
FLASHBACK END
POV: Safa
Tentu saja, setelah itu ... semua harapanku luntur bagaikan istana pasir yang tersapu ombak. Boni mulai membentuk sebuah kelompok kecil dan mulai menguasai kota. Aku yang berusaha menghentikannya malah kini dianggap sebagai buronan.
Aku terdiam menatap tangan Boni yang perlahan menghilang, bagaikan debu yang terkena hujan. Setelah tubuh Boni menghilang, awan gelap di sini juga mulai lenyap tertiup angin. Tapi kota ini sudah tidak lagi mirip kota. Yang tersisa di sini hanyalah tanang kosong yang terbentang ratusan kilometer.
"Hiks ... hiks ..."
Aku menatap ke arah anak laki-laki yang menangis, kalau tidak salah, namanya Ken. Dia masih duduk bersimpuh sambil menundukkan kepalanya, air matanya tidak berhenti mengalir.
Aku juga ingin menangis, tapi rasanya terlalu hampa. Rasanya air mataku tertahan untuk tidak meninggalkan tempatnya.
Puk.
Aku menoleh ke samping kananku.
"Bibi Aster?"
Dia kemudian memelukku sambil tersenyum tulus, pelukan yang hangat, yang rasanya membuat orang meleleh di dalam kehangatan ini.
Pelukan? Aku bahkan tidak sempat menjabat tangannya terakhir kali.
"Maaf ... Bibi," ucapku dengan nada yang begitu lemas. Kepalaku mulai berkunang-kunang, pandanganku sedikit demi sedikit memburam.
Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi ... sepertinya aku akan pingsan.
***
POV: Ares
Aku masih terdiam hampa di tempatku berdiri. Mataku tidak berhenti menatap ke arah langit kosong di hadapanku. Suara tangisan Ken yang entah kapan berhenti, suara warga kota yang panik karena Safa pingsan. Dan banyak orang yang sedih karena kehilangan orang terdekat mereka.
Eng? Boneka itu ... masih ada?
Aku berjalan pelan menghampiri boneka elang yang sudah hampir tidak berbentuk itu. Tubuh bonekanya sudah dipenuhi bunga dan daun-daun, hanya bagian kepalanya saja .... oh, bagian sayap kanannya juga masih utuh.
Aku memungut boneka itu, dan membawanya bersama diriku.
"Ares!" Suara Vani membuatku sadar dan menoleh ke arahnya. Rambut coklat Vani yang bergerak tertiup angin, serta mata merahnya yang kelihatan bersinar.
"Ada apa?" Aku bertanya tanpa mengalihkan pandangan darinya.
"Tidak apa-apa, hanya saja ... apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Vani sambil melihat sekeliling. Aku jadi ikut berpikir, dalam perang tidak ada orang yang tidak akan mati, kecuali bila ada orang yang punya kemampuan merubah takdir.
Tapi jika orang itu benar-benar ada, maka harusnya dia sudah mengubah takdir dunia ini.
"Kupikir ... bagaimana kalau kita membantu mereka untuk mendirikan beberapa rumah lagi?" jawabku dengan nada yang ragu. Karena kota ini berbeda dengan kota Riot dulu, di sini masih ada orang yang hidup, masih ada orang yang akan menghuni tempat ini.
"Ah! Itu ide yang bagus!" Vani berucap dengan penuh semangat, aku hanya membalasnya dengan senyuman.
Jika kita tidak ingin kehilangan banyak nyawa lagi, kita bisa menunjang hidup mereka dengan memberi bantuan untuk membuat tempat tinggal sementara.
Atau mungkin permanen? Kupikir ini bukan hal yang mustahil jika dengan kemampuanku.
Hmmm, besok aku harus coba membuat rumah.
***
Cring!
Cring!
Cring!
"Nah apakah segini masih lumayan?" tanyaku sambil menunjuk apartemen dengan 25 lantai di depan. Para warga memberi tepuk tangan dengan tatapan kagum. Tentu saja aku merasa lega, tapi ...
INI MENGONSUMSI SANGAT BANYAK CHAST?! AKU BARU MEMBUAT SATU APARTEMEN DAN SUDAH TERISI SETENGAH?!
