Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Serang Ron!



..."Sepertinya kalian cukup bersenang-senang?"...


POV: Author


Ares berhenti mendadak di udara, matanya menatap tajam pada Ron yang menaiki air di depannya. Berbeda dengan yang sebelumnya, Ares merasakan firasat buruk saat melihat wujud Ron saat ini. Rambut dan matanya berubah menjadi warna merah, entah apa yang dia lakukan pada tubuhnya.


"Hmmm, sayang sekali Draw dan Hunt mati, bahkan City juga ikut kalian habisi," ucap Ron tersenyum sambil mengedarkan pandangannya. Gempa mulai berhenti, tetapi airnya masih terus naik. Seolah-olah seluruh air dari dalam tanah terisap ke permukaan.


Cklik.


Ares langsung mengarahkan shotgun ke wajah Ron. Mata emas Ares terlihat dingin dan mengintimidasi. Sedangkan Ron yang berada dalam situasi itu, malah tersenyum dan tertawa.


"Hahahahaha, apa kau masih belum sadar?" tanya Ron sambil menyentuh ujung shotgun milik Ares. Perlahan Ron mendekatkan wajahnya pada Ares, mata emas dan mata merah mereka saling berhadapan.


"Kau harus tau, kapan saatnya berhenti."


BAAM!


Bersamaan dengan Ares yang menarik pelatuknya, Ron mengontrol air kemudian meledakkannya. Ares langsung terbang menjauh, berusaha lepas dari jangkauan Ron. Tapi bagaikan magnet, air itu terus melesat mengejar Ares.


"Sekarang aku sudah menyadari sesuatu, yang paling merepotkan itu bukanlah anak teleportasi. Tapi kau!" ucap Ron dengan geram, dia menggertakkan giginya beberapa kali. Ron mengayunkan tangannya, menciptakan ombak besar di tengah kota.


"Sial, apakah dia juga mengendalikan air dari hujan tadi?" ucap Ares sambil menatap ombak setinggi 30 meter itu. Di hadapan ombak sebesar itu, Ares hanya terlihat seperti lalat kecil seorang diri.


"Gila ... apa chastnya rusak?!" teriak Ares lalu terbang menjauh.


DURMMM!


Ombak itu mulai jatuh, menyapu habis seluruh bangunan di depannya. Ron mengayunkan tangannya lagi, menciptakan lebih dari 10 ombak dengan tinggi yang sama.


"Dengan kekuatan ini, aku akan menguasai dunia! HAHAHAHAHAHA!" ucap Ron sambil tertawa seperti orang gila. Sedangkan Ares masih kuwalahan menghindari ombak besar milik Ron.


WUSH!


"UAKH!" Ares yang terbang di ketinggian, malah berkali-kali terhempas oleh kencangnya angin dari ombak Ron. Ares mencoba bertahan setiap kali angin itu berhembus. Bahkan deburan ombak yang jatuh saja mampu menerbangkan dirinya ke langit.


"Bagaimana ini?" gumam Ares sambil mengusap wajahnya yang basah.


***


POV: Ken


Ares! Dia pasti kuwalahan! Bagaimana caraku membantunya? Aku tidak bisa terbang ataupun berteleportasi seperti Riot.


Tunggu- teleportasi?


"Riot! Apa kau masih bisa berteleportasi?" tanyaku sambil menoleh cepat pada Riot.


Sekarang kami berada di lantai 7 sebuah gedung. Air yang terus naik ini mulai membuat kami cemas. Padahal awalnya hanya sampai lutut, tapi semenjak Ron muncul ... air ini jadi naik lebih cepat.


"Sisa chastku tinggal sedikit, aku hanya bisa berteleportasi sekitar 4 kali lagi," jawab Riot sambil memeras bajunya yang basah. Aku berpikir, bagaimana caranya membantu Ares dalam kesempatan yang sedikit itu?


4 kali teleportasi. Artinya hanya bisa digunakan 2 kali, 2 untuk pergi dan 2 untuk kembali.


"Bagaimana kondisi Vani?" tanya Riot lalu memakai bajunya yang setengah basah, kami berjalan ke arah Vani yang tertidur lelap. Luka dari infik kuning yang dia dapatkan masih menganga segar, aku tidak bisa mengobatinya dengan kekuatanku. Di sini juga tidak ada obat-obatan untuk menutup lukanya.


"Ini sangat buruk, kita harus meninggalkan kota ini begitu selesai," gumamku sambil menyentuh dahi Vani. Walaupun dia tertidur lelap, tetapi bisa kulihat bahwa tidurnya tidak nyaman. Banyak keringat yang menetes dari dahi dan pelipisnya. Sepertinya dia demam?


