Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Boni's memories (1)



"Kita bolos saja di UKS."


POV: Author


"Waw ... aku tidak menyangka kau punya ide seperti itu. Ayo saja!" Boni menatap Safa dengan tatapan yang bersemangat, Safa tertawa kecil, lalu bersamaan ... mereka masuk gerbang sekolah.


***


Di rumah Boni, sepulang sekolah.


"Aku pulang." Boni membuka pintu rumah yang mewah di depannya. Tatapan matanya sangat kosong, seperti tidak ada jiwa di dalam tubuhnya saat ini.


"Hmmm tidak pulang lagi ya?" gumam Boni sambil melepas sepatunya saat berjalan masuk.


"Selamat datang, nona muda," sapa seorang wanita tua dengan pakaian hitam putih khas seorang pelayan. Boni tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala.


"Apakah orangtuaku tidak akan pulang lagi hari ini?" tanya Boni dengan senyuman yang hampa. Pelayan wanita itu hanya mengangguk tanpa mengatakan sepatah kata apapun.


Sejak dulu, orangtua Boni adalah orang yang sibuk. Mereka bahkan hanya pulang sekali dalam setahun saat Boni masih berusaha 5 tahun. Rasa kesepian yang kian lama mengakar di hati Boni, membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah goyah.


Dan juga tumbuh sebagai orang yang tidak mengenal kasih sayang serta takut kehilangan, ya singkatnya ... dia tidak memiliki hati yang murni. Simpati dan reaksi yang dia tunjukkan hanyalah sebagian dari perhitungan untung rugi dari dalam kepalanya.


"Oh ... apakah kali ini juga akan lama? Bolehkah aku menyuruh temanku menginap di sini?" Boni memberikan tasnya pada pelayan itu, sambil bertanya dengan nada yang semangat. Pelayan perempuan itu mengangguk.


"Baiklah nona, saya akan mempersiapkan camilan," ucap pelayan itu sambil tersenyum.


"Terimakasih BiBi Aster! Aku akan menghubungi temanku dulu!" Boni langsung berlari kecil menaiki tangga, menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Rumah Boni yang sebesar istana ini, awalnya adalah rumah yang dipenuhi oleh banyak pelayan. Tapi semenjak Boni berumur 7 tahun, dia memecat sebagian pelayan yang ada di rumah ini, dan hanya menyisakan sepertiga saja.


Alasannya? Karena Boni merasa sia-sia rumah ini dirawat terlalu bagus. Yang meninggali rumah ini hanya dia saja. Bibi Aster adalah salah orang yang Boni suka, jadi dia membiarkan Bibi Aster tetap bekerja di sini.


Begitu juga Bibi Aster, dia sudah menganggap Boni seperti keponakannya sendiri. Dia sangat senang melihat Boni yang mulai tersenyum kembali. Safa ... adalah anak yang berhasil membuat Boni merasakan kasih sayang sebagai seorang manusia.


Satu jam kemudian, sebuah ketukan pintu terdengar dari luar rumah bagai istana ini.


Boni langsung turun dengan tergesa-gesa sambil mengikat rambutnya ke belakang, dia masih memakai kaos biasa serta celana pendek setengah lutut.


Cklek.


"Safa! Kau benar-benar datang!" Boni membuka pintu dengan wajah yang berseri-seri. Safa berdiri di depannya, dengan membawa satu ransel penuh yang entah berisi apa saja.


"Tentu saja! Temanku menawarkan untuk menginap di rumahnya! Mana mungkin aku menolak! Lagi pula besok kan hari libur!" Safa berkata dengan nada yang gembira. Boni langsung menarik pergelangan Safa dengan cepat, lalu segera menutup pintu rumahnya.


Untuk pertama kalinya, suara gelak tawa memenuhi rumah yang hampir mati ini. Para pelayan yang mendengar suara tawa majikan mereka juga merasa senang, mereka sangat bersyukur karena sepertinya Tuhan memberikan kesempatan pada Boni untuk bahagia.


Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ... karena orangtua Boni pulang di saat yang tidak tepat.


"Hahaha! Lalu apa kau lihat anak kelas sebelah yang kena hukum guru tadi?!" tanya Safa dengan mata yang sudah berair karena tertawa terus-terusan.


"Tau tau! Mereka disuruh membersihkan kamar mandi Selatan selama satu bulan bukan?! Padahal kamar mandi itu sangat kotor hahaha!" Boni menjawa dengan wajah yang sangat bahagia.


Hingga suara pria tua yang kasar itu menghancurkan keseruan mereka.


PRANG!


"MANA BONI?! BISA-BISANYA DIA TIDAK TURUN DAN TIDAK MENYAMBUTKU?! MANA DIA?!" Suara lantang itu adalah ayah Boni. Safa yang terkejut dengan suara itu langsung diam, Boni juga ikut terdiam dan menatap ke arah pintu dengan malas.


"Tunggu sebentar ya- aku akan membereskan yang ini dulu." Boni mengambil ikat rambut berwarna hitam yang ada di meja belajarnya, lalu berjalan keluar pintu.


"Ada apa, Ayah?" Boni menuruni tangga sambil mengikat rambut hitamnya ke belakang. Rambut hitam Boni adalah turunan dari ibunya, sedangkan mata ungunya adalah turunan dari ayahnya. Karena itu, anak dan ayah ini memiliki warna mata yang sama, yaitu ungu.


"Kau anak tidak tau diuntung! Kau melupakan ayahmu hanya karena ada temanmu yang menginap?! Padahal kau tau bahwa ayah jarang pulang karena sibuk! Dan inikah balasanmu?!" Ayah Boni bertanya dengan nada yang marah, padahal semua orang di sini tau bahwa hal ini juga bukan sepenuhnya salah Boni saja, tapi tidak ada satupun diantara mereka yang berani berbicara pada majikan yang memberi mereka gaji.


"Baiklah, maaf, aku yang salah. Selamat datang Ayah, apakah pekerjaan Ayah sedang dalam masa sulit? Karena sepertinya aku yang jadi objek pelampiasan amarah di sini." Tanpa takut Boni menjawab ayahnya seperti itu. Tapi orangtua itu malah semakin marah karena anaknya kelihatannya tidak peduli padanya, dia langsung berjalan cepat ke arah Boni dan berniat menamparnya.


PLAK!


"HAH? SAFA?! KENAPA KAU TURUN DARI KAMAR?!" Boni panik saat melihat Safa ditampar oleh ayahnya. Pria tua dengan mata ungu itu langsung menatap Safa dengan tatapan yang nyalang, matanya menyelidiki setiap inci tubuh gadis itu.


"Kau bahkan bergaul dengan anak miskin seperti ini. Sepertinya kau lupa kenapa aku menyekolahkanmu di sekolah ternama itu ya? Bukankah sudah kubilang untuk membuat relasi yang bagus? Kenapa kau malah berteman dengan anak miskin seperti ini?" Pertanyaan ayah Boni bagaikan sengatan lebah yang menancap langsung di hati Safa. Bagi seorang anak yang tumbuh di keluarga yang susah ekonomi, mendapat perlakukan seperti ini dari keluarga yang terpandang sangatlah menyakitkan.


Tapi Safa tidak langsung menyerah saat itu, dia menegakkan kepalanya lalu tersenyum pada ayah Boni.


"Halo ... paman? Perkenalkan, saya Safa ... teman Boni di sekolah. Senang bertemu dengan anda," ucap Safa tanpa menghiraukan rasa sakit di pipinya. Ayah Boni berdecak kesal lalu langsung pergi tanpa membalas sapaan Safa.


"Cepat pergi dari rumahku, rasanya jadi sangat kotor di sini. Pelayan, pel setiap inci rumah ini hingga bersih."


BLAM!


Setelah mengucapkan kalimat itu, ayah Boni langsung masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu.


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!