Tapi kalau aku membuatkan mereka bahan mentah, justru kupikir ini akan semakin banyak mengonsumsi chast, dan membuat satu apartemen yang langsung jadi ini akan lebih hemat.
"Sepertinya mula sekarang lebih suka aku membuat beberapa bahan mentah dan beberapa alat konstruksi yang bisa dioperasikan di tubuh anak 12 tahun. Tapi ... masalahnya aku tidak tahu bagaimana susunan mesinnya." Aku bergumam pelan sambil terus berpikir.
"Memangnya kau perlu paham susunan mesinnya?" Ken tiba-tiba datang dan mengagetkanku dengan suaranya.
"Kalau aku tidak paham susunannya, bukankah sama saja aku membuat cangkang kosong tanpa isi?" tanyaku pada Ken dengan sedikit emosi karena kaget tadi. Ken terlihat cemberut karena aku sedikit membentaknya.
Matanya masih bengkak, aku yakin dia semalaman menangis.
"Bukankah dulu waktu membuat mobil kau tidak perlu tau susunannya?" tanya Ken lagi.
Lah ... iya juga. Dulu aku membuat mobil kan langsung buat. Kenapa aku harus pusing memikirkan susunan mesinnya?
Ya sudahlah, aku buat semen dan kawat dulu sekarang.
Cring cring!
***
Ini adalah hari ke-2 semenjak Boni dikalahkan. Belum banyak yang berubah kecuali pembangunan yang sedang berlangsung. Tentu tiap kota membutuhkan seorang pemimpin untuk memimpin mereka, awalnya mereka menunjukku, tapi aku langsung menolak karena kami juga tidak akan lama ada di sini.
Kalau kuingat-ingat, sepertinya mereka lalu menawari Safa untuk jadi pemimpin kota sementara. Tapi ... entahlah, sepertinya dia juga menolaknya?
Yang pasti, aku ingin menikmati waktuku sendiri sekarang.
Saat ini aku sedang duduk dengan tenang di atas sebuah pohon yang beruntung tidak tumbang. Sambil menikmati matahari yang terbenam, aku menggumamkan beberapa lagu aneh yang tiba-tiba muncul di kepalaku.
Vani sedang sibuk berbincang dengan warga kota, Ken masih sibuk menghalau ditemani oleh Riot, mungkin Riot khawatir kalau Ken akan melakukan hal idiot nantinya.
Kalau Safa-
"Apa yang kau lakukan di sini?" Safa tiba-tiba muncul dari atas kepalaku.
"AAAAAAAA!" Aku berteriak terkejut.
"AAAAAAAAAAA!" Safa malah ikut berteriak juga.
"Kenapa kau ikut teriak?!" tanyaku sambil menyentil dahi Safa.
"Kau membuatku kaget!" Safa balas menjewer telingaku.
"Apa?! Yang membuatku kaget lebih dulu itu kau tau!" Aku menarik rambut pirang Safa dari bawah. Akhirnya jadilah aksi tarik-menarik diantara kami.
Dan kami lupa ... bahwa kami sedang di atas pohon.
Whung.
Eh?
BRUKK!
"Aduh ..." Aku mencoba untuk berdiri, sambil memijat pinggangku yang rasanya nyeri setengah mati. Aku masih berusia 12 tahun, aku tidak mau jadi anak kecil jompo.
"Ugh ... ini gara-gara kau!" Safa juga segera bangun dan merapikan rambut pirang panjangnya yang menutupi wajahnya.
Aku memilih untuk tidak membalas kata-katanya dan duduk bersandar di batang pohon, tanpa diduga, Safa juga ikut bersandar bersamaku, melihat matahari terbenam yang sudah tinggal sedikit.
"Setelah ini ... kalian akan pergi kemana?" tanya Safa tiba-tiba.
"Entahlah, kami masih belum memutuskan. Yang pasti, mungkin kami akan menetap di sini sedikit lebih lama lagi." Aku menjawab tanpa menoleh ke arahnya.
Sebenarnya aku ingin mengajaknya bergabung dengan tim kami, tapi ... berbeda dengan Riot. Safa dibutuhkan banyak orang di sini, dia adalah tokoh penting yang diperlukan setiap orang. Dia juga adalah pelindung kota ini karena dia juga kuat.
"Hei ... apa aku boleh ikut bersama kalian?"
"Hah?!"
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!