
..."Apa?"...
POV: Ken
"Apanya?" tanya Civilian saat aku tak sengaja membuat suara. Aku langsung menutup mulutku sambil tersenyum kikuk. Civilian mengangkat sebelah alisnya, serta menatapku dengan sorot mata menyelidiki.
"Tidak ada apa-apa. Sungguh," ucapku lembut sambil menggelengkan kepala. Civilian masih menatapku curiga, tapi syukurlah karena sepertinya dia membiarkan kejadian ini terlewat begitu saja.
"Kau mau makan apa? Aku akan pergi membuatkannya untukmu," ucapku sambil berdiri, Civilian terlihat berpikir sejenak.
"Pasta?" tanya Civilian datar, aku mengangguk sambil mengacungkan jempol tanganku. Setelah itu aku pergi ke dapur, dan mulai menyiapkan bahan apa saja untuk membuat pasta.
Untung saja Civilian tidak mengikutiku ke dapur. Karena aku ingin memeriksa beberapa hal.
Tadi aku melihat ponselnya saat ada pesan masuk. Iya ... aku tau ini terdengar tidak sopan. Tapi itu otomatis terbaca oleh mataku. Dan aku sangat terkejut saat tahu apa isi pesannya.
Pesan itu dikirim oleh Boni secara langsung. Isi pesannya adalah ... mereka bilang mau mengadakan festival penyambutan. Walaupun aku tidak tau festival ini untuk siapa ... tapi aku jadi sedikit merasa senang karena berpikir bahwa festival ini untuk kami?
Nah sepertinya Civilian dan Boni memang benar-benar orang baik. Haruskah aku mengajaknya untuk bergabung dengan tim? Tapi aku harus meminta persetujuan Ares dan Vani lebih dulu ... mungkin juga Riot.
***
POV: Ares
"Ini mustahil!" ucapku sambil terduduk lemas di samping sebuah rumah yang tak berpenghuni. Riot juga sudah tergeletak dengan nafas yang terengah-engah.
Meskipun aku memang berkata bahwa kita harus mencari petunjuk, tapi kita sama sekali tidak tau harus mulai dari mana?! Ini seperti aku harus mencari jarum di dalam tumpukan jerami.
"A ... res ... sepertinya, lebih baik kalau kita ... mencari Vani lalu pergi dari kota ini," ucap Riot sambil berusaha untuk duduk. Wajahnya begitu berkeringat bahkan hingga ada warna kemerahan di kulitnya karena terpapar sinar matahari.
Ya ... hampir 5 jam kami mencari Vani tanpa henti. Mulai dari tempat kejadian, lalu menyebar hingga beberapa kilometer dengan rumah sakit sebagai pusatnya. Tapi tetap saja Vani tidak ketemu!
Bagaimana kalau dia diculik?! Atau mungkin dijadikan objek percobaan?! Sial ... aku jadi terus kepikiran semenjak bertemu dengan Ron. Tapi serius, Vani kemana?!
"Krr?"
"Hah? Suara burung?" Suara Riot membuyarkan lamunanku. Mataku dan Riot langsung menatap ke langit, ada seekor burung merpati yang bertengger di pinggir jendela. Burung merpati itu berwarna putih bersih dan bermata merah.
"Krr, krr!" Burung merpati itu terus bersuara sambil terbang ke arah Selatan. Aku dan Riot hanya terdiam saat melihat merpati itu pergi, karena kami pikir burung itu hanya iseng bertengger lalu pergi saat melihat manusia.
Tapi kami salah.
Dia berulang kali menghampiri kami, dan terbang lagi ke arah Selatan. Dia juga tidak meminta makan atau apapun, tapi dia melakukan hal ini berulang kali.
Seolah dia meminta kami untuk mengikutinya.
"Burung itu tidak lelah ya?" gumam Riot sambil melihat merpati putih yang sibuk terbang kesana kemari. Aku mengendikkan bahuku pelan, lalu fokus ke arah aspal. Dipikir seperti apapun, tidak mungkin burung itu paham permasalahan yang kami hadapi.
Lagipula burung itu tidak mengarahkan kami ke pemukiman. Dari arah dia terbang, bisa aku pastikan bahwa arah yang dia tuju adalah hutan belantara sebelah Selatan. Tidak mungkin Vani ada di sana kan?
