
..."AAAA! VANI! DIA KEMBALI LAGI!"...
POV: Vani
Aku langsung terperanjat kaget saat mendengar teriakan Ken. Dengan sigap aku berlari ke arahnya lalu memeluknya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, aku bisa tau seberapa takut dirinya. Mataku mencari ke sekeliling, dimana gadis kecil yang dia maksud?
Prok prok prok!
"Wah, kalian sangat romantis ya? Kukira kau akan bersama dengan anak yang bermata emas."
Deg!
Aku langsung melihat ke asal suara itu. Ternyata gadis yang Ken maksud berada tepat di depan kami. Tapi ... aku tidak melihat bercak darah seperti yang Ken deskripsikan!
Jadi, kemampuannya adalah ilusi? Bagaimana caranya mematahkan ilusinya? ARGHH! Aku tidak punya kemampuan bertarung! Bagaimana ini?!
Aku menelan ludahku dengan gusar, sambil terus memeluk Ken, mataku menatap tajam ke arah gadis itu.
"Wah~ mata merah milikmu sangat indah ya?" tanyanya dengan senyum yang cerah.
"Membuatku ingin menjadikannya koleksi di kamarku." Senyumnya langsung menghilang, berganti menjadi wajah dingin penuh tekanan.
"Siapa ... kau?" tanyaku sambil berusaha menenangkan diri. Gadis itu malah hanya diam, matanya seperti menelisik seluruh tubuhku.
"Hmmm, aku tidak punya nama. Profesor biasa memanggilku Draw," ucap Draw sambil menjilat ibu jarinya. Setelah itu dia langsung menunjuk ke arah Ken yang meringkuk ketakutan di pelukan Vani.
"Kenki Emora, dan Stevani Regan. Kalian adalah orang yang terkena gas merah lebih dulu kan? Sama seperti profesor," ucapnya sambil berjalan mendekat ke arah kami. Jujur, aku merasa seluruh tubuhku menggigil sekarang. Keringat mengucur deras dari pori-pori tubuhku. Aku dibingungkan oleh pemikiran apakah ini ilusi atau kenyataan.
"... Harusnya kalian tidak perlu ikut campur, maka kalian akan hidup lebih lama."
CTAK!
"TIDAKK!" Ken tiba-tiba mendorong tubuhku dengan sangat keras. Aku bisa melihat ekspresi puas Draw setelah dia menjektikkan jarinya.
BUAGH!
"KEN? APA YANG TERJADI-," ucapku terpotong, aku merasakan bahwa kakiku tidak berpijak di atas gedung sekarang.
Aku jatuh dari lantai 50?!
"Sial! TIDAKK!"
***
POV: Riot
Ukh! Ini dimana?! Bukankah aku tadi berlari ke rumah karena ada gempa?
Hah?
Ini ... daerah mana? Apakah ini masih di Kota Oner? Aku belum pernah ke tempat ini. Sudahlah, aku harus segera kembali ke rumah.
...
Kenapa ... aku tidak bisa berteleportasi? Apakah aku kehilangan kekuatanku? Tidak, harusnya tidak! Lalu kenapa?!
Aku segera berdiri dengan menyangga lututku sendiri. Sepertinya kepalaku terbentu sesuatu saat gempa tadi. Aku bisa merasakan rasa sakit yang menusuk-nusuk di ubun-ubunku.
"Apakah ini ulah Ron lagi? Tapi aku tidak ingat Ron punya kekuatan hingga menggerakkan kota seperti ini," gumamku sambil berjalan pelan, menyusuri setiap inci daerah ini.
Ternyata benar, Ron mengubah seluruh struktur kota ini. Mulai dari jalan raya, lokasi gedung, bahkan arah sungai saja dia ubah. Ini ...
GILA! KENAPA DIA BISA MENGGUNAKAN KEKUATAN SEHEBAT INI?! SIAL! LALU BAGAIMANA AKU BISA MELAWANNYA?!
WUSH!
Sudut mataku melihat sebuah bayangan aneh yang melesat ke arahku. Dengan sigap aku langsung mengambil sebuah tong sampah kosong di dekatku untuk dijadikan tameng.
"Panah?! Dari mana asalnya?!" Aku menatap horor ke arah panah yang menancap lurus di tong sampah. Dengan hati-hati, aku menyentuh ujung panah itu, memastikan apakah itu beracun atau tidak.
"Tidak beracun, syukurlah. Tapi siapa yang menembakkan panah ini?" Aku menaruh tong sampah dengan panah yang masih menancap di sana. Mataku melihat ke sekeliling, mencari dimana keberadaan anak yang menembakkan panah ini.
