Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Masa Lalu Ron! (1)



POV: Author


Dunia bukanlah tempat yang adil, tapi juga bukanlah tempat yang tidak adil. Tergantung dari sudut pandang mana kau melihat, keadilan tentang 'prespektif' dari dirimu akan mulai muncul. Bagaimana caramu memandang dunia, bagaimana caramu menghadapi dunia, dan bagaimana caramu berbaur di dalamnya.


Semakin banyak manusia, semakin banyak prespektif yang berbeda. Dan hal itu terbagi dalam dua kelompok. Minoritas atau mayoritas.


Dunia ini tidak berubah sejak zaman purba, hanya sedikit beradaptasi menyesuaikan keadaan. Hukum rimba tetaplah berlaku. Tapi bukan yang kuat yang memakan, melainkan yang kuatlah yang berkuasa.


Layaknya sebuah benang takdir, minoritas tidak akan menang dari mayoritas. Dan juga seperti para binatang, yang kuatlah pada akhirnya yang akan menang.


Jika kau kuat, kau akan didengarkan. Jika kau rupawan, kau akan diperhatikan. Jika kau pintar, maka kau akan dimanjakan.


Inilah fakta yang seorang anak kecil sadari. Di saat umurnya menginjak 5 tahun, dia dipaksa untuk menyadari betapa 'munafiknya' kata dunia.


Namanya Ron. Ron Vloid, salah satu anak dari keluarga jenius. Ini adalah kisah, yang membuktikan bahwa 'prespektif' itu dibentuk sejak kita kecil. Dan ini adalah cerita, tentang bagaimana seorang monster terlahir.


*.*.*


POV: Ron


"Oh astaga! Kau sudah besar! Bukankah terakhir kali aku melihatmu, kau masih setinggi ini?"


"Anakmu sangat tampan dan pintar! Masa depannya pasti sangat cerah!"


"Ahh, aku harap dia adalah anakku! Aku bosan terus memarahi anakku yang malas belajar!"


"Sepertinya aku harus meminta tips darimu untuk mengajari anakku!"


"Benar! Anakmu sangat sopan dan pintar! Aku ingin dia bergaul dengan anakku agar dia tertular pintarnya!"


Aku Ron. Salah satu anak dari keluarga jenius. Di umurku yang ke-lima ini. Aku berhasil mempelajari perkalian dan pembagian. Aku juga sudah memahami sekitar 2 bahasa selain bahasa yang kugunakan.


"Oh astaga~ jangan bicara begitu, kalau anakmu mendengarnya, dia akan sangat sakit hati," ucap ibuku sambil menyentuh tangan wanita lainnya.


"Ibu, aku akan pergi ke kamar dulu ya?" tanyaku sambil menarik baju ibuku dengan pelan. Dia langsung menoleh ke arahku, lalu tersenyum lembut.


"Oh baiklah~ apakah kau akan belajar lagi? Jangan terlalu memaksakan dirimu sayang, kau hebat apa adanya," ucapnya lalu mengecup keningku. Aku hanya mengangguk lalu segera turun dari sofa. Sambil berlari kecil, aku segera meninggalkan ruangan itu.


Cklik.


"Haaah, aku lelah!" ucapku sambil menghela nafas. Ibuku adalah orang yang suka bersosialisasi, hampir setiap hari dia mengundang orang ke rumah kami. Dan entah berapa banyak pujian yang aku dengar setiap ada tamu yang kemari.


"Aku sangat mengantuk ... aku mau tidur dulu ... belajarnya nanti malam saja," ucapku lalu merangkak naik ke tempat tidur. Sambil membaringkan tubuh, aku menarik selimut hangat untuk membuatku nyaman.


Tik. Tik. Tik.


Sszzt ssszzt


Suara detikan jam ini membuat tidurku semakin pulas.


Tok tok tok.


"Ron, apa kau di dalam?"


Aku mulai bangun lalu mengucek mataku. Mataku melirik ke arah jam weker di samping kananku.


Masih jam 1 pagi.


Aku segera beranjak keluar dari tempat tidur, lalu membuka pintu.


Cklek.


"Ada apa Bu?" tanyaku dengan ekspresi mengantuk. Ternyata ibuku datang sambil membawa segelas susu.


"Apakah kau sudah belajar?" tanyanya sambil tersenyum. Aku terdiam, baru ingat bahwa aku belum belajar hari ini.