...
Tidak mungkin kan?
"Riot."
"Apa?" Riot segera menoleh ke arahku dan aku langsung menggendongnya di punggungku.
"Hei! Kita kemana?!" tanya Riot sambil mencengkram baju belakangku.
"Kita akan mengikuti burung itu, siapa tau ada petunjuk," ucapku sambil terus memperhatikan kemana burung itu pergi. Riot sudah tidak bertanya lagi, kini dia diam dan mengikuti dengan baik.
Cukup lama kami terbang lurus, akhirnya burung itu mulai berbelok dan turun di sebuah celah di hutan. Aku ikut turun dengan pelan, sebisa mungkin masih menjaga jarak dengan tanah.
Saat aku masuk ke dalam celah di antara rimbunnya daun-daun pohon di hutan itu. Aku langsung disambut dengan pemandangan yang menakjubkan.
Mungkin ini yang mereka sebut surga tersembunyi? Aku bahkan baru tau ada danau di sekitar sini.
Terbentang danau dengan air jernih yang bahkan bisa memantulkan bayangan langit. Dasar danau ini tidak kelihatan, sepertinya cukup dalam. Dan yang lebih membuatku kaget ... adalah banyaknya hewan-hewan di sini.
Mulai dari merpati, berbagai reptil, hewan berbadan besar, bahkan karnivora juga ada di sini. Dan anehnya ... mereka tidak saling menyerang satu sama lain.
"Guk!"
"HAH?!"
"APA?!"
Aku dan Riot berteriak terkejut saat mendengar gonggongan anjing. Saat aku menoleh ke belakang, ada gerombolan anjing yang waktu itu menyerangku dengan Ken. Tapi ... sepertinya mereka agak aneh?
Kenapa tatapan mata mereka sangat bersahabat begini? Bahkan ... aku tidak merasa terancam lagi saat ada di dekat mereka. Bagaimana bisa mereka jadi jinak dalam beberapa hari? Mereka juga bukan anjing peliharaan bukan? Mereka lebih mirip anjing liar yang sebesar serigala.
"Turunkan aku," ucap Riot sambil menepuk pundakku beberapa kali. Aku segera menurunkan Riot, dia kemudian berjalan perlahan mendekati gerombolan anjing itu.
"Guk! Guk!"
BRUK!
"Hahahaha! Ini geli!" Riot dijilati oleh anjing-anjing itu secara spontan. Tidak digigit ... sepertinya benar bahwa mereka sudah menjadi jinak. Tapi sekarang yang aneh adalah ... kenapa merpati itu membawaku ke sini.
Pluk! Pluk pluk! Pluk!
"Hah?" Buah-buahan terus berjatuhan di depanku, saat aku melihat ke atas ... ada begitu banyak burung yang terbang sambil membawa buah di cengkraman kaki mereka maupun di paruh mereka.
Mereka memberiku makan?! Tunggu?! Serius?! Mereka peliharaan seseorang?! Tapi siapa? Aku tidak tau ada orang segila ini yang bahkan memelihara babi hutan sampai harimau di rumahnya.
"Oh? Kalian sudah sampai?".
Aku menoleh ke asal suara yang tidak asing bagiku. Dari balik semak-semak, muncul seorang gadis kecil dengan rambut pirang ... dia ... adalah anak yang waktu itu kuajak mencari buah!
"Maaf, kalian pasti kaget kenapa aku meminta temanku untuk menggiring kalian ke sini," ucapnya dengan nada yang sopan serta tatapan bersalah. Aku langsung memasang posisi siaga, mataku menatap gadis itu dengan tatapan curiga.
"Kau?! Siapa sebenarnya kau?!" tanyaku dengan sedikit berteriak. Anjing-anjing yang sibuk bermain dengan Riot, langsung berlari ke arah gadis itu dan berdiri di depannya. Seolah menjadi perisai gadis itu.
"Kau tidak perlu curiga seperti itu ... aku yakin kau pasti pernah mendengar namaku." Gadis itu berbicara dengan santai, lalu duduk di tanah. Seketika anjing-anjing tadi juga langsung bermanja kepadanya, seperti seorang anak yang merindukan ibunya.
..."Namaku Safa."...
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!