Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Masa Lalu Ron! (3)



..."Adik janji ya? Mulai sekarang ... jangan pernah minum susu buatan ibumu lagi." ...


POV: Ron


"Loh, kenapa dok?" tanyaku dengan nada yang kebingungan. Dokter itu masih diam dan menatapku dengan bingung juga, dia pasti sedang memikirkan kata-kata yang tepat untukku.


"Itu karena ... dalam proses penyembuhan, adik tidak boleh mengonsumsi susu. Jadi lebih baik adik menghindari susu lebih dulu," ucap si dokter pada akhirnya. Aku mengangguk pelan, aku memang pernah membaca bahwa susu memberi reaksi penolakan pada obat, karena itu orang yang akan minum obat tidak boleh minum susu.


"Oh ... baiklah dok! Kalau begitu ... setelah sembuh juga sudah boleh?" tanyaku lagi. Si dokter langsung kelabakan, apakah dia tidak menduga bahwa aku akan bertanya seperti ini?


"Mungkin lebih baik, adik untuk seterusnya jangan minum susu ya? Setelah proses penyembuhan yang panjang, takutnya akan memberi efek alergi nanti," ucapnya berusaha menjelaskan. Aku masih diam dan memperhatikan ekspresi wajahnya, aku takjub karena dia sungguh tenang saat berbohong. Berbeda dengan si perawat tadi, ekspresinya begitu tenang dan membuat orang lain percaya.


Tapi aku masih tidak paham kenapa dia berbohong padaku.


"Pak dokter," panggilku. Dia segera menatap mataku dan menaikkan alisnya, seolah berkata 'ada apa?' kepadaku.


"Reaksi ionisasi dari NaCl itu sama dengan Na+ + Cl- bukan?" tanyaku tiba-tiba. Tentu saja si dokter langsung terkejut mendengarku berbicara seperti itu.


"Salah satu pencetus teori atom yang tertua adalah John Dalton, pada tahun 1808," ucapku lagi. Si dokter itu kini memandangku dengan tatapan aneh. Aku hanya tersenyum lalu berusaha untuk duduk.


"Dokter pasti ... sudah paham bukan? Aku tidak ... seperti anak pada umumnya ... karena itu, dokter bisa ... bilang yang sejujurnya padaku," ucapku dengan nafas yang pendek. Ketika aku duduk, aku langsung merasa oksigen dari paru-paruku hilang, padahal aku masih memakai alat bantu pernafasan.


Mataku segera menatap dokter itu lagi, dia seperti sedang memberi pemikiran yang kuat untuk dikatakan. Karena tidak kuat untuk duduk, aku akhirnya memilih untuk kembali berbaring.


"Jadi begini ... saya berasumsi bahwa susu yang ibu adik berikan, justru adalah penyebab adik masuk rumah sakit sekarang," ucapnya sambil menyentuh punggung tanganku yang di-infus. Aku mengernyitkan keningku, menatapnya dengan tatapan marah.


"Kenapa dokter ... bisa beranggapan hal seperti ... itu?" tanyaku dengan nada yang cukup keras. Dokter itu segera mengusap pucuk kepalaku dengan lembut, matanya juga menatapku denga iba.


"Apa adik pernah dengar tentang obat Cholinesterase Inhibitors?" tanya si dokter. Aku masih diam dan mencoba mengingat-ingat, sepertinya aku sudah pernah membaca beberapa paragraf tentang obat itu.


"Obat untuk ... pasien demensia?" tanyaku ragu. Dokter itu terkejut karena aku tahu, tapi dia segera mengangguk untuk menjawab pertanyaanku.


"Hebat sekali, kamu bahkan tau tentang obat ini," pujinya padaku. Aku sedang tidak dalam mood untuk senang sekarang, jadi aku tidak membalas perkataannya.


"Lalu ... apa hubungan ... obat itu denganku?" tanyaku pada si dokter.


"Apa adik sudah tau ... bagaimana jika kita mengonsumsinya secara overdosis?" tanya si dokter juga. Aku langsung terdiam, dalam beberapa artikel yang kubaca, jelas dampak dari obat ini cukup serius.


Mulai dari rusaknya syaraf pusat, gangguan pernafasan, hingga lumpuh total. Apakah ibu tega melakukan hal ini padaku?


