
POV: Ares
"Apa kalian sudah siap?" tanya Riot sambil menatap ke arah kami.
"WOY! ENAK BANGET! SINI BANTUIN AKU ANGKAT BARANGNYA!" ucapku kesal ke arah Riot yang malah membawa barang bawaannya sendiri. Kami hendak pergi dari kota Oner, menuju ke kota selanjutnya. Masalahnya adalah, Vani dan Ken masih terluka, terutama luka Vani yang masih parah. Jadi barang bawaan mereka aku yang bawa.
Tidak, harusnya Riot juga ikut membawanya! Enak banget dia malah bawa punyanya sendiri!
"Yang tua yang ngalah dong!" ucap Riot dengan emosi. Aku langsung menatapnya dengan melotot.
"Umur kita sama! Udah pokoknya punya Ken harus kau yang bawa!" tegasku sambil menaruh tas Ken tepat di depan kakinya.
"Kalau kalian tidak mau bawa yaudah, aku bawa sendiri saja." Ken menghela nafasnya pelan lalu hendak mengambil tasnya. Tapi Riot langsung menyambar tas itu sebelum diambil oleh Ken.
"Tidak tidak! Aku yang akan membawanya! Orang sakit tidak boleh lelah!" Riot berkata dengan menggebu-gebu. Ken tertawa kecil melihat sikap lucu Riot. Kami akhirnya mulai berjalan untuk meninggalkan kota ini.
"Andai saja jalannya tidak rusak, aku ingin pakai mobil," ucapku yang baru berjalan 30 meter sudah lelah.
"Sebenarnya aku sudah tau sesuatu tentang kemampuanku." Riot berucap dengan tiba-tiba. Kami serentak langsung menatap ke arahnya, menunggu dia untuk menyelesaikan kalimatnya.
"Bagaimana?" tanya Vani yang baru berbicara setelah sekian lama. Mungkin karena punggungnya yang sakit, dia jadi jarang bicara untuk menahan rasa sakitnya.
"Aku baru tau bahwa aku tidak perlu membayangkan sebuah tempat untuk berteleportasi, tapi aku tinggal membayangkan jaraknya saja," ucap Riot sambil menunjuk kepalanya. Kami masih terdiam, mencoba untuk mencerna apa yang Riot katakan.
"Tunggu, jadi maksudmu ... kau bisa berteleportasi walaupun tidak tau bentuk daerahnya?!" tanya Ken dengan cepat. Riot mengangguk lalu segera menggenggam tangan kami.
"Lebih baik kutunjukkan saja!" Riot tersenyum lebar.
Fuut!
Kami langsung berpindah tempat. Sekarang kami sedang ada di wilayah yang aneh. Di depan kami, ada jalan besar yang terputus sampai di belakang kami.
"Ini adalah perbatasan kota Oner, kalau kita masih tetap berjalan kaki ... mungkin baru akan sampai tempat ini 3 hari lagi. Kota Oner itu cukup besar," jelas Riot sambil tersenyum lebar. Tapi di matanya masih tersirat sorot mata kesepian. Rupanya dia masih berlagak kuat hingga sekarang.
Yah, pasti menyenangkan punya keluarga yang peduli padamu.
Grep.
Aku merangkul leher Riot dan mengusap kepalanya dengan kasar.
"Woah! Kemampuanmu tambah hebat sekarang!" pujiku padanya, dia hanya tertawa lebar lalu mulai menjelaskan ke mana jalan ini menuju.
"Jika kita melewati jalan ini dan berjalan lurus, maka kita akan sampai di kota Ansorteri," ucap Riot dengan ekspresi serius. Vani dan Ken terlihat mendengarkan dengan serius, sedangkan pikiranku malah fokus pada hal lainnya.
"Kota Ansorteri? Bukankah itu ... salah satu kota terbesar di negeri ini?!" ucapku bersemangat. Mereka bertiga menghentikan obrolannya lalu menatapku.
"Benar, kau sangat bersemangat sekali tentang ini, Ares?" Ken menatapku dengan senyum tulus yang biasa dia berikan. Entah aku harus bersyukur atau sedih, tapi karena Ken sedang sakit, dia jadi jarang marah-marah.
"Hahaha! Tunggu sebentar!" Aku berlari beberapa meter ke depan, lalu segera berjongkok dan menyentuh aspal.
