Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Bagaimana cara untuk menang?



..."Kalau begitu ... BAGAIMANA KITA BISA MENGALAHKANNYA?!"...


POV: Ares


Aku mengangkat pundakku sambil menggelengkan kepala. Karena jujur saja, aku juga tidak tau bagaimana membereskan lendir ini.


"Hei, tapi tunggu ... bukankah seharusnya lendir itu tetap punya titik vital? Maksudku, kalau dia hidup ... harusnya dia tetap punya titik vital!" ucap Riot dengan pose seperti orang yang berpikir. Aku jadi terdiam setelah mendengar perkataan Riot, benar juga ... mungkin lendir itu tetap punya titik vital.


"Kalau begitu, apa artinya lendir itu tetap punya titik vital, tapi ... transparan?" ucapku sedikit pelan karena takut salah berbicara. Vani dan Ken menatapku dengan serius, mata mereka seolah mampu melihat ke dalam isi pikiranku.


BRAK!


"BENAR JUGA!" Vani langsung berdiri sambil menggebrak meja. Tentu saja semua yang ada di ruangan itu jadi ikut kaget. Bahkan Riot jadi tak sengaja menendang gelas teh di atas meja.


PRANG!


"... Aku ... akan membersihkannya, kalian lanjutkan dulu pembicaraan kalian," ucap Riot lalu pergi ke arah belakang. Tak lama kemudian dia kembali lagi sambil membawa sapu dan sobekan kain.


"Hati-hati kena tangan!" ucap Ken ikut berjongkok dan mengambili pecahan gelas. Setelah semua terkumpul, Riot memasukkan pecahan gelas itu ke sobekan kain yang dia bawa lalu mengikat semuanya di situ.


"Nah sudah! Darimana kita tadi?" ucap Riot setelah menaruh kain yang berisi pecahan gelas itu di atas lemari kayu.


"Titik vital yang transparan ya? Tapi ini juga belum tentu benar. Bukankah dia bisa berubah bentuk seperti apapun yang dia mau?" Ken mengerutkan keningnya, dia terlihat serius memikirkan hal ini. Mataku melihat ke arah Vani yang terlihat tidak suka dengan ekspresi Ken.


CTAK!


"Aduh! Kenapa sih?!" tanya Ken sambil menutupi dahinya yang disentil Vani.


"Jangan terlalu memikirkannya, kita pasti menemukan jalan keluarnya cepat atau lambat! Kau tidak harus memusingkan hal ini!" ucap Vani tegas. Ken berdecih lalu duduk di sofa, matanya terlihat mengantuk dan sedikit lelah.


"Kita ... belum jadi sarapan kan?" tanya Ken.


Deg.


Be-benar juga ... pantas saja aku merasa lapar. Aku baru ingat kalau sejak pagi tadi belum makan. Bagaimana ini? Haruskah aku pakai kekuatanku saja? Kondisi saat ini juga tidak memungkinkan untuk pergi ke luar untuk memancing ikan.


Aku menghela nafas sekali, lalu menatap Riot dan Vani secara bergantian. Mereka terlihat bingung karena aku menatap mereka bergantian.


"Ekhem, apa ada makanan yang kalian inginkan?" tanyaku sambil berdehem dan menutup salah satu mataku. Awalnya ekspresi mereka terlihat biasa saja, tapi saat aku menunjuk ke arah chast milikku, mereka langsung tersenyum lebar.


"AKU MAU PIZZA!" ucap Vani semangat.


"AKU MAU SANDWICH!" ucap Riot dengan menggebu-gebu.


"Aku ... ingin roti bakar," ucap Ken sambil berbaring di sofa. Aku mengangguk sambil tertawa kecil, dengan sisa chast milikku, aku membuatkan mereka makanan yang mereka inginkan.


CRING!


Dalam hitungan detik, makanan itu sudah ada di meja dan siap untuk disantap. Aku sendiri sudah lama ingin makan ayam bakar, jadi aku membuat satu ekor ayam bakar penuh hanya untukku sendiri! Hahahaha!


"Nah! Selamat makan!" ucapku lalu mulai melahap ayam bakar di depanku.


"Selamat makan!" Riot juga langsung memakan 4 potong sandwich yang kubuat, sedangkan Vani masih sibuk mengagumi pizza yang muncul di depan matanya.


