Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Siapa yang benar?



..."Oh iya, karena kau pendatang baru, kau pasti belum tau tentang kisah Bos Boni dan Safa kan? Apa kau mau dengar cerita dari versi yang kutau?" ...


POV: Riot


Anak laki-laki di depanku mulai berbicara aneh. Aku tidak peduli dengan cerita Boni atau Safa atau siapapun itu. Aku lebih peduli kenapa mulutku masih diselotip sampai sekarang. Aku ingin menguap saja tidak bisa.


"Jadi ceritanya bermula seperti ini.


Di suatu kota, hiduplah dua gadis kecil. Mereka saling berteman dengan satu sama lainnya. Keduanya tumbuh besar bersama, dan hingga pada saat beranjak usia dewasa. Perbedaan sifat mereka semakin kentara.


Yang satu haus akan kekuasaan, dan yang satu haus akan keadilan.


Begitu bencana wabah gas merah ini dimulai, gadis yang haus kekuasaan itu memulai rencananya. Dia menggunakan kekuatannya secara terang-terangan, sangat besar dan kuat. Hingga tak ada satu orang pun yang bisa melawannya.


Setelah merebut kekuasaan itu, sang sahabat tidak tinggal diam, dia melawan balik sahabatnya dan merebut kekuasaan yang dia ambil. Demi kedamaian kota, sahabat masa kecilnya diasingkan ke tempat terpencil.


Oh, dan kau pasti pernah mendengar tentang 'tittle' bukan? Mau kuberitau satu hal?


Tittle itu hanya omong kosong. Itu hanyalah sebutan yang dibuat agar kami terlihat semakin kuat. Yah, walaupun kami memang kuat." Elvon terus berbicara tidak masuk akal. Yah ... aku juga bukannya peduli dengan apa yang dia ceritakan. Tapi apa yang dia beritahukan di akhir tadi ... tittle itu hanya sebuah kebohongan?


Terserah! Apapun itu, aku harus segera pergi dari sini! Tapi bagaimana?!


...


Oiya ... kau bodoh Riot. Kau kan bisa teleportasi ... LALU KENAPA AKU MALAH MEMBIARKAN DIRIKU DUDUK BERJAM-JAM SAMPAI KAKIKU KERAM DI SINI?!


AH BODO AMATLAH!


Fuut!


Bruk!


"Hmp!" Aku berteleportasi 1km ke arah Utara. Entah dimana aku sekarang, yang pasti aku sedang berada di ... atas pohon?!


Apa tadi aku diculik di atas sebuah gedung?! Kenapa aku jadi nyangkut di atas pohon begini?! Mana talinya belum dilepas lagi! Apa tidak ada orang yang mau menolong?! SIAPAPUN?!


"HMP HMPPPP!"


***


POV: Ken


Tunggu ...


Kenapa aku ada di sini sekarang?


Bukankah aku tadi sudah ditolak? Kenapa sekarang aku ada di atas jembatan ... bersama Civilian?


TUNGGU, SERIUS! INI KENAPA AKU ADA DI SINI?!


Oh ... benar ... tadi aku di datangi oleh Civilian, karena saking terkejutnya ... sepertinya otakku berhenti berfungsi untuk sesaat.


"Ken, apa yang sedang kamu pikirkan?" Suara Civilian membuyarkan lamunanku, kini aku hanya berdua dengannya. Di atas jembatan tua dengan sungai yang mengalir jernih.


"Um ... um ... t-tidak ada apa-apa!" jawabku dengan gugup. Saat aku melihat ke arah Civilian, hatiku sedikit tidak enak karena ekspresinya terlihat kecewa.


"Maaf, apa di sini tidak menyenangkan?" tanya Civilian dengan nada yang ragu-ragu. Aku langsung menggelengkan kepala dengan cepat, sebagai tanda bahwa aku tidak setuju.


"Tempat ini bagus! Aku juga suka sekali," ucapku dengan semangat. Saat melihat Civilian tersenyum, ada segelintir rasa yang menggelitik hatiku, tapi aku tidak membenci perasaan ini. Rasanya seperti candu yang membuatku ingin terus merasakannya.


Aku menggerakkan tanganku, mencoba menyentuh ujung jari Civilian.


Um, mereka bilang pegangan tangan di kencan pertama itu buruk bukan? Kalau aku hanya memegang dengan jari kelingking, apakah itu boleh?


