
..."Kau yang bodoh, Ron."...
POV: Ares
Dalam sekejap, Riot dan Ken berteleportasi ke bawah Ron. Riot menjatuhkan dirinya ke air, beruntung aku bisa menangkapnya. Sedangkan Ken, dia bergelantungan sambil memegang kaki Ron.
Hah? Memegang kaki? Jangan-jangan ...
BLAR!
KRAK! CRATT!
Kaki Ron langsung meledak dan putus saat itu juga. Tidak sampai di situ, sebelum Ken jatuh, aku melihat bahwa Ken memberi semacam penyakit kulit pada Ron. Hal itu membuat kulit Ron mulai melepuh dan terus menyebar.
"Ken!" Aku bergidik ngeri saat melihat tubuh Ron yang jadi seperti itu. Aku mulai membayangkan sebuah pelampung bebek untuk anak-anak dan menjatuhkannya ke bawah.
BYUR!
"Pakai itu Ken!" ucapku dari atas ketinggian. Ken yang sudah tercebur langsung berenang perlahan mendekati pelampung yang kubuat. Sambil menggendong Riot di punggungku, aku terbang turun secara perlahan, mendekat ke arah Ken.
"Apa yang kau berikan pada Ron?" tanya Riot yang berada di punggungku. Ken yang masih sibuk membersihkan rambutnya yang basah, melirik sebentar ke arah Riot lalu kembali fokus pada rambutnya.
"Apa kau pernah dengar tentang penyakit Eksim?" tanya Ken tanpa menoleh ke arah Riot. Aku dan Riot menggelengkan kepala. Baru kali ini aku mendengar istilah itu.
"Eksim adalah penyakit pada kulit yang disebabkan oleh peradangan sehingga menimbulkan gatal, kulit kering dan bersisik. Tapi di satu titik lainnya, itu bisa membuat kulit melepuh dan mengeluar cairan bening.
Aneh, harusnya eksim itu tidak sampai seperti itu. Tapi kenapa Ron ... kelihatan sangat kepayahan?" tanya Ken saat menatap Ron yang mulai mengeluarkan darah di sekujur tubuhnya.
Sudah kuduga, sejak awal aku merasa ada yang aneh di tubuh Ron. Apakah dia seperti itu karena reaksi penolakan obat dari dalam tubuhnya?
DDRRK!
DRAK!
"Yah, apapun itu ... kita harus segera pergi dari sini. Ron sudah tidak bisa mengontrol kekuatannya, ini akan semakin bahaya jika kita terus berada di sini," ucapku lalu mengulurkan tangan pada Ken. Dia hanya tertawa kecil sambil mengusap wajahnya yang basah terciprat air, kemudian barulah dia menerima uluran tanganku.
"Kita terbang!" ucapku lalu menarik Ken terbang ke atas. Kami meninggalkan pelampung bebek berwarna kuning yang ikut hanyut terbawa arus air. Entah kemana seluruh air ini akan mengalir, tapi bisa kupastikan bahwa kota ini tidak akan tenggelam lagi.
"Tadi kalian menaruh Vani di mana?" tanyaku sambil menatap Ken dan Riot secara bergantian. Riot menyentuh punggungku dengan jari telunjuknya lalu melirik ke arah gedung yang berada cukup jauh dari sini.
"Aku membaringkannya di sana," ucap Riot. Aku mengangguk sebagai tanda paham, lalu langsung terbang dengan agak cepat ke sana. Meskipun sejujurnya, tanganku agak sakit karena harus menopang berat tubuh Ken dan Riot.
Lain kali aku akan buat helikopter.
"Nah! Kita sudah sampai!" ucapku sambil menurunkan Ken dan Riot. Aku langsung berbaring lelah sambil menatap awan kelabu yang berkumpul. Sementara Ken duduk di sebelahku dan ikut menikmati pemandangan. Sepertinya Riot pergi untuk menyusul Vani.
"Apakah kita sudah menang?" tanya Ken dengan tatapan yang kosong dan lelah. Aku yang masih terbaring, hanya bisa mengerjapkan mataku beberapa kali, rasanya terlalu lelah bahkan untuk sekedar membuka mulut.
Bruk!
"Aku sudah sangat lelah! Hari ini aku melakukan begitu banyak peran!" keluh Riot sambil membaringkan Vani di sampingku, sedangkan dia ikut tiduran di sisi lainnya. Mendengar keluhan Riot, Ken berdecak kesal lalu menatapnya dengan marah.
