
"Sepertinya kalian benar-benar orang baik."
POV: Ares
"Hah?!" Riot yang tersulut emosi langsung berjalan ke arah anak yang bernama Rafleo dan mulai mencengkeram kerah bajunya. Riot menyudutkan Rafleo hingga punggung anak berambut pirang itu terdesak ke dinding.
Bruk!
"Jangan buat aku lebih marah lagi. Kami sudah berniat baik ke sini, dan kau langsung melempar kami ke luar gedung?" Riot menggertakkan giginya menahan rasa kesal, dan Rafleo yang sedang dicengkram kerahnya masih diam dan menatap Riot.
"Hei! Riot! Tenangkan dirimu!" Vani berteriak pada Riot saat melihatnya yang mulai lepas kendali. Aku juga segera turun tangan dan membantu untuk menenangkan Riot yang entah kenapa sepertinya sangat marah tentang sesuatu.
"Hei sudahlah, bukankah aku baik-baik saja? Lagipula aku tidak selemah itu sampai akan mati jika hanya jatuh dari gedung," ucapku sambil menjauhkan Riot dari Rafleo. Riot masih terlihat marah, matanya masih memicing tajam dan nafasnya masih terdengar berat. Sambil menepuk-nepuk pundak Riot, aku melirik ke arah Safa yang termenung.
"Ada apa? Safa?" tanyaku padanya. Gadis itu tersentak lalu menoleh ke arahku dengan tatapan bimbang.
"Sepertinya ada beberapa anak yang akan kemari. Dari jumlahnya ... mungkin sekitar 30 anak. Mereka tidak cepat, jika kita segera pergi, mungkin kita akan aman." Safa berbicara dengan nada yang serius. Aku mengangguk paham lalu hendak berbicara pada Riot, tetapi belum sempat aku bicara, anak yang bernama Endo itu lebih dulu berkata.
"Aku yang akan membawa kalian pergi. Tenang saja ... tidak ada yang memahami kota ini sebaik diriku." Endo berkata sambil menerima pengobatan dari Ken.
Tapi ... ini sangat aneh. Kenapa Ken belum selesai mengobatinya? Aku tau kecepatan penyembuhan dari kekuatan Ken, dan harusnya Ken bisa menyembuhkan kelumpuhan hanya dalam beberapa menit.
Tapi sudah lebih dari 15 menit yang berlalu, apa ada yang salah?
"... Aneh, aku ... tidak bisa mengobatinya." Ken menghentikan penyaluran kekuatannya dan menatap kaki Endo dengan bingung. Endo yang sadar bahwa kakinya tidak bisa disembuhkan, tersenyum lalu mengusap rambut Ken dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Kau sudah berusaha. Lebih baik sekarang kita pergi dulu, kita lanjutkan pembicaraan kita nanti." Endo balik menatap kami semua, dan tiba-tiba ...
Fuut!
kami berpindah tempat di sebuah ruangan lain. Ruangan ini masih cukup terang dengan cahaya dari nyala lilin. Aku menoleh ke belakang untuk menatap Riot, tapi dia menggelengkan kepala, berarti ini memang bukan kekuatan Riot.
"Nah, apa kalian mau duduk dulu? Aku yakin kalian juga sadar bahwa kota ini sangat menyeramkan." Endo berkata sambil tersenyum. Setelah Endo berkata seperti itu, sebuah pintu di sebelah Vani tiba-tiba terbuka.
Brak!
"Nah, masuklah. Kalian bisa menunggu di sana." Endo kemudian menghilang, entah dia berteleportasi ke mana. Aku dan Ken masih terdiam dan saling memandang, entah sejak kapan juga Rafleo sudah tidak ada.
Tuing!
"Eng?" Aku menatap ke arah Vani yang menyentil lenganku pelan. Aku mengangkat sebelah alisku sebagai tanda bahwa aku bertanya 'ada apa?'.
"Endo itu ..." Vani berbisik padaku, tapi kalimat selanjutnya tidak terdengar jelas. Aku mendekatkan wajahku ke arahnya dan bertanya sambil berbisik juga, "Endo apa?".
Puk.
