
..."Nah sisanya, tolong ikut aku dulu."...
POV: Ares
Melihat Vani yang telah dirawat, kami jadi merasa tenang. Akhirnya kami memilih untuk mengikuti Boni ke rumahnya.
***
Tunggu, kupikir waktu dia bilang rumah ... itu seperti rumah yang biasa ... walaupun bentuknya seperti mansion atau apapun.
TAPI INI RUMAHNYA GEDUNG?! SERIUS?!
"Oh maaf, aku menjadikan rumah ini tempat kerja juga." Boni seolah tau apa yang aku pikirkan. Mataku melirik ke arah Ken dan Riot. Ken seperti tidak peduli, dan Riot tampak antusias melihat bangunan di depannya.
"Mari masuk," ajak Boni sambil membuka pintu dari kacanya.
Saat kami masuk, kami langsung disambut oleh beberapa anak lagi dengan seragam kecilnya. Dan beberapa boneka beruang atau bahkan macam sebagai penjaga. Ini jadi mirip seperti dunia mimpi.
Tunggu ... tapi kenapa daritadi tidak ada yang menyapa Boni? Bukankah Boni adalah pemimpin kota ini?
Ting!
"Karena ruanganku berada di lantai paling atas, kita harus naik lift ini," ucap Boni sambil berdiri di depan pintu lift yang terbuka. Setelah Boni masuk, baru kami berjalan mengikutinya dari belakang.
"Oh tunggu! Listrik di sini masih bekerja?" tanya Riot saat sadar bahwa peralatan di sini adalah peralatan elektronik. Aku juga jadi sadar bahwa listrik di sini masih menyala, dan sepertinya tidak ada penurunan teknologi akibat gas yang datang beberapa minggu yang lalu.
"Saat pertama kali gasnya turun, tentu terjadi kekacauan yang cukup besar. Tapi aku langsung bisa menenangkannya dan menguasai kota ini," ucap Boni dengan cepat. Mendengar perkataan Boni, aku bisa sadar tentang satu hal.
Yang dia maksud menguasai, adalah mengalahkan semua orang di kota. Dan menjadikan dirinya orang dengan kekuasaan serta kekuatan mutlak.
Ini mirip seperti yang Ron lakukan, tapi dia membiarkan orang-orang hidup untuk menjalankan kota ini sebagaimana mestinya.
"Jadi ... kau mengalahkan semua orang di kota ini?" Ken malah bertanya dengan nada yang dingin.
"Ya. Akulah yang terkuat di sini." Boni juga menjawab dengan kepercayaan diri yang tinggi. Mata ungunya terlihat berbinar dan menatap Ken dengan tajam.
Ting!
Ketenangan di dalam lift ini berhenti saat suara lift telah sampai itu berbunyi. Begitu pintu terbuka, menampilkan ruangan dengan desain klasik layaknya bos di kantor. Boni lalu berjalan keluar dan kami masih mengikutinya.
Srek.
"Duduklah di sofa," ucap Boni sambil duduk di kursi bosnya. Kami kemudian duduk di sofa, menunggu pertanyaan apa yang akan dia ajukan.
Hening, tak ada satupun dari kami yang membuka suara. Boni juga hanya diam dan memperhatikan kami.
Suasana hening ini masih terus berlanjut, hingga sinar mentari menembus kaca gedung ini. Saat sang surya sudah terlihat, barulah Boni membuka mulutnya.
"Kalau kalian dari arah Selatan, berarti kalian dari Kota Oner?" tanya Boni sambil mengaitkan jari-jarinya. Mataku langsung melirik ke arah Riot.
"Mereka tidak, tapi aku iya." Riot berbicara dengan tenang.
"Hanya kau? Lalu kalian dari mana?" tanya Boni lagi.
Mata ungu Boni menatapku, berharap mendengar jawaban dari mulutku.
Kota asalku ya? Aku juga sudah lupa ... tidak, mungkin lebih tepatnya ... aku yang tidak mau mengingatnya.