"Hiks ... hiks ... aku benci ... ibu ... aku juga benci ... hiks ... dokter," ucapku sambil menangis pelan. Dokter itu langsung mengusap pucuk kepalaku dengan pelan dan lembut, sesekali dia membersihkan air mata yang menetes dari mataku, lalu berkata semua akan baik-baik saja.


Tidak bisa dok, ini tidak akan baik-baik saja. Andai saja aku tidak tau, mungkin lebih baik. Karena aku sudah tau, aku jadi ingin hidup. Tapi kenapa aku harus bermusuhan dengan ibuku sendiri?


Pintu ruangan terbuka, menunjukkan sosok ibuku yang datang dengan raut wajah khawatir. Dokter yang sedari tadi menemaniku, langsung membisikiku sesuatu sebelum pergi.


"Adik sudah tahu semuanya, saya yakin adik tau cara mengatasinya," bisiknya padaku. Setelah itu dia segera berdiri dan menyapa ibuku. Bisa kulihat bahwa mereka bercengkrama dengan ramah, seolah tidak ada masalah di raut wajahnya.


Beberapa kali ibuku juga melirikku lalu menatap dokter.


"Ron sayang, kenapa kamu jadi sakit begini?" tanyanya dengan nada khawatir. Setelah mendengar perkataan dari dokter itu, aku jadi tidak bisa merasakan hal yang sama seperti sebelumnya, terlebih pada ibuku. Ingin rasanya aku segera bertanya padanya dengan jujur, agar semua rasa penasaran ini terjawab.


"Tidak apa-apa ... ibu," jawabku sekenanya. Ibuku tampak tidak puas dengan jawabanku, dia segera menaruh tasnya di pangkuannya dan mengeluarkan sesuatu.


DEG!


Hahahaha, kupikir memang aku yang bodoh. Karena terlalu berharap pada kenyataan yang selama ini aku abaikan. Kalian tau apa yang ibuku keluarkan?


Buku pelajaran.


"Nah Ron, karena kamu pasti bosan jika hanya diam dan melihat-lihat, bagaimana jika kamu-," ucap ibuku terpotong karena dokter langsung mengambil buku pelajarannya.


"Maaf Bu, demi istirahat yang lebih baik. Kami tidak bisa menyetujui tindakan seperti ini, dan daripada memberi buku untuk hiburan, bukankah anda bisa membawakan mainan yang layak dimainkan anak usia 5 tahun?" tanya si dokter dengan penuh penekanan di akhir kalimat. Bukannya sadar dengan apa yang dikatakan oleh dokter, ibuku malah marah dan berbicara nyalang padanya.


"Anak saya ya terserah saya! Dokter punya hak apa buat melarang apa yang saya lakukan?! Anak saya juga mau-mau saja kok!" teriak ibuku. Sontak ruangan ini jadi semakin ramai, dan membuat kepalaku jadi pusing.


"Tolong jangan berteriak, ini menganggu istirahat pasien. Dan tentang saya yang punyak hak apa? Saya adalah dokternya, selama dia masih sakit, dia berada di bawah tanggung jawab saya. Dan anda? Kemana anda di saat masa kritisnya? Saya harap anda cukup sadar diri sekarang." Pak dokter berbicara dengan tenang, tapi aku yakin dia sedang menahan amarahnya sekarang. Itu terlihat dari kepalan tangan kirinya yang bergetar.


"Lalu, memangnya anda pernah bertanya apa kemauan anak anda? Bagaimana kalau anda bertanya padanya sekarang?" ucap pak dokter sambil menatapku. Ibuku bahkan tidak melirikku, seolah yakin bahwa aku akan menjawab tidak apa-apa.


"Anak saya pasti mau! Saya tau bahwa sejak kecil dia memang suka belajar!" ucap ibuku tegas. Tentu saja dia salah, aku hanya melakukannya karena dia senang. Karena aku bisa melihat ibu yang tertawa bahagia saat aku pintar, dan karena aku bisa merasakan kasih sayang yang ibu berikan saat aku menjawab soal dengan benar.


"Aku ... tidak mau," ucapku dengan sangat pelan. Dokter dan ibuku berhenti bertikai, mereka langsung menatapku.


"Kau bilang apa tadi?" tanya ibuku dengan ekspresi marahnya.


"AKU TIDAK MAU!" teriakku dengan lantang. Ibuku langsung naik pitam, bisa kulihat dia berjalan ke arahku sambil menaikkan lengannya.


...Apakah dia akan menamparku? ...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!