Aku mengaitkan jari kelingkingku di telunjuk Civilian, setiap kulit kami yang bersentuhan, memberi perasaan hangat dan panas yang membuat nyaman.


"Baru kali ini ..." Civilian mulai berbicara sambil menatap ke arah langit berbintang.


"Baru kali ini aku ingin kehidupan normalku kembali," ucapnya sambil tersenyum tipis ke arahku. Hatiku berdegup kencang, dorongan untuk memeluknya begitu kuat saat ini.


Triririring!


Suara ponsel Civilian berbunyi. Aku segera melepaskan jari kelingkingku dan menyibukkan diri sambil melihat bintang. Sedangkan Civilian dengan tenang mengambil ponsel itu dan menjawab teleponnya.


"Oh iya, baiklah."


"Aku paham, 10 menit lagi aku akan ke sana."


Tuk.


Civilian menutup teleponnya lalu menghela nafas sejenak. Dalam sudut hatiku, ada sedikit rasa kecewa. Pasti karena sebentar lagi dia akan pergi. Tak sadar bahwa waktu terasa begitu cepat saat aku bersamanya.


"Maaf, aku harus pergi sekarang. Terimakasih untuk hari ini, itu tadi cukup menyenangkan," ucapnya sambil merapikan jas hitam masih dia pakai. Aku mengangguk kecil sambil berusaha tersenyum. Karena aku tidak ingin dia berat hati ketika meninggalkanku.


Cup.


DEG!


Aku langsung mundur beberapa langkah sambil menutupi dahiku. Rasanya wajahku sudah sepanas arang perapian, bahkan mungkin lebih merah dari pada tomat ataupun apel.


Civilian baru saja mengecup dahiku.


Setelah melakukan itu, dia hanya tersenyum tipis lalu melenggang pergi. Tanpa meninggalkan sepatah kata apapun, hanya menyisakan sebuah perasaan yang sulit dilupakan.


"Kita akan bertemu lagi lain kali!" ucapnya dari kejauhan. Aku melambaikan tangan sambil mengangguk, setelah itu barulah dia menghilang di balik sebuah pohon yang rimbun.


Srek.


Aku terduduk lemas samb bersandar di dinding jembatan. Rasanya seluruh tenagaku habis, kakiku terasa lemas dan seluruh badanku memanas.


Yah tapi ... ini bukan perasaan yang buruk. Mungkin ini yang orang-orang katakan tentang jatuh cinta?


***


POV: Vani


Serius deh.


MEREKA SEMUA KEMANA?!


Mereka meninggalkanku sendirian di rumah sakit ini?! Di tengah malam begini?! Bukannya tadi Ares masih di sini ya? Pergi kemana lagi anak itu?


Dan Riot juga! Katanya izin ke toilet tapi tidak kembali sampai sekarang! Apa dia kena diare karena tidak kurestui makan apelku?


Lalu Ken! Kemana dia?! Tiba-tiba dia pergi berlari keluar saat melihat ke jendela. Sekarang malah tidak kunjung kembali! Memangnya apa sih yang tadi dia lihat?!


...


"Aku bosan," ucapku sambil berguling ke kanan dan kiri. Perutku juga mulai berbunyi karena rasa lapar, sebenarnya masih ada buah sih ... tapi aku sudah bosan hanya makan buah saja.


Tap ... tap ... tap.


Deg!


Siapa itu?


Aku segera beranjak dari tempat tidur dan mendekat ke arah pintu. Ada suara langkah kaki yang kian mendekat ke arah ruanganku.


Ah, mungkin hanya suster.


...


Tapi suster mana yang jam 12 malam berkeliaran di lorong?! Sejak kemarin juga jam 12 malam tidak ada suster yang berkeliaran kok?!


Lalu ini siapa?!


Aku segera menjauhi pintu dan mencari beberapa senjata. Kekuatanku tidak bisa digunakan di dalam ruangan, karena itu akan sangat berbahaya jika aku hanya bertarung seorang diri.


Ada gunting.


Aku segera meraih gunting itu, dan bersiap untuk menikam siapapun yang masuk ke dalam ruangan lewat pintu. Untuk berjaga-jaga, aku mematikan lampu ruangan ini agar tidak bisa dilihat dari luar.


Tap ... tap ... tap.


..."A-apa? Itu?"...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!