"Aku tidak mau mengatakannya," ucapku lalu menghela nafas. Boni hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Matanya masih menatap kami, sepertinya dia masih punya beberapa pertanyaan lagi.
"Lalu, apa tujuan kalian ke sini? Aku yakin kalian tidak hanya mencari rumah sakit saja," ucap Boni lalu menyandarkan punggungnya di kursi hitam yang dia duduki.
"Mengembalikan ... dunia?" tanya Boni dengan senyum yang sangat tipis.
"Kenapa kalian mau mengembalikan dunia?" Boni segera bangun dari duduknya, lalu mendekat ke arah Ken. Dengan langkah yang pelan dan terasa ragu-ragu, ada firasat aneh yang sedari tadi menyelimuti kepalaku.
"Dunia ini tidak sempurna," jawab Ken.
"Lalu kau pikir dunia kita yang sebelumnya itu sempurna?" tanya Boni dengan cepat.
"Setidaknya itu lebih baik daripada yang sekarang," jawab Ken dengan cepat juga. Atmosfer di ruangan ini menjadi berat, bersitegang antar Ken dan Boni tidak juga menyurut.
"Apa kau tidak mau dunia kita kembali seperti semula?" Dan anak bodoh yang bernama Riot malah bertanya hal aneh lagi. Boni kini ganti menatap Riot, sebuah seringaian terpampang jelas di sana.
"Kenapa aku harus kembali? Ini dunia yang hebat, semua orang punya kekuatan. Semua orang bisa mewujudkan apa yang mereka mau. Tidak ingin dewasa? Itu sudah terwujud.
Tidak perlu sekolah? Itu sudah terwujud.
Ingin terbang? Punya kekuatan super? Aku yakin kita semua punya setidaknya satu kekuatan dalam diri kita masing-masing.
Lantas apa yang membuatku tidak betah dengan dunia ini?" tanya Boni dengan suara lantangnya. Riot dan Ken terdiam, padahal kupikir aku bisa diam saja dan tidak membuat masalah sampai Vani sembuh.
Tapi ideologi orang ini sudah gila.
"Cukup. Boni apa kau-," ucapanku terpotong karena ada burung gagak yang kini bertengger di tepi jendela.
Dan yang membuat kami kaget adalah ... di kakinya ada bom.
DUAR!
PRANG!
Begitu kaca meledak, aku langsung membuat sebuah perisai dari besi.
Cring!
Trang! Trang! Prang!
Prek ... trek tretek.
Ruangan ini kini penuh dengan bekas terbakar. Serta kondisinya yang sudah hampir setengahnya pecah. Untung saja aku bisa tepat waktu saat membuat perisai, jadi Ken dan Riot tidak terluka.
Mataku melirik ke arah Boni, ada sebuah boneka ikan pari yang lebar sedang memeluknya. Kaca-kaca serta kobaran api itu hanya melukai sang boneka, dan Boni masih berdiri tegap di sana.
"Haaah ... perempuan itu tidak tau kata menyerah ya?" ucap Boni dengan nada kesal yang tertahan.
Perempuan itu? Siapa? Apa ada konflik di kota ini? Bukankah dia bilang bahwa dia yang terkuat?
"Maaf, kita akan pindah ke lantai bawah. Ruangan ini sudah sangat kotor," ucap Boni dengan wajah menyesalnya. Kalau ini di kehidupan normal, mungkin dia adalah anak dengan kelebihan pada olah kata serta ekspresi wajahnya.
"Apa-apaan burung tadi? Sepertinya semua hewan di sini tidak ramah ya? Anjing-anjing tadi juga begitu," ucap Riot asal bicara. Boni langsung hanya tersenyum ekspresinya sedikit sedih saat dia menatap ruangan ini yang sudah setengah hancur.
"Yah, seperti yang kalian lihat ... di kota ini kita juga punya konflik tersendiri," ucap Boni lalu berjalan ke pinggir ruangan. Tanpa kaca ataupun pelindung apapun, dia berdiri di ujung gedung dengan tenang.
..."Ini karena perempuan itu."...
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!