"Belum Bu," ucapku lalu menguap di akhir kalimat. Mendengar perkataanku, ibuku hanya diam dan tersenyum, matanya menatapku dengan kosong.


"Minum susu dulu yuk? Setelah itu ayo belajar, ibu akan menemanimu," ucap ibuku sambil memberi segelas susu itu padaku. Aku langsung tersenyum cerah dan menerima segelas susu itu.


Rasanya manis dan hangat! Ibu sangat perhatian padaku!


Glek glek glek.


Aku langsung menghabiskan segelas susu itu dalam beberapa tegukan. Setelah itu aku baru mengembalikan gelas susu itu pada ibuku.


"Bagaimana rasanya?" tanya ibuku sambil menerima gelas susu dari tanganku. Aku tersenyum lebar sambil mengacungkan jempol.


"Rasanya enak!" ucapku puas.


"Apa yang akan kita pelajari hari ini?" tanyaku saat melihat ibu mulai mengambil beberapa buku.


Bluk!


"Kita mulai dengan matematika, ibu akan mengajarimu cara mengerjakan pecahan," ucap ibuku lalu duduk di sampingku. Dia sudah menyiapkan buku tulis lengkap dengan alat tulisnya.


Mungkin karena gen dari keluargaku semuanya adalah orang pintar, aku bersyukur karena otakku mampu menerima materi dengan mudah. Bahkan termasuk materi yang harusnya baru diajarkan pada anak yang lebih tua dariku.


3 jam berlalu, ibuku sudah tertidur. Aku masih mengerjakan beberapa soal dari akhir bab pecahan. Karena aku tidak mengantuk sama sekali.


"Kupikir cukup untuk hari ini, aku harus tidur," ucapku sambil menutup semua buku di depanku. Aku langsung berbaring di samping ibuku, dan mulai menutup mataku.


...


Deg.


Deg.


Deg.


DEG!


DEG!


DEG!


Aku langsung terbangun lagi, kenapa jantungku sangat berdebar seperti ini? Aku langsung turun dari kasur dan pergi ke dapur.


Aku memutuskan untuk mengambil air putih agar aku lebih tenang.


Gluk gluk gluk!


"Ahh! Nah! Ayo kembali tidur!" Aku langsung bergegas kembali ke kamar, dan berbaring lagi di sana.


Tapi detak jantungku tak kunjung normal, rasanya sangat aneh. Akhirnya, aku tidak bisa tidur hingga matahari terbit.


***


"Ron! Aku membawakan guru les untukmu!" ucap ibuku sambil mengenalkan seorang pria dengan jas coklat muda. Dia tinggi tapi kurus, berkacamata, dan terlihat jelek.


Aku hanya berkata jujur, wajahnya memang sangat jelek.


"Bulan depan kau akan masuk ke sekolah ternama! Kau harus mempersiapkan dirimu tentunya!" ucap ibuku dengan semangat. Aku hanya mengangguk dengan malas, entah sejak kapan aku mulai mengalami insomnia. Sudah lebih dari 5 hari aku tidak tidur. Meskipun aku bisa tidur, tapi aku selalu bermimpi buruk. Akhirnya aku terbangun lagi di tengah malam.


Bahkan saat aku berkaca, ada warna hitam di bawah mataku.


"Mohon bantuannya! Mulai sekarang, aku akan jadi gurumu!" ucap pria itu lalu mengulurkan tangan padaku. Aku masih diam sambil menatap tangan kurusnya, lalu menatap ibuku. Sudah jelas terlihat bahwa dia ingin aku menerima jabatan tangan dari guru.


"Mohon bantuannya, guru," ucapku dengan ekspresi datar.


Aku sangat mengantuk, tapi aku tidak bisa tidur.


"Nah ini untuk jadwal lesnya, kita akan mulai nanti malam ya. Lesnya akan selesai dalam 4 jam," ucap guruku sambil memberi selembar kertas padaku.


Lagi, aku hanya mengangguk dan patuh.


***


Aku meminum susu yang dibuatkan oleh ibuku, lalu kembali ke kamar. Aku sedang belajar bersama guru di kamarku sekarang.


Deg!


Nyut!


Tiba-tiba kepalaku sangat sakit, aku berjalan sempoyongan kembali ke kamar.


"Guru- maaf, bisakah kita hentikan dulu ... belajarnya?"


Pandanganku tiba-tiba menggelap.


BRUK!


...


TBC.


JANGAN LUPA LIKENYA YA GUYS!