Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
War?



"Kau harus ikut denganku."


POV: Ken


Aku menatap ke arah jendela yang pecah, dengan asap yang mulai berhamburan keluar dari rumah-rumah. Pemandangan ini sangat mirip dengan apa yang terjadi di Kota Oner dulu.


Apa yang terjadi? Ares?


"Cepatlah, kau tidak mau teman-temanmu dalam bahaya, kan?" tanya Boni dengan nada yang mengancam. Aku mulai merasakan perih di leherku, sepertinya Boni menekan pisau itu cukup dalam.


Aku menutup mataku dengan pelan, karena tubuhku masih lemas, aku tidak bisa memberi perlawan terhadap apa yang Boni lakukan.


Srek!


Bisa kurasakan lenganku yang perlahan ditarik ke dalam ruangan lain. Saat aku sudah berpikir bahwa aku akan disekap ... suara Ares mengagetkanku.


"TES TES! DIMOHON UNTUK ANAK YANG BERNAMA KENKI EMORA, UNTUK SEGERA MENJATUHKAN DIRI DARI ATAS GEDUNG!


INI BANTALNYA SUDAH DIBENTANG! CEPAT LOMPAT WOY CAPEK INI PEGANGINNYA!" Suara Ares terdengar begitu keras bahkan ditengah keributan ini. Jangan bilang dia memakai pengeras suara super besarnya itu?


"Haha, dia memang anak yang nekat," gumamku pelan sambil menyentuh tangan Boni. Gadis berambut hitam itu terlihat terkejut saat tanganku menyentuh ujung jarinya.


"Apa kau pernah dengar ... penyakit tentang kuku yang tumbuh di dalam daging?" tanyaku dengan seringaian.


BLAR!


"AAAAAKHHH!" Boni berteriak kesakitan, karena aku memberi penyakit itu padanya. Jari kukunya langsung menguning dan mengeluarkan nanah, untungnya dia jadi hilang kendali sementara jadi aku bisa meloloskan diri. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku berlari dan menjatuhkan diri keluar jendela.


Wushh.


Aku baru tau bahwa jatuh dari ketinggian itu senyaman ini. Ada sensasi angin lembut seperti membelai punggungku, rasanya sangat nyaman.


Saat kubuka mataku, bisa kulihat ada Boni dan Thea yang menatapku dari atas gedung kamarku tadi. Entah apa maksud tatapannya, tapi mereka terlihat marah.


WUSH!


"Hah?! Kenapa Thea ikut lompat?!" Aku terkejut bukan main saat gadis dengan rambut berwarna coklat kemerahan itu melesat cepat ke arahku. Rambut panjangnya yang digerai, terlihat seperti hantu wanita yang ingin memakanku.


BUAGH!


"ELLY?!" Aku menatap ke arah punggung gadis kecil yang terbang di depanku, dia memukul Thea tepat di pipi kirinya. Elly melirik ke arahku sambil tersenyum sinis.


"Mereka membutuhkanmu, jadi ... serahkan yang di sini padaku!" ucap Elly dengan nada yang yakin.


Grep!


Thea menahan tangan Elly yang menyentuhnya, dan menatap Elly dengan tatapan beringas. Gigi taring Thea terlihat jelas layaknya seekor serigala.


"Miniatur pertamaku!" ucap Thea sambil mengeluarkan cahaya berwarna biru yang sangat terang.


DEG!


Saat cahaya tadi perlahan memudar, Elly sudah hilang. Yang tersisa hanyalah Thea yang tertawa lepas di atas udara.


Bluk!


Aku terjatuh di atas sebuah bantal yang besar, jadi rasanya tidak sakit sama sekali. Saat melihat Thea yang sudah dekat, aku berniat untuk menghindarinya karena belum tau apa kekuatan Thea.


Fuut.


"Ayo pergi," ucap Riot yang tiba-tiba muncul di depanku.


"KENA KALIAN!" Thea juga sudah tiba tepat di atas kepalaku. Tapi sebelum jari Thea menyentuh rambutku, Riot berhasil berteleportasi untuk menghindar dari serangan Thea.


Fuut.


BRUK!


"ADUH!" Aku berteriak saat merasakan punggungku menabrak sesuatu yang keras.


Fuut.


Gelap, remang-remang.


Mungkin ini gudang? Tapi tadi kemana Riot? Berani-beraninya dia meninggalkanku sendirian di tempat seperti ini?


"Ugh ... apa di sini tidak ada lampu?" Aku berusaha berjalan sambil merangkak, mencari dimana dinding untuk meraba.


"BA!"


