Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Toko bunga.



POV: Ares


"Jadi kau suka ... Civilian?" tanyaku dengan nada yang sedikit ragu-ragu. Saat aku melihat wajah Ken yang mengangguk dengan malu-malu, semburat merah itu mulai muncul secara perlahan di kedua pipinya.


"Baiklah! Ayo ke toko bunga!" ucapku pada akhirnya. Aku menyeret tangan Ken dengan semangat, aku benar-benar ingin membantu kisah percintaannya!


"Tunggu- Ares! Apa kau tau dimana letak toko bunganya?" tanya Ken di sela-sela kami berlari. Aku segera berhenti mendadak lalu menatap Ken.


"Ehe, tidak tau. Tidak apa-apa, ayo kita tanya orang-orang saja," ucapku pada akhirnya. Aku masih menyeret Ken untuk segera keluar dari rumah sakit ini. Beruntung karena tidak banyak orang, jadi kami bisa bergerak leluasa.


"Nah, ayo kita tanya pada anak yang bermain bola di sana!" ucapku sambil menunjuk ke arah lapangan di samping rumah sakit ini. Segera kulepaskan pegangan tanganku dan Ken, lalu berjalan ke arah mereka.


"Permisi, apakah kalian tau dimana letak toko bunga?" tanyaku pada mereka. Sontak segerombol anak itu berhenti bermain dan menatapku secara bersamaan.


"Toko bunga? Ada di pojok sana! Kalian tinggal lurus saja nanti kalian akan mencium bau harum bunga!" ucap salah satu anak laki-laki dengan rambut coklat yang seperti duri. Kami mengangguk pelan lalu hendak berbalik.


"Oh! Terimakasih!" ucapku sebelum pergi. Setelah itu kami segera pergi dari lapangan, dan mulai berjalan ke arah yang anak-anak tadi maksud.


Cukup lama kami berjalan, hingga akhirnya kami sampai di toko yang mereka maksud. Benar saja, bau bunga di sini sangat kuat dan menyengat. Hal ini membuat tokonya mudah dikenali dan mudah diingat.


Tapi anehnya, tidak ada orang yang menjaga bunganya di sini.


"Yang jaga dimana?" tanyaku kebingungan. Sedangkan Ken sudah mulai berkeliling untuk mencari bunga yang bagus. Aku hanya tersenyum kecil melihat temanku yang serius dalam memilih bunga.


Jadi sembari menunggu sang pemilik toko ini datang, kami menyibukkan diri dengan mencari bunga yang indah untuk diberikan ke pujaan hati Ken.


"Oh? Maafkan aku, apakah kalian sudah lama di sini?" Seorang gadis kecil dengan kacamata dengan rambut kepang dua datang pada kami. Dia memakai baju kaos lengan pendek berwarna hijau serta rok panjang berwarna coklat. Baju yang benar-benar menggambarkan seorang penjual bunga.


"Tidak terlalu," ucapku sambil menatapnya. Ken segera datang ke arah kami lalu ikut bergabung.


"Jadi, apakah ada bunga yang kalian cari?" tanya gadis itu dengan senyuman manisnya. Aku melirik ke arah Ken, tapi Ken juga sedang melirik ke arahku.


"Kau mau bunga apa?" tanyaku padanya.


"Aku juga bingung, bisakah kau bilang padanya untuk memberi kita rekomendasi bunga?" bisik Ken padaku. Aku menghela nafas lelah, tapi pada akhirnya aku tetap melakukannya.


"Um, apakah kau bisa merekomendasikan bunga yang bagus untuk kencan pertama?" tanyaku pada gadis itu. Sang gadis menatapku dengan terkejut, lalu segera tertawa kecil.


"Bisa, kalau begitu biar saya yang memilihkan bunganya. Kita mulai dar yang paling dasar saja ya," ucap gadis itu sambil berjalan ke deretan bunga mawar merah. Dia mulai memetik bunga mawar itu beserta tangkainya, dan menyimpannya di keranjang yang entah darimana dia bawa.