"Responmu cepat juga." Seorang anak kecil dengan jubah merah muncul dari udara kosong. Aku menatap sosok anak itu yang mengeluarkan busur serta panahnya.
Jadi dia yang menembakkan anak panah ini.
"Terang-terangan menunjukkan wujudnya seperti ini, apakah kau tidak takut langsung kusergap?" tanyaku dengan nada yang dingin. Sementara anak itu hanya tertawa dan mulai membidikkan anak panah lagi padaku. Masih tidak jelas apakah dia laki-laki atau perempuan. Seluruh jubah itu menutupi tubuhnya, bahkan wajahnya tertutup tudung merah yang besar.
"Tidak masalah~ bukankah kekuatanmu sudah hilang? Di daerah yang baru ini, sama saja seperti kami sudah menyegel kekuatanmu," ucap anak itu dengan panah yang siap ditembakkan. Mendengar perkataan anak itu, dengan percaya diri dia menyebutkan kata 'kami'. Berarti dia memiliki anggota lain. Dan kelihatannya dia sudah tau pasti cara kerja teleportasiku.
Aku hanya bisa berteleportasi pada tempat yang aku tau. Tentu saja, ini adalah hal yang sangat merugikanku jika berada di daerah yang baru.
Sial, aku jadi kepikiran teman-temanku. Apakah mereka baik-baik saja? Bagaimana dengan Ken? Kondisinya masih sangat buruk. Aku harap dia tidak merepotkan Vani.
"Kau terlalu lama melamun," ucap anak itu lalu melepaskan anak panahnya.
WUSH!
Aku menghindari serangan anak panahnya dengan menunduk. Mataku menatap dirinya dengan nyalang, tidak bisakah dia memberi sedikit waktu padaku untuk khawatir pada rekanku?
Fuut.
"Siapa bilang aku tidak bisa berteleportasi sekarang?" ucapku tepat di belakang anak itu. Aku sudah mengamati daerah ini, jadi aku hafal dengan tempat ini. Meskipun bukan seluruh kota.
BUAGH!
Aku langsung menendang wajahnya, tudung yang menutupi kepalanya jadi terbuka, sekarang aku tau bahwa dia adalah anak laki-laki.
Kriet!
Saat jatuh, dia langsung membidikkan anak panah lagi padaku. Jujur, aku takjub pada keseimbangannya yang masih bisa membidik bahkan pada momen yang singkat.
WUSH!
Fuut.
Aku berteleportasi lagi, dan kini aku berada tepat di bawah tubuhnya sebelum dia menyentuh aspal.
Ya. Ini bukan pertarungan kekuatan. Ini adalah pertarungan kecepatan.
Mata anak itu dengan sigap menangkap bayanganku, dia langsung mengayunkan panahnya untuk memukul kepalaku. Tentu saja aku tidak tinggal diam dan langsung menahan serangannya.
BUAGH!
Suara benturan tubuhku dengan aspal terdengar sangat keras. Ini memang sakit, tapi tidak masalah. Aku juga mendaratkan tendangan tepat di samping perutnya.
"Hahaha! Ini menyenangkan! Riot Valvera! Ini sangat menyenangkan! Ayo kita bermain lebih lama lagi!" ucap anak itu menggila. Dia tertawa sambil mengangkat busurnya ke atas.
"Nah, karena kau menyenangkan. Akan kuberi tau namaku. Aku adalah Hunt, salah satu objek percobaan Profesor Ron," ucapnya sambil menampilkan gigi taringnya. Dibawah teriknya matahari, rambut pirang pendeknya memberi kesan berkilau layaknya bintang di atas kepalanya.
Tapi ... aku tidak suka sorot matanya. Mata merahnya itu. Terlihat seperti iblis yang menunggu mangsanya. Kulitnya juga putih pucat, seperti tidak pernah keluar dari tempat gelap.
"Hm? Kenapa kau tiba-tiba diam?" tanya Hunt sambil memiringkan kepalanya. Aku hanya tersenyum lalu menghela nafas. Aku merasakan sesuatu yang mirip darinya. Perasaan ditinggal.
Aku mengambil sebuah pipa besi yang berada di pinggir gedung. Karena tidak ada Ares di sini, aku harus bertarung dengan senjata seadaanya.
..."Tidak apa-apa. Sepertinya kita punya kemiripan dalam berbagai hal, ayo kita mulai pestanya?"...
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!!