"Ini nyata kok, kalian bisa memakannya!" ucapku dengan mulut yang belepotan. Setelah mendengar perkataanku, barulah Vani mulai mencoba menggigit pizza di depannya.


"ASTAGA INI ENAK SEKALI! HMMM!" Vani melompat-lompat kegirangan sambil membawa sepotong pizza di tangannya. Melihat tingkahnya yang seperti ini, membuatku merasa senang di dalam hati, hingga tanpa sadar mungkin aku sudah tersenyum.


Mataku kemudian melihat ke arah Ken, berbeda dengan Vani dan Riot yang makan secara brutal. Ken terlihat anggun dan menikmati makanannya dengan hikmat. Walaupun cuma roti bakar sih.


Dia menelan rotinya lalu menoleh ke arahku dan berkata, "Aku suka semuanya, terimakasih." Ken tersenyum cerah. Aku jadi merasa lega setelah mendengar ucapannya.


"Oh! Benar! Terimakasih Ares!" ucap Riot lalu mulai menjilati jarinya. Kemudian aku melihat Vani yang ragu-ragu, dia seperti ingin mengatakan sesuatu padaku.


Cup.


DEG!


A-APA? VANI BARUSAN MENGECUP PIPIKU, KAN?! APA AKU BERMIMPI?! APAKAH INI NYATA?! BAGAIMANA INI?! APA YANG HARUS KULAKUKAN?! A-AKU TIDAK TAU! RASANYA WAJAHKU SANGAT PANAS SEKARANG!


"Wah lihat wajahnya~ sudah semerah saus yang ada di pizza milik Vani~," goda Riot sambil tersenyum miring saat menatapku.


"Benarkah? Kupikir wajahnya sudah mirip dengan selai stroberi di dalam roti bakarku," tambah Ken sambil melihat selai stroberi di dalam rotinya.


Aku ingin menghilang saja!


CRING!


Aku langsung memakai kain tak kasat mata yang baru saja aku buat. Agar mereka tidak lagi melihat wajahku.


AAAAAA! VANI TADI MENCIUM PIPIKU! AJSBAIABSOSHAK!


"Oh ngomong-ngomong, sepertinya aku punya ide!" ucap Riot tiba-tiba. Aku masih berada di dalam kain tak kasat mata dan memilih diam mendengarkan perkataannya.


"Hah? Bagaimana?" tanya Ken penasaran.


"Jadi begini ... " Riot berbisik pada kami bertiga.


***


2 hari kemudian. Kami sudah bersiap untuk melaksanakan rencana yang kami siapkan. Rencana ini dimulai dengan Ken sebagai pusat dari rencana ini, dan Riot sebagai kepala dari rencana. Tugasku dan Vani adalah sebagai pengalih perhatian, atau kalian bisa menyebutnya sebagai umpan.


Sial, kenapa aku malah jadi umpan?


"Sudah sudah! Ayo semangat!" ucap Vani di sebelahku sambil menepuk pundak kananku. Karena kejadian 2 hari yang lalu, setiap dekat dengan Vani rasanya perutku menjadi geli, dan dadaku terasa gatal.


"Baiklah! Ayo semangat!" ucapku sambil menepuk pipiku sendiri. Sekarang aku dan Vani berada di tengah kota, lebih tepatnya di taman kota. Ini bukanlah rencana yang dipersiapkan untuk membunuh lendir itu dalam sekali serang, tapi ini lebih ke arah untuk mengetahui kelemahannya. Yah, kalau beruntung dia bisa mati hari ini.


Butuh dua hari untuk menyiapkan peralatan dan bahan di rencana kami ini. Karena itu, persiapan hari ini lebih mantap daripada saat melawan The Ants saat itu.


DRRK!


"Van ... tanahnya bergetar kan?" tanyaku sambil memegang tangan Vani.


"Benar, aku juga merasakannya," ucap Vani lalu membalas genggaman tanganku. Tiba-tiba langitnya menjadi gelap.


Tunggu, ini bukan karena mendung ... lalu kenapa jadi gelap?-


Deg.


A-apa? Sejak kapan sudah sebesar ini? Bukankah terakhir kali ini masih sebesar bus? Ini ... sudah sebesar dinosaurus yang kulihat di film dulu!


..."Ares ... apakah kita masih bisa kabur?"...


TBC.


JANGAN LUPA LIKENYA YA GUYS!