Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Boni's memories (2)



POV: Author


"Aku ... sangat minta maaf Safa, sungguh ... maafkan aku." Boni menunduk dengan wajah yang muram. Safa kini berada di depan rumah Boni sambil membawa tas yang berisi barang-barang miliknya.


Safa tersenyum lebar walaupun pipinya kini ditutup kapas karena bengkak.


"Ey~ tidak apa-apa~ tidak apa-apa~ terimakasih sudah membiarkanku menginap di rumahmu! Sampai jumpa di sekolah besok!" Safa berterimakasih sambil mengusap-usap ujung kepala Boni. Setelah itu dia langsung membalikkan badan, dan pergi keluar.


Boni tersenyum lega melihat temannya yang masih mau berteman dengannya. Dia hanya terus berdiri, dan melihat ke arah Safa hingga bahu temannya itu tidak terlihat lagi.


Cklek.


Boni menutup pintu dengan sangat pelan, senyumnya langsung memudar begitu dia membalikkan badan.


"Dimana ayahku?" tanya Boni dengan nada yang dingin. Kebetulan pelayan yang ada di ruangan itu adalah Bibi Aster saja.


"Tuan sedang ada di perpustakaan ...," ucap Bibi Aster dengan ragu-ragu. Boni tidak menjawab dan dia langsung berjalan ke arah perpustakaan. Langkah kakinya yang lebar menandakan bahwa dia sangat buru-buru sekarang.


Dia berhenti di depan pintu kayu berwarna putih di depannya, tanpa ragu-ragu, tangannya langsung mendorong pintu itu hingga terbuka penuh.


"..." Mata ungu Boni bertatapan dengan mata ungu ayahnya yang terlihat lelah. Tidak ada suara yang mereka keluarkan saat ini, mereka hanya saling diam dan memandang satu sama lain.


"Apakah dia sudah pulang?" Pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh sang ayah.


"Ya," jawab Boni dengan cepat.


"Lalu kenapa kau ke sini?" Mata ayah Boni memicing tajam, dia terlihat tidak suka karena pekerjaannya diganggu.


"Heh, aku? Ingin membuatmu kesal saja." Boni menyeringai, lalu tangannya dengan cepat menyambar sebuah vas bunga antik yang terbuat dari keramik biru.


PRANG!


Tanpa ragu Boni menghancurkan pot itu dan memberi senyuman pada ayahnya. Sementara sang ayah yang tidak menyangka bahwa anaknya akan memecahkan pot antik, dia langsung marah dan hendak membentak Boni.


"APA KAU SUDAH GILA?!" tanya sang ayah dengan nada yang tinggi. Boni hanya tersenyum sambil menginjak pecahan pot tadi hingga kakinya berdarah.


"Ya, aku sudah gila. Memangnya ada anak yang tidak gila jika orangtuanya sendiri sudah gila?" Boni balik bertanya.


"KAU JADI SEMAKIN BERANI SEKARANG HAH?! APA KAU AKAN MELAWANKU SEPERTI JAL*NG ITU?!" Ayah Boni langsung berdiri dan hendak menghampiri Boni, tangan kanannya sudah terangkat ke atas, bersiap untuk menampar pipi Boni.


Heh. Ayo, tampar aku,-batin Boni.


PLAKK!


Suara renyah sebuah tamparan terdengar hingga ke seluruh penjuru rumah ini. Boni masih berdiri tegap dengan pipi yang meneteskan darah, sedangkan sang ayah masih menatap Boni dengan amarah serta nafas yang menggebu-gebu.


Boni membungkukkan badannya, mengambil sebuah serpihan pot yang pecah tadi ... dan langsung melemparkannya ke arah wajah sang ayah.


SRASH!


PRANG!


"A-apa?" Sang ayah tidak menyangka bahwa Boni akan melemparkan pecahan pot itu hingga membuat pipi ayahnya ikut terluka.


"Nah~ sudah selesai. Jangan lupa besok ada wawancara, ayah~." Boni tersenyum puas lalu melenggang pergi, meninggalkan amarah yang ada pada diri ayahnya.


