Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Bangkitnya Ken!



DUARR!


CRATT!


POV: Author


Apakah ... aku sudah mati? Tapi ... kenapa rasanya kakiku masih sakit? Apakah di alam kematian aku juga masih harus merasakan sakit?,-batin Elly.


Tes.


Tes.


"Apa ... kau baik-baik saja?"


Deg!


Saat mendengar suara Ken, Elly langsung mengangkat kepalanya, menatap ke sumber suara itu. Di depannya, terpampang seorang anak laki-laki dengan baju yang berwarna merah karena darah, serta api hijau yang masih membara di tubuhnya.


Anak itu adalah Ken, Kenki Emora, masih hidup.


"Ken! Kau-," ucapan Elly terpotong saat matanya terpaku pada kedua tangan Ken yang hancur, menyisakan bagian siku hingga lengannya saja. Melihat hal itu, Elly langsung ingin menangis.


Whuss.


"Kenapa matamu berkaca-kaca? Apakah masih sangat sakit? Tunggulah dulu. Setelah ini aku akan mengobatimu," ucap Ken sambil tetap menahan tangan kanan boneka raksasa tadi. Bersamaan dengan angin yang berhembus, kedua tangan Ken mulai tumbuh. Elly menatap hal itu dengan tatapan kagum, di depannya, anak yang bernama Ken ini terlihat sangat keren.


"Tangan kananmu ini ... memuakkan!"


SRAKK!


Tanpa aba-aba, Ken langsung menarik lengan yang tersisa dari boneka itu. Entah apa yang terjadi pada tubuh Ken, tapi yang pasti, kini Ken merasa dirinya sangat kuat. Kekuatan penyembuhan tidak masuk akal yang bahkan bisa menumbuhkan jantung, serta penambahan kekuatan yang membuat Ken bisa mengangkat beban lebih dari 100 ton.


Tubuh Ken yang sekarang, bukan hanya dokter ataupun wabah. Tapi dia adalah tank manusia dengan kekuatan penghancur yang mengerikan.


BUAGH!


Boneka itu jatuh terduduk karena hilang keseimbangan, melihat hal itu, Ken tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung melompat tinggi, mengarah langsung ke wajah boneka beruang yang menyeramkan itu.


Grrt!


Ken mengepalkan tangannya, bersiap untuk meninju.


BUAGH!


KRAK!


SRAKKK!


Boneka raksasa itu terkena pukulan telak, dia terdorong mundur hingga lebih dari 20 meter. Walaupun tangan Ken patah saat memukul beruang tadi, tapi tangannya langsung sembuh hanya dalam hitungan detik.


Drrk.


Boneka itu kembali berdiri, kapas-kapas mulai berhamburan keluar dari lengan boneka yang koyak itu. Pemandangan ini awalnya biasa saja, hingga Ken dan Elly menyadari sesuatu.


Diantara kapas-kapas yang berterbangan, ada tulang-belulang yang terselip di tubuh boneka itu.


"Tulang apa itu?" tanya Ken dengan ekspresi yang sedikit takut dan bingung.


"Itu ... adalah tulang hewan ... mungkin juga tulang manusia yang dicampur sebagai pondasi bonekanya." Elly berbicara dengan posisi yang masih tengkurap. Mendengar perkataan Elly, Ken langsung merasa mual.


Jadi ini yang para warga itu maksud?,-batin Ken.


Ken mengingat-ingat apa yang salah satu warga kota ini katakan saat mereka menjadi sandera karena kekuatan Thea. Ken masih mengingatnya dengan jelas, para warga itu berbicara dengan nada yang penuh rasa putus asa serta rasa takut.


Kini Ken baru paham tentang apa yang mereka takuti.


Itu karena Boni menjahit tubuh mereka di dalam boneka beruangnya.


Boni gila,-batin Ken.


KRAKKKK!


Ken begitu kaget saat melihat boneka itu menyobek mulutnya dengan paksa. Setelah itu, tubuh raksasanya mulai berguncang hebat, sedikit demi sedikit, kulit beruang itu terlihat seperti akan meledak.


"Tunggu ... jangan-jangan-"


DUARR!


Belum selesai Ken berucap, boneka itu meledak dan membuat suara yang sangat keras. Secara spontan Ken langsung menutupi telinga Elly yang tengkurap di belakangnya.


