hati. Elly menatapku sejenak, lalu kembali fokus pada luar jendela.


"Mungkin sekarang masih terlihat normal, padahal di luar ruangan ini. Ada teman-teman kita yang sedang bertarung habis-habisan. Dan tujuan kita di sini ... adalah membangkitkan semangat bertarung para rakyat yang sudah putus asa!" jelas Elly lalu berdiri dan pergi ke arah pintu. Matanya mengernyit, menatap para anak kecil yang sudah pasrah setengah mati pada hidup mereka.


"Hah? Jadi ini sebenarnya dimana?" tanyaku bingung.


"Di kamar Thea."


Deg.


"Kita tersimpan elok bagaikan miniatur kesayangannya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai ajal menjemput, dan itu membuat rakyat semakin putus asa. Kita ... harus membuat semangat mereka bangkit lagi! Bagaimanapun caranya!" ucap Elly menggebu-gebu. Aku menatap Elly dengan datar sambil menghela nafas.


"Iya, tapi bagaimana?" tanyaku lagi.


Krik krik.


Elly hanya diam tidak menjawab, matanya menatapku dengan ragu-ragu. Dia segera duduk kembali ke sampingku sambil memainkan jarinya gugup.


"Ummm, sebenarnya aku tidak punya rencana, apa kau punya?" tanya Elly sambil tersenyum hingga menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Aku juga tidak ada," ucapku dengan nada yang malas. Setelah itu kami terdiam cukup lama, tenggelam dalam pikiran masing-masing, kami saling memikirkan cara untuk mencapai tujuan kami.


"Bagaimana kalau begini? Kita obati dulu para warga yang terluka, setelah itu ... kita mulai mempersuasi mereka," ucap Elly sambil berdiri, dia pergi ke arah laci dan mengambil sebuah bola kaca yang cukup besar. Aku bahkan tidak tau apa fungsi bola kaca itu.


"Memangnya bisa begitu?" tanyaku bingung. Elly menutup matanya lalu menghembuskan nafas sekuat tenaga.


"Bisa!" ucapnya yakin. Dia kemudian segera beranjak keluar dari rumah, tapi aku teringat sesuatu, jadi kucekal pergelangan tangannya dan menariknya masuk lagi.


"Kenapa?" tanyanya bingung.


"Sebelum kita melakukan rencananya, kau harus memberitahuku sesuatu!" ucapku sambil merampas bola kaca yang Elly pegang, raut wajahnya terlihat panik karena aku merebutnya secara serampangan.


"Hati-hati jangan sampe pecah!" ucap Elly panik. Aku menaruh bola kaca itu dengan pelan di atas kursi, lalu bertatapan dengan Elly yang serius.


"Ceritakan, apa saja yang terjadi saat aku tidur. Dan apa yang tidak aku ketahui," ucapku sambil menyimpan kedua lengan di dada. Elly menutup mata lagi sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Kau sungguh mau tahu?" tanya Elly.


"Ya."


"Semua?" tanyanya lagi.


"Iya!" jawabku serius. Elly menghela nafasnya pelan, lalu berjalan ke arah kursi dengan loyo. Wajahnya terlihat sangat malas untuk bercerita.


"Kau ingat bahwa kau pernah pingsan?" tanya Elly.


"Ingat, memangnya kenapa saat itu? Apa itu awal mula rencana kalian?" tanyaku bingung.


"Tidak salah, tapi juga tidak benar. Perencanaannya sudah ada jauh-jauh hari, dan tidak sesimpel itu," jawab Elly.


"Jadi ini dimulai pada hari itu ..."


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!