
...Sial! Chast kami semua sudah penuh!...
POV: Ares
Aku menatap Ron dengan tatapan putus asa. Kami sudah mengerahkan semua yang kami miliki untuk mengalahkannya. Tidak ada yang menyangka bahwa dia bisa hidup kembali.
Ken menggertakkan giginya, rahangnya mengeras serta matanya penuh dengan sorot kemarahan. Dia langsung berdiri dan berlari menerjang ke depan Ron.
"SIALAN KAU!" Hanya berbekal tinju mungilnya, dia nekat untuk melawan Ron. Aku yang panik langsung ikut berlari untuk menghentikannya.
"Ken! Berhenti! Jangan mendekat ke arahnya!" teriakku yang tidak didengar oleh Ken. Ron tersenyum remeh saat melihat Ken yang maju menerjang dengan ceroboh. Dia mengangkat tangan kanannya, bersiap untuk menjentikkan jarinya.
Ctik!
Srash!
"Uhuk!" Dalam satu jentikkan jari, Ron mengendalikan air yang berada di bawahnya untuk mencekik Ken. Aku masih diam mematung, menatap arus air yang meliuk-liuk bagaikan ular yang hidup.
"Ron! Cepat lepaskan Ken!" teriakku pada Ron. Dia melirikku sebentar, sudut bibirnya terangkat seolah meremehkanku.
"Kau bahkan tidak lebih dari seekor lalat bagiku," ucap Ron dengan seringaian di wajahnya. Aku hanya fokus pada Ken yang mulai terlihat lemas.
Sial! Bagaimana ini?! Jika dibiarkan seperti ini, dia bisa mati!
"Ron! Turunkan Ken sekarang juga!" teriakku lagi. Tapi Ron tidak mengindahkan perkataanku, malah dia terus mencekik Ken dan mengangkatnya ke atas.
DRRK!
DUAR! DUAR! DUAR!
Gempa bumi yang hebat muncul lagi. Aku yang tidak siap, langsung terjatuh ke bawah gedung.
Sialan! Aku akan tenggelam!
Aku menutup mataku, bersiap untuk tercebur ke dalam air yang dalam ini.
Pluk!
Hah? Kenapa ini sangat empuk? Rasanya ... seperti kasur?
Perlahan aku membuka mataku, begitu terkejutnya aku saat tahu bahwa ada kasur di bawahku. Dan yang membuatku terkejut bukan hanya itu.
City, dia juga hidup lagi.
Dia mengendalikan tanah kota ini, membuat celah besar sebagai jalan masuknya air. Perlahan-lahan, air yang dikendalikan oleh Ron semakin berkurang. Karena celah yang dibuat oleh City, airnya bisa mengalir ke tempat lain.
"Kau ... hidup lagi?" tanyaku sambil melihat lengan besar tempatku berpijak. Mataku menatap ke arah kepala raksasa itu, bongkahan batu yang membentuk tubuh raksasanya mulai terbuka dan pecah.
Menampilkan sesosok anak kecil dengan tangisan air matanya.
"Kakak, hentikan semua ini," ucapnya pelan, tapi terdengar sangat jelas di telingaku. Mata anak itu menatap lurus ke arah Ron.
Tunggu, dia adalah adik Ron?
"Apa? Sejak kapan ingatanmu kembali?" tanya Ron sambil menatap City. Karena perhatiannya yang terpecah, akhirnya dia melepaskan Ken. Melihat Ken yang terjatuh dari tempat tinggi, aku langsung berdiri dan hendak menangkapnya.
BRUK!
"ACK!" rintihku saat tubuh Ken malah menindihku. Mataku menatap ke arah wajah Ken yang begitu pucat dan sedikit membiru. Dia pingsan karena kehabisan oksigen.
DRRK!
Aku merasakan tangan yang menompaku mulai turun, sepertinya City berniat menurunkanku. Aku segera bangun lalu menggendong Ken di punggungku.
"Maaf karena aku telah memukulmu tadi, sekarang ... serahkan sisanya padaku," ucap City dengan senyuman di wajahnya. Meskipun begitu, air matanya tidak berhenti menetes.
Aku mengangguk, saat sudah dekat dengan daratan, aku langsung melompat turun.
Duo monster.
"Aku harus bersembunyi," gumamku pelan sambil menatap sebuah gang kecil. Aku lalu masuk ke dalam gang itu dan melihat pertarungan kedua monster tadi.