PLAK!


Aku spontan menampar seorang gadis dengan rambut merah di depanku. Dia tampak termangu untuk sesaat, lalu menatapku dengan tatapan mata yang berair.


L-loh? Dia nangis?


"KAU JAHAT BANGET! INI AKU! VANI! MASA BEGITU SAJA TIDAK TAHU? KAU BODOH ATAU BODOH?" Dia berteriak padaku sambil melepaskan wig merah yang sedari tadi menempel di kepalanya. Tak lupa dia juga melepaskan lensa hitam yang dia tempel di matanya untuk menutupi mata asli merahnya.


Mata merah?


...


LOH INI BENERAN VANI?! KOK BISA-BISANYA AKU TIDAK SADAR?!


"Tunggu, jadi sejak awal ... ANAK MENGESALKAN KEMARIN ITU ADALAH KAU?! KENAPA KAU MEMBERIKU OBAT PELUMPUH?!" tanyaku sambil menggoyang-goyangkan pindah Vani dengan cepat.


Plak!


Vani menamparku dengan cukup keras hingga aku terdiam.


"Dengarkan aku! Ini rencana kami! Dan untuk menjalankan rencana ini, kau harus tidak sadarkan diri!" ucap Vani dengan nada marah. Setelah itu dia berjalan ke arah lain dan menyalakan lampu di ruangan ini.


Cklik.


Jadi ini bukan gudang? Tapi kamar?


Setelah kulihat-lihat lagi, ternyata ini masih berada di pinggir kota. Kekacauan serta hiruk pikuk bom dan hewan-hewan masih terus berlangsung. Vani duduk di sebuah meja yang berada di samping jendela, mata merahnya itu terlihat rapuh tapi juga penuh kekuatan.


"Rencana? Memangnya apa yang kalian rencanakan? Harusnya kalian tidak boleh melakukan hal ini! Kurang 4 hari lagi festival akan diadakan! Kenapa kalian memberontak pada Boni?!" tanyaku bingung sambil berteriak pada Vani. Tapi dia hanya melirikku sebentar lalu kembali menatap ke luar jendela.


"Kau terlalu buta untuk melihat yang sebenarnya, aku jadi malas menjelaskannya padamu," ucap Vani tanpa melihatku. Bisa kurasakan dengan jelas rasa kekecewaan dari nada suaranya.


"Jelaskan, aku ingin tau," ucapku sambil berjalan pelan ke arahnya. Vani menghela nafasnya sambil tersenyum miring, matanya menatapku dengan sorot mata yang bengis.


"Apa kau tidak sadar bahwa semua orang di kota ini menghilang?" tanya Vani yang membuatku langsung melihat ke luar jendela. Kalau kuperhatikan dengan baik, memang benar setiap rumah yang diserang dengan bom itu sudah kosong. Bahkan tidak ada hiruk pikuk seperti sirine untuk keselamatan evakuasi.


"Kalian yang melakukannya?" tanyaku curiga.


"Bukan bodoh! Kalau kami melakukannya untuk apa kami memberontak?!" ucap Vani kesal sambil menjitak kepalaku.


BUGH!


"Maaf, tapi jangan terlalu keras memukulnya. Ini sakit," ucapku sambil mengelus kepalaku yang sepertinya akan benjol ini. Vani segera berdiri dan berjalan ke arah lemari kayu, dia membuka lemari itu yang ternyata berisi banyak buah-buahan.


Prak!


"Makan, aku akan menjelaskannya padamu saat kau makan," ucap Vani sambil melemparkan satu kotak penuh yang berisi apel. Aku memungut kotak ini dan memakan satu apelnya.


"Ini adalah skenario yang dibuat oleh Boni. Untuk membuat kota boneka idamannya. Gila sekali bukan? Aku bahkan terkejut saat tahu fakta ini.


Dan tentang festival yang kau maksud, adalah festival dimana Boni akan menjahit seluruh manusia ke dalam tubuh boneka mainannya. Dan menjadikan mimpinya nyata," ucap Vani sambil menunjuk ke arah langit yang mulai menjadi merah.


"Apa? Lalu Safa?" tanyaku dengan bingung.


"Safa? Dia juga bukan orang yang baik. Dia ingin membunuh semua orang di kota ini, dan menjadikan mereka pupuk tanaman, tapi karena tujuan kami sama ... yaitu mengalahkan Boni. Jadi kami bekerja sama untuk saat ini," jelas Vani lalu mengambil sebuah apel dan menggigitnya.


Tunggu .... jadi siapa yang jahat di sini? Tidak ... siapa yang baik?


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!