"Apa maksudmu?! Peran yang paling banyak itu diambil oleh Ares dan Vani! Lihat Vani dia-," ucapan Ken terpotong. Tiba-tiba berhenti bicara dan wajahnya menjadi pucat.
"HEI AKU BARU INGAT! LUKA VANI MASIH MENGANGA LEBAR! AYO KITA HARUS SEGERA KELUAR DARI KOTA INI DAN CARI OBATNYA!" Ken mendudukkanku dengan paksa lalu menggoyang-goyangkan bahuku. Aku langsung merasa kepalaku sangat pusing dan mual.
"Aku juga ingin begitu! Tapi kita tidak bisa keluar dengan situasi seperti sekarang!" ucapku sambil menunjuk genangan air yang masih berhenti di ketinggian 3 meter. Chastku juga sudah hampir penuh, mustahil membuat perahu dan melanjutkan perjalanan.
"Ka ... li-an, membunuh Ron?"
Deg!
Aku menoleh dengan cepat ke asal suara itu. Mataku melihatnya dari atas sampai bawah. Dia adalah anak perempuan dengan ciri-ciri yang dideskripsikan oleh Riot waktu itu!
"Aku ... tidak akan membiarkan ... Ron mati!" teriaknya menggema di kota ini. Dia mengeluarkan sebuah kuas dan selembar kertas yang basah. Perlahan, di punggung tangannya muncul tanda chast.
Dan yang lebih menganggetkan lagi.
Chastnya bersinar dengan warna ungu.
"Infik kematian?" gumamku dengan pelan. Entah apa yang anak itu lukis, tapi dia menggunakan seluruh kekuatannya hingga batas infik tertinggi.
[Gawat! Hentikan anak itu!]
Suara ini terdengar lagi di kepalaku.
"Loh? Kalian kembali lagi?" tanyaku pelan.
[Anak itu akan menghidupkan kembali Ron!]
[Cepat sobek lukisannya!]
[Dia mendapat infik ungu karena sudah mengubah takdir yang ditetapkan!]
Suara itu berdatangan dan memenuhi kepalaku. Mereka semua menyuruhku segera menyobek kertas yang sedang anak itu lukis. Dengan langkah gontai, aku berjalan secepat mungkin untuk meraih kertasnya.
"Berikan padaku!" ucapku sambil berusaha menyambar kertas yang dia pegang.
"Jangan menggangguku!" ucapnya dengan nada marah, dia langsung menghindar sambil menusukkan ujung kuasnya ke telapak tanganku.
Cras!
"AKHH!" teriakku saat merasakan ngilu yang sangat menyakitkan. Perempuan itu masih terus berjalan ke belakang, tangannya tak berhenti melukis.
"Aku akan menghidupkan Ron lagi! Kalian yang akan mati!" ucapnya lalu mendongak ke arah langit. Cahaya ungu dari tangannya bersinar semakin terang, tanda bahwa sebentar lagi kematian akan menjemputnya.
Langit mulai bergemuruh, awan hitam berkumpul dan berputar di atasnya.
JDER!
Langit menurunkan sebuah petir berwarna hitam. Kilatan itu menyambar anak tadi hingga hilang tak berbekas. Yang tersisa darinya hanyalah selembar kertas yang tadi dia lukis.
Aku dan Ken saling bertatapan, kami akhirnya mendekati selembar kertas itu dengan perlahan.
"Lukisan apa ini?" tanya Ken sambil membolak-balik lukisannya. Aku memicingkan mataku, mencoba melihat dengan lebih jelas.
"Tidak ... ini ... adalah lukisan Ron yang sedang mengendalikan badai," ucapku sambil menunjuk Ron yang menaiki pusaran air.
DRRK!
DUAR! DUAR! DUAR!
Langit bergemuruh sekali lagi. Gempa bumi ini berlanjut dan terus bertambah kuat. Angin ikut berhembus dan mulai berputar di berbagai tempat.
Lukisan ini menjadi kenyataan.
Di depan kami, Ron hidup kembali. Lengkap dengan wujudnya tanpa cacat satupun. Dan juga, kekuatannya yang luar biasa itu kembali.
...Sial! Chast kami semua sudah penuh!...
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!
HALO GUYS! AKU GA NYANGKA BANGET NOVEL INI MASUK REKOMENDASI JUGA! JADI AKU BAKAL BALIK UP LAGI 2 HARI SEKALI!