"KAU! ANAK SIALAN! HARUSNYA KAU TIDAK PERNAH LAHIR SAJA!" Ayah Boni terus memakinya, bahkan para pelayan sampai kaget karena ini pertama kalinya Boni melawan orangtua.


"Ya ... jika kau tidak menginginkan aku lahir. Maka potong saja alat kelaminmu itu. Dasar otak selangk*ngan." Boni berbicara pelan, lalu segera naik tangga dan pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Boni langsung membuka laci mejanya, dan mengeluarkan banyak lembaran kertas.


"Haruskah aku mulai persiapannya sekarang?"


***


"Hei. Apa kau tidak menganggap bahwa ayahmu ini ada?!" Sang ayah menyulut pertengkaran di pagi yang indah ini. Sebagai jawaban, Boni hanya melirik lalu berdecak kesal.


"Memangnya kau pernah sadar kalau aku anakmu? Menjijikkan." Boni keluar dengan membanting pintu rumah, membuat sang ayah geram menahan amarah di meja makan.


BRAK!


"APA DIA TIDAK PERNAH DI-DIDIK DENGAN BENAR?!" Ayah Boni menggebrak meja dengan emosi yang bersungut-sungut. Seluruh pelayan hanya diam, tidak berani membantah perkataan majikan mereka.


Boni yang sudah sampai di depan gerbang rumahnya, hanya tertawa kecil mendengarkan keributan dari belakangnya itu.


"Oh ... Pak Hiro, tolong antarkan aku ke sekolah." Boni berhenti sejenak samb menatap Pak Hiro yang kini sedang memotong tumbuhan di taman. Pak Hiro yang baru sadar dari lamunannya, langsung terkejut dan menatap Boni tidak percaya.


"Oh? Baik! Saya segera siapkan mobil! Tunggu sebentar ya!" Pak Hiro dengan sesegera mungkin masuk ke dalam rumah melalui garasi dan keluar lagi dengan baju yang lebih bagus.


Boni memilih duduk di depan pos satpam sambil menunggu Pak Hiro menyiapkan mobil.


"Sudah siap nona! Mari masuk?" Pak Hiro membuka jendelanya sambil tersenyum nyengir ke arah Boni. Gadis dengan mata ungu itu tersenyum lalu masuk dengan membuka pintunya sendiri.


"Ayo pak! Udah siap nih!" ucap Boni antusias.


"Meluncur~."


***


Boni yang datang dengan mobil menarik banyak perhatian di sekolah, wajar saja, karena dia selama ini berjalan kaki agar sampai sekolah, kini menggunakan mobil pribadi yang sangat bagus.


Setelah turun dari mobil, Boni memberi pesan pada Pak Hiro agar tidak usah menjemputnya nanti. Pak Hiro mengangguk paham lalu langsung pergi.


"Nah ... dimana ya?" Boni melihat ke kiri dan kanan, mencari tau dimana keberadaan Safa. Beruntungnya, Boni bisa langsung mengetahui Safa karena rambut kuningnya yang mencolok.


"Safa!" Boni menyapa Safa dengan suara yang keras.


Orang yang merasa di panggil langsung menoleh ke arah belakang.


"AH HEI! KUPIKIR KAU TIDAK SEKOLAH HARI INI!" Safa langsung girang dan berlari sambil teriak ke arah Boni. Mereka mulai bercanda bersama sekali lagi, melupakan kekacauan kemarin yang terjadi.


"Oh tapi ... pipimu kenapa?" tanya Safa saat melihat pipi Boni yang sama-sama ditambal kapas seperti pipinya.


"Biar kita kembar hahaha!" elak Boni dengan candaan. Safa tidak menghiraukan lagi luka di pipi Boni, dan lebih memilih untuk lanjut saling bercanda.


Mereka terus bergurai hingga sampai ke kelas Safa, dan akhirnya berpisah karena kelas Boni masih di ujung lorong.


"Nanti kita makan bakso yuk! Jemput aku ya!" ajak Safa dengan senyuman yang lebar. Boni mengangguk lalu berjalan pergi.


Tring!


Ada sebuah pesan masuk, tapi Boni mengabaikan hal itu.


Tring tring!


Tring tring tring!


"INI SIAPA SIH?! APA KU BLOCK SAJA?!"


TBC.


Jangan lupa like ya guys!