"Kalian pasti tau makna bunga mawar bukan? Artinya adalah 'aku mencintaimu' mungkin memang terdengar simpel. Tapi untuk kencan pertama, ini bisa membawa suasana romantis serta memberi kesan yang cukup misterius untuk pasangan kita," jelasnya sambil memetik mawar merah lainnya. Setelah itu dia berjalan lagi, ke sebuah taman bunga kecil yang berwarna kuning.


Dia berdiri dan berjalan lagi, ke deretan bunga yang mungil serta berwarna putih.


"Dan untuk bunga yang terakhir, ini bernama baby breath. Ini cocok untuk dijadikan tepi buket bunga karena modelnya yang kecil, dan punya makna yang bagus. Ini bermakna 'cinta sejati tidak akan pernah pergi', begitu," jelas sang gadis dengan senyuman yang cerah. Dia mengambil beberapa tangkai lebar dari bunga itu dan menaruhnya di keranjang.


"Ah maaf, sepertinya aku terlalu banyak bicara ya?" tanya si gadis dengan ekspresi yang panik. Aku dan Ken menggelengkan kepala, penjelasan gadis itu begitu singkat dan mudah dimengerti.


"Kami benar-benar berterimakasih karena kau sudah menjelaskannya pada kami, dan bunga yang kau pilih memang benar-benar indah!" pujiku pada gadis berkacamata itu. Dia tersenyum lebar, lalu memberikan sebuket bunga dari apa yang dia petik tadi.


"Nah ambillah, lagipula mata uang sudah tidak berfungsi di sini, bahkan untuk makan saja kita tidak perlu membeli. Jadi ini kuberikan gratis untuk kalian," ucap gadis itu sambil memberikan buket bunganya pada Ken. Dia menerima buket bunga itu dengan ragu-ragu, apalagi saat gadis tadi bilang untuk tidak perlu membayarnya.


"Ini gratis? Aku tidak nyaman ... bisakah kau meminta sesuatu dari kami?" ucap Ken dengan ekspresi yang tidak enak. Sebenarnya aku juga tidak nyaman bila harus menerimanya dengan gratis.


"Ah sungguh tidak apa-apa! Kalian bisa membawanya gratis!" Gadis itu menggelengkan kepalanya dan menolak untuk diberikan apapun sebagai imbalan.


"Sungguh? Tolonglah nona, kami tidak nyaman jika harus menerimanya dengan gratis," ucapku sambil berusaha agar gadis itu meminta sesuatu dari kami sebagai imbalan. Tapi dia tetap bersikukuh tidak mau menerima apapun.


"Baiklah ... kalau begitu, bisakah kalian membawakan bunga yang ada di atas sana?" tanya gadis itu sambil menunjuk bunga dari buah mangga. Aku dan Ken langsung bingung, bunga yang bahkan tidak indah itu ... kenapa gadis ini menginginkannya?


"Baiklah, aku yang akan mengambilkannya," ucapku sambil berjalan ke arah pohon mangga yang ada di samping toko bunga ini.


"Kalau begitu, aku pergi duluan ya Ares? Kau langsung kembali saja ke rumah sakit nanti!" ucap Ken lalu melenggang pergi. Aku bahkan terlalu shock hingga tidak sempat berkata apa-apa. Akhirnya aku hanya menghela nafas kesal dan langsung terbang.


Untunglah bunganya tidak terlalu tinggi, jadi aku bisa menggapainya dengan mudah!


Ctas!


"Akhirnya dapat," ucapku lega. Setelah itu aku segera turun dan memberika bunga pohon mangga itu padanya. Dia tersenyum lebar dan berterimakasih padaku.


"Terimakasih! Anda sangat membantu!" ucapnya penuh hormat. Aku hanya tersenyum kikuk dan mencoba agar membuatnya tidak menundukkan kepala.


"Kalau begitu, aku pergi dulu. Terimakasih atas bantuannya," ucapku lalu membalikkan badan.


..."Kalau begitu, satu nasihat untuk anda. Jangan percaya pada yang saat ini anda lihat."...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!