"Sepertinya kekuatan Draw bukan hanya berpengaruh padaku ya?" ucap Ron dengan senyum anehnya. Karena sekarang bukan hanya warna matanya saja yang merah. Tapi seluruh tubuhnya juga ikut berwarna merah.
"Draw? KAU BAHKAN MEMBUAT ISTRIMU SEBAGAI BAHAN PERCOBAAN?!" teriak City dari kejauhan. Mendengar fakta ini, tentu saja aku lebih terkejut. Ron benar-benar seperti orang yang tidak punya perasaan.
"Hah? Bukankah itu adalah sebuah kehormatan baginya? Dia harus patuh pada suami, bukan?" tanya Ron tanpa rasa bersalah sedikitpun. Bahkan aku yang tidak punya hubungan dengannya, ikut merasakan rasa marah hingga ke ubun-ubunku.
"Kau ... bukan lagi kakakku. Warna merah di tubuhmu itu, berarti kau sudah mengonsumsi RSA, bukan?" tanya City sambil menundukkan wajahnya.
RSA? Apa itu?
"Ternyata kau masih punya ingatan saat kau masih jadi bonekaku," gumam Ron dengan seringainya.
"Dengan obat RSA yang aku ciptakan ini! Manusia bisa menggunakan kekuatan tanpa peduli pada chastnya! Ini adalah obat yang memberikan kesempatan pada manusia untuk jadi DEWA! KITA TIDAK BOLEH MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN DARI KEKUATAN INI!" ucap Ron dengan ekspresi penuh rasa obsesi. Dia terobsesi pada kekuatan tubuh mungil usia 12 tahun miliknya itu.
"Kau sudah bukan kakakku, aku akan menghentikanmu dengan tanganku sendiri!" City terlihat sangat marah dan kecewa. Dia menarik seluruh bangunan dan gedung di sekitar sini. Bahkan aspal ikut tertarik padanya. Semua bahan material itu menempel dan bergabung, membentuk wujud raksasa yang lebih besar dari sebelumnya.
Ron hanya tertawa kecil, dia membuat puluhan tornado kecil dari pusaran air yang dia naiki. Meskipun ukurannya kecil, tornado yang dia ciptakan punya kecepatan yang sangat tinggi.
BRAK! BRAK! PRANGG!
Bahkan tubuh raksasa City jadi seperti roti saat mengenainya. Pusaran kencang dari air yang dia kendalikan, bisa melubangi tubuh bangunan raksasa milik City dengan mudah.
"Tidak cukup kau menjadikanku bahan percobaan! Bahkan istrimu saja kau korbankan?!" teriak City sambil berusaha bertahan dari kekuatan besar milik Ron.
Crash!
Sebuah tornado air mengenai kepala City, luka fatal tak terelakkan dari sana. Cipratan dan tetesan darah segera mengalir, tapi itu tak membuat City menyerah begitu saja.
"Masih ... belum," ucap City dengan senyuman terakhirnya.
DUARR!
City meledakkan diri, puing-puing bangunan yang membentuk tubuh raksasanya langsung meledak dan terbang ke berbagai arah.
"Sampai akhir, kau tetap jadi adik yang tidak berguna," ucap Ron dengan ekspresi yang dingin. Setelah kematian City, aku hanya diam.
Dia ... tidak punya rasa bersalah? Apa dia masih manusia?
"Ron ... kau bukan manusia," ucapku menahan amarah. Aku langsung menurunkan Ken yang sedari tadi kugendong, lalu langsung melesat terbang ke arah Ron.
Cring!
Aku menciptakan sebuah pisau, karena hanya ini yang tersisa dari chastku.
JREB!
CRAT!
Aku berhenti di udara. Menatap pemandangan yang mengguncangkan mental ini. Aku belum menusuknya, ada orang lain yang melakukannya.
"Ayah ... jangan jadi orang jahat ya? Ayo kita ke surga saja, hiks," seorang anak kecil berusia 12 tahun, dengan mata merah dan rambut pirangnya. Dia memeluk Ron dari belakang sambil menancapkan anak panah.
"Itu ... Hunt?!" teriak Riot dari balik tong sampah.
"Hunt ... ADALAH ANAK RON?!"
TBC.
JANGAN LUPA LIKENYA YA GUYS!