Hening, setelah ledakan besar itu, yang tersisa hanyalah hujan kapas dari langit-langit.


"Kenapa dia bunuh diri?" tanya Ken sambil memadamkan api hijau yang berkobar di tubuhnya. Ken masih terdiam beberapa saat, memandangi kapas yang turun seperti salju.


Ken mengangkat tangan kanannya, melihat sisa chast yang dimilikinya.


"Woah, hampir saja penuh ... apakah aku bisa menyambungkan kaki Elly lagi dengan sisa chast yang sedikit ini?" gumam Ken dengan ekspresi wajah yang pusing. Tapi pada akhirnya Ken tetap membalikkan badan lalu mulai mencari dimana kaki Elly terlempar tadi.


"Ken? Apa yang kau lakukan?" tanya Elly yang masih tengkurap di aspal yang kotor.


"Mencari kaki kirimu," jawab Ken sambil mengintip di bawah puing-puing bangunan yang jatuh.


Melihat Ken yang berusaha keras demi dirinya, Elly merasa tidak enak hati. Sejujurnya Elly kehilangan kakinya juga karena kesalahannya sendiri. Ken sudah memperingatkanny agar pergi menjauh dan meminta pertolongan, tapi dia malah kembali untuk menolong Ken.


"Sial ... kakinya di mana sih?!" umpat Ken kesal karena dia tidak kunjung menemukan kaki Elly.


"Sudahlah Ken, tidak apa-apa. Kau tidak harus mencari kakiku," ucap Elly dengan raut wajah yang mencoba untuk menerima keadaan. Tapi Ken tidak mendengarkan, dia tetap berusaha keras mencari kaki Elly di antara puing-puing itu.


Sret sret sret sret.


"Hah?" Ken terdiam, matanya menatap lurus ke arah gumpalan kapas yang berada di depannya.


Tadi kapasnya bergerak? Mungkin tertiup angin? Tapi ... bukannya arah anginnya itu kebalikan dari arah geraknya tadi?,-batin Ken.


Ken mencoba mengabaikan kapas-kapas yang berserakan di aspal ini, dan fokus untuk mencari kaki Elly. Tapi ... semakin lama dia mencari perasaanya semakin buruk.


Rasanya ada yang aneh di sini.


Tunggu ... kalau dipikir-pikir juga, bukankah dia meledakkan diri juga hal aneh? Boneka bahkan tidak memiliki rasa sakit, lalu untuk apa dia bunuh diri?


Dilihat dari sudut manapun, hal ini merugikan baginya maupun pihak mereka. Lantas ... apa alasannya?,-batin Ken.


Tapi ... Ken sudah terlalu lama berpikir.


SRAK SRAK SRAK!


"HMP! KEN! KENN!" teriakan Elly menyadarkan Ken dari lamunannya. Mata Ken langsung panik saat melihat gumpalan kapas itu membungkus tubuh Elly dengan cepat. Ken berlari tanpa mempedulikan kakinya yang berkali-kali menginjak kawat ataupun puing-puing tajam.


"ELLY! SIAL SIAL SIAL!" Ken berusaha memisahkan Elly dari gumpalan kapas yang mulai membentuk sesuatu yang aneh ini. Tapi hal ini mustahil, semakin Ken menambahkan tenaga, semjain rekat pula kapas ini menempel di tubuh Elly.


"Ken- hmp!"


SRAKK!


Gumpalan kapas itu mulai membentuk sebuah boneka tanpa kulit. Dengan tubuh Elly sebagai jantungnya, dia berusaha mempertahankan wujudnya sebagai beruang dengan ukuran yang lebih kecil daripada sebelumnya, mungkin hanya sekitar 5 sampai 6 meter.


"[Hihihi. Kalau ... kau mau membunuh-ku ... kau harus membunuh-rekanmu juga.]"


DEG!


"APA?!" Ken berteriak sambil mengepalkan tangannya. Mata hitamnya memicing tajam, menatap gumpalan kapas sombong yang ada di depannya.


Sial! Bagaimana ini! Chastku sudah mencapai batasnya! Ditambah lagi aku harus menyelamatkan Elly!,-batin Ken.


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys! Komennya juga biar aku makin semangat nulisnya!:3