"Riot, bawa Vani ke gedung yang paling jauh dari sini. Lalu kembalilah ke sini untuk membantuku," ucapku yakin lalu menghembuskan nafas.


Benar, saat ini aku harus membantu Ares. Barulah aku bisa menolong Vani.


"Apa kau punya rencana?" tanya Riot yang mulai menggendong Vani. Mendengar pertanyaan Riot, aku hanya diam sambil tersenyum licik.


"Jangan khawatir, aku tidak akan maju dalam rencana yang sia-sia."


***


POV: Ares


Ron sialan itu! Sejak kapan kekuatannya meningkat sedrastis ini? Rasanya seluruh kota ini akan segera menjadi bagian dari laut!


WUSH!


"AA!" Aku terpelanting karena kencangnya angin dari hembusan ombak itu. Aku bahkan sudah mulai merasa mual karena berputar-putar sejak tadi.


Kalau begini terus, shotgunku tidak akan berguna! Ayolah, apakah tidak ada cara untuk menang?!


Mataku menatap sekeliling, airnya sudah semakin tinggi. Dari yang kulihat, air ini sudah mencapai lantai 10 sebuah gedung. Ketinggiannya sudah mencapai tahap yang berbahaya. Karena banyak gedung yang mulai runtuh, lantai tertinggi yang tersisa mungkin hanya lantai 15.


"Aku harus segera membereskan ini, jika tidak ... maka teman-teman akan tenggelam," ucapku pelan pada diri sendiri. Aku terpikirkan sesuatu, dengan cepat aku langsung membayangkan sebuah tombak dengan ujung runcing di depannya.


Cring!


Wush!


Aku melesat terbang dengan kecepatan tertinggi yang bisa kucapai. Bisa kulihat bahwa Ron mulai mengayunkan tangannya lagi, dalam hitungan detik, ombak besar muncul di hadapanku. Ini bahkan lebih besar dari yang sebelumnya.


Baiklah! Ayo kita bertaruh!


Aku mengeratkan genggamanku pada tombak. Dengan kecepatan penuh, aku melesat lurus ke tubuh ombak itu.


BYUR!


BLERP!


Karena aku memiliki tombak dengan ujung runcing, aku bisa membelah arus air dan angin dan mengurangi beban tekanannya. Meskipun ombak ini sangat tebal, selama aku tidak memelankan kecepatanku ... aku pasti bisa keluar dari ombak ini.


Aku melesat terus dari dalam ombak, Ron yang melihatku tidak menyerah. Dia langsung membuat sebuah dinding air lagi di sekitarnya.


Sial! Tekanannya semakin kuat! Nafasku juga- akhh!


"Kau bodoh, air adalah wilayahku!" ucap Ron lalu memutar pergelangan tangannya seperti mengaduk angin. Aku mulai merasa seperti tubuhku terseret arus!


SPLASH!


"UHUK!" Aku berusaha tetap mengambang di atas air.


JDER!


Aku terdiam kaku saat melihat apa yang Ron buat. Dia menciptakan badai bagai di lautan dengan tornado air yang sangat besar. Bukan hanya satu, di setiap sisi kota ada tornado dengan besar yang sama.


Angin tornado ini begitu kencang, awan yang berkumpul terlihat seperti tertarik di satu titik.


"Ini adalah perbedaan kau dan aku," ucap Ron dengan nada sombongnya. Aku menatapnya dengan kesal, kugertakkan gigiku beberapa kali. Dia sudah mencapai level yang tidak bisa kulewati. Ini seperti mengendalikan lautan beserta isinya.


"JANGAN MENYERAH! ARES!"


Aku tiba-tiba mendengar suara Ken. Tapi aku tidak tau mereka dimana. Samar-samar aku mulai melihat seseorang yang jatuh dari langit.


Itu adalah Ken dan Riot.


"Hah? APA YANG MEREKA LAKUKAN?!" teriakku panik lalu langsung terbang menuju ke arah mereka.


"Hm? Kalian malah menuju sendiri ke sini? Baguslah," ucap Ron sambil menembakkan air berkecepatan tinggi ke arah Ken.


Tapi Ken malah tersenyum, dia menggenggam tangan Riot.


"Satu kali lagi."


"Kau yang bodoh, Ron."


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!


Oh dan mungkin ini update terakhir di bulan ini ya guys! Maaf banget! Aku mau namatin novel pendekku dulu!


Bagi yang mau baca, judulnya Pacarku Putri Seorang Mafia, mampir yuk!