Tangan Vani menahan wajahku agar tidak semakin dekat dengannya, detik itu aku juga baru sadar bahwa wajahku sudah sangat dekat dengan Vani. "EKHEM!" Suara Riot yang keras mengagetkan kami, spontan aku dan Vani langsung menjauh.
"Vani, kau ikut aku." Sedangkan Vani diseret oleh Safa ke tempat lain.
Aku masih diam melihat Vani yang kian menjauh, lalu saat dia sudah tidak terlihat lagi, tatapanku kini ganti beralih pada Riot. "Ada apa?" tanyaku sambil mendongak karena posisinya aku memang sedang menekuk kaki.
"Jadi begini ... apa kau yakin bahwa kita harus percaya pada mereka?" tanya Riot sambil memijat pelipisnya. Riot lalu melepaskan genggamannya dan aku juga segera berdiri sambil membersihkan debu yang menempel di kakiku.
"Aku tidak percaya pada mereka kok," jawabku dengan penuh percaya diri. Tapi Riot malah menatapku dengan bingung dan tidak percaya.
"Kalau begitu, kenapa kau begitu santai dan malah menuruti kemauan mereka?" tanya Riot lagi dengan sorot mata yang marah dan kecewa. Aku sepertinya paham kenapa Riot seperti ini, kejadian di Kota sebelumnya, membuat rasa percaya sulit tumbuh untuk orang asing. Pastinya Riot akan merasa curiga.
"Jangan khawatir ..." Aku menyentuh pucuk kepala Riot sambil tersenyum lebar. "Aku ini pintar dan kuat." Bisa kulihat bahwa mata Riot mulai menjadi sedih, dia mengusap matanya berkali-kali dengan telapak tangannya.
"Ya ... aku tau kau kuat. Maaf, harusnya aku lebih percaya padamu." Riot berbicara dengan nada yang sedih tapi senyuman mengembang di wajahnya. Aku terkekeh pelan sambil merangkul pundak Riot.
"Yasudah, yuk kita ke ruangan tadi. Kita harus tau apa yang ingin Endo bicarakan!" ajakku pada Riot. Setelah dia mengangguk, barulah aku berjalan bersama Riot dengan tanganku yang masih merangkul pundaknya.
Setelah kami sampai di depan pintu yang masih terbuka, kami langsung masuk dan mendapati bahwa Ken tengah duduk santai melihat ke arah jendela. "Yo, kalian darimana?" tanya Ken pada kami. Aku melepaskan rangkulanku dan mulai berjalan ke arah Ken.
"Aku sedang membicarakan sesuatu yang penting dengan Riot," jawabku jujur. Ken mengangguk lalu kembali menatap ke arah jendela. "Pasti tentang anak bernama Endo itu." Aku dan Riot langsung kaget karena tebakan Ken benar.
"Kau tau sesuatu?" tanya Riot.
"Hm ... tidak." Ken menjawab setelah berpikir sejenak.
Tok tok tok!
"Apa kami boleh masuk?" Suara Safa membuat kami bertiga menoleh ke arahnya.
"Ya, tentu saja. Apa urusan kalian sudah selesai?" tanya Riot sambil tersenyum ke arah Safa. Gadis itu mengangguk dan membawa Vani masuk. Mereka duduk di depan kami, karena di sini ada 4 kursi panjang yang disusun secara persegi dengan meja bulat di tengahnya.
"Nah sebelum mereka sampai, ada yang ingin aku tanyakan padamu, Ares." Safa bertanya sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
"Apa itu?" tanyaku.
"Kau tidak berniat untuk terlibat masalah kota ini bukan? Atau kau memang sudah memutuskan untuk terlibat?" Pertanyaan Safa begitu tajam, dan karena hal ini, Vani, Ken, bahkan Riot jadi ikut melihatku. Aku terdiam sejenak, aku tidak bisa bilang bahwa kota ini adalah kota terburuk di antara kota yang kita lalui.
Tapi ... yang pasti kondisinya tidak jauh berbeda dari kota yang lainnya juga.
Yang kuatlah yang berkuasa.
"Hal itu ... kita putuskan setelah mendengar cerita Rafleo saja."
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!