CRING!
"Nah! Mobilnya sudah siap! Lengkap dengan bensinnya!" ucapku bersemangat sambil menunjuk ke arah mobil yang baru saja aku buat.
"Sungguh, jika dunia ini masih normal, kita akan jadi orang kaya dadakan. Ares bahkan bisa membuat mobil tanpa perlu merakitnya," gumam Riot sambil menatap mobilku dengan tatapan kagum. Vani hanya berdehem kecil lalu segera masuk ke dalam mobil.
"Tapi siapa yang menyetir?" tanya Vani saat sudah duduk di bangku penumpang. Saat aku melihat ke arah Ken, aku langsung ingat bahwa Ken masih terluka. Spontan aku menepuk dahiku dengan keras.
Bisa-bisanya aku lupa kalau Ken sedang sakit. Lalu siapa yang akan menyetir?! Riot?
"Kau saja yang menyetir, jangan khawatir ... aku akan memandumu," ucap Ken dengan wajah tenangnya. Kalau dia berekspresi seperti itu, siapapun juga akan langsung yakin bahwa dia bisa menyetir.
"Baiklah, tapi kalau kalian bangun di surga jangan salahkan aku," ucapku pasrah. Aku menghela nafas kecil lalu duduk di kursi supir. Jantungku berdetak cepat saat aku mulai memegang gagang setirnya.
"Pertama nyalakan dulu mobilnya," ucap Ken sambil menunjuk ke arah kunci mobil. Aku mengangguk pelan dan menyalakannya.
BRRM!
"Berhasil!" ucapku senang, Ken lalu menunjuk ke arah gigi mobil.
"Lalu masukkan giginya," perintah Ken lagi.
Cklik.
"Sekarang, injak pedal gasnya pelan-pelan." Ken sedikit memberi penekanan pada kalimatnya. Aku mengangguk dengan semangat, lalu akhirnya kakiku menginjak pedal gas.
BRRM!
BRUAK!
***
"Jangan sampai kita menyuruh Ares menyupir mobil," ucap Riot geram.
"Kupikir tadi aku sudah melihat surga," balas Vani.
"Rasanya tadi aku sudah melihat bidadari," timpal Ken juga.
Ya, seperti yang kalian duga. Mobilnya langsung ringsek. Padahal Ken sudah menyuruhku menginjak pedalnya dengan pelan. Entah kenapa mobilnya langsung melaju dengan cepat.
Beruntung kami hanya menabrak pembatas jalan.
Jadi sekarang kami kembali berjalan kaki, dan aku adalah orang yang membawakan tas mereka dengan gerobak. Sebagai ganti mobil tadi, aku membuat gerobak sampah yang ditarik satu orang, sebagai wadah tas mereka sementara.
"Apakah kalian tidak ada yang mau membantuku?" ucapku pelan sambil cemberut. Riot hanya mendengus kesal lalu berjalan ke arahku.
"Iya, sini aku bantu," ucapnya pasrah. Akhirnya gerobak ini ditarik olehku dan Riot.
Hari menjelang sore, dan bahkan sudah semakin malam. Karena kami hanya berjalan kaki, perlu waktu yang lama untuk sampai ke kota Ansorteri.
"Ugh ... ayo kita beristirahat?" ucap Vani dengan nada yang lemas. Sepertinya Vani sudah mencapai batasnya dalam menahan rasa sakit dan lelah. Aku mengangguk dan segera melihat ke sekeliling, mencari tempat yang bagus untuk istirahat.
"Hmm, kalau tidak salah ... 50 meter dari sini, ada sebuah minimarket. Bagaimana kalau kita menginap di sana?" tanya Riot sambil menatap ke arah Ken. Sedangkan Ken menatap ke ara Vani, meminta pendapat anak perempuan itu.
"Itu ide bagus, ayo kita jalan lagi sebentar." Vani setuju.
Akhirnya kami berjalan lagi, dan benar saja. Terlihat sebuah minimarket yang tidak berpenghuni. Walaupun banyak bahan makanan yang kadaluarsa, setidaknya kita bisa berlindung dari dinginnya malam saat ini.
Terlebih listrik sudah tidak berfungsi lagi.
..."Jadi, kita akan menginap di sini malam ini!"....
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!