Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Menyetir mobil?



POV: Ares


"Ugh! Selamat bangun dunia!" ucapku segar setelah tidur cukup lama. Mataku spontan melihat ke arah jendela kaca, ternyata ini masih siang yang terik. Mataku segera mencari dimana teman-temanku yang lain.


PRANG! BRAK! JDUG!


Dengan cepat aku menoleh ke asal suara, ternyata rak-rak di sini berjatuhan. Dan aku bisa melihat bahwa Riot lah pelakunya. Dia menendang salah satu rak makanan ringan dan akibatnya, rak-rak lainnya ikut berjatuhan layaknya domino.


"Kenapa kau begitu?" tanyaku penasaran walaupun mungkin aku sudah tau jawabannya. Riot melirik ke arahku dan sedikit terkejut melihatku sudah bangun.


"Maaf, apa aku membangunkanmu?" tanya Riot dengan eskpresi panik. Aku menggelengkan kepalaku lalu segera berdiri.


"Tidak, aku memang sudah bangun sejak tadi," balasku sambil mendekat ke arahnya. Aku melihat ke arah mana matanya yang sedari tadi kelihatan marah itu.


"Kenapa kau kesal?" tanyaku lagi.


"Tidak apa-apa, ini untuk keamanan mental," jawab Riot lalu segera pergi. Aku mengekori Riot dari belakang, lalu berjalan hingga keluar dari minimarket.


Sinar matahari yang terik langsung mengenai mataku, membuatnya harus beradaptasi terlebih dahulu. Tapi mungkin karena aku yang terlalu lelah dan belum sarapan, aku jadi langsung merasa lemas saa terkena sinar panas ini.


"Ares! Sini!" Suara Ken mengalihkan perhatianku. Reflek aku menoleh ke arah suara itu, di sana terlihat ada Ken dan Vani yang duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Mereka duduk bersantai dengan buah mangga segar yang sedang mereka makan.


...


Buah mangga?


"AKU MAU SATU!" teriakku lalu segera berlari secepat kilat ke arah mereka. Ken tertawa lepas melihatku yang tergesa-gesa, dia segera memberiku satu buah dengab kulit yang tinggal dikelupas saja.


"Kalau kurang dingin, bukankah kau bisa membuat es batu?" tanya Ken dengan senyuman cerahnya. Aku tidak menanggapi perkataan itu dan langsung memakan buah mangga. Setidaknya ini bisa mengganjal rasa lapar yang mengaung-ngaung di dalam perutku.


"Ken, aku masih lapar," ucapku setelah menghabiskan mangga satu biji.


"Aku juga, tapi di sini tidak ada yang bisa membuat kenyang," ucap Ken sambil melihat sekeliling. Di sini hanya ada pohon biasa serta semak-semak. Selain minimarket, tidak ada yang bisa dimakan di sini. Tapi bahan makanan di minimarket juga sudah kadaluarsa.


"Kita harus segera pergi dari sini kalau mau mencari makan," ucap Vani sambil tersenyum biasa. Aku dan Ken saling bertatapan, lalu kami tersenyum.


"Sebentar ya," ucapku sambil mengedipkan mata.


Cring!


Aku membuat sebuah mobil baru lagi.  Kali ini aku tidak akan menyetir karena Ken sudah sehat, jadi harusnya mobil ini sudah akan lebih awet.


"Riot! Bantu aku memasukkan barang-barang!" teriakku. Riot segera keluar dari dalam minimarket sambil membawa tas-tas kami. Dia mengangguk dengan cepat lalu memasukkannya ke bagasi.


"Nah sudah siap! Kapan kita berangkat?" tanya Riot setelah dia memasukkan semua barang-barangnya. Aku menatap Ken untuk meminta jawaban.


"Bagaimana kalau sekarang saja? Mungkin kita bisa sampai di sana sebelum hari gelap?" tanya Ken lalu segera masuk ke dalam kursi pengemudi. Aku duduk di samping Ken, sedangkan Riot dan Vani duduk di kursi penumpang.


"Meskipun kita berangkat sekarang, tetap saja sampainya besok sore, jalannya masih cukup panjang," ucap Riot sambil menaruh kepalanya di atas sandaran kursi.


"Benarkah? Kalau begitu kita melaju dengan kecepatan sedang saja," ucap Ken. Dia mulai menyalakan mesin mobilnya, dengan lembut memasukkan gigi dan menjalankannya dengan santai. Berbeda denganku yang mengoperasikan mobil sambil ugal-ugalan.


Selama di perjalanan, kami hanya duduk diam di tempat, walaupun tak jarang kami juga bersenda gurau untuk menghilangkan kantuk. Sampai akhirnya malam tiba, dan kami harus berhenti di sebuah pom bensi yang sepertinya sudah ditinggalkan.apalagi di tambah dengan kondisi sekarang, sudah pasti tidak ada yang merawatnya.


Tempat ini terlihat kumuh dan kotor. Lumut yang tumbuh di dinding-dinding serta batu bata untuk kami berpijak. Karatan yang parah di setiap sarana yang terbuat dari besi, bahkan bekas karatan itu terlihat kekuningan untuk benda di sekitar mereka. Mungkin minyak bumi yang tertinggal di sini juga sudah tercemar?


Tapi meskipun di sini masih banyak ketersediaan minyaknya, aku sudah tidak bisa mengeksploitasinya, karena alat untuk mengoperasikan alat ini sudah tidak berjalan. Jadi minyak bumi di dalamnya akan dibiarkan hingga hilang sendiri. Atau bahkan bisa juga bertambah banyak.


"Apa ada yang ingin tidur di luar?" tanya Ken sambil menatap tempat beristirahat di pom ini. Aku segera menganggukkan kepala, begitu juga dengan Riot.


"Baiklah, tapi sepertinya Vani tidur di sini sendiri, apa tidak masalah Van?" Aku menatap ke arah Vani yang sudah menguap, matanya hanya melirik ke arah kami ambil menatap malas.


"Iya aku di sini saja, kalau kalian tidur di luar juga tidak masalah," ucapnya lalu mulai menutup mata. Aku segera membuka pintu dan duduk di tempat beristirahat itu, Riot dan Ken juga segera keluar dan duduk di sampingku.


Matahari baru saja terbenam 3 jam lalu, berarti sekarang sekitar jam 8 malam.


"Di sini sangat sepi ya?" tanyaku tiba-tiba. Ken dan Riot tampak menganggukkan kepala. Mereka juga tidak melihat satupun manusia di sini.


Tapi sebenarnya, aku yang lihat beberapa hal. Ada cukup banyak mainan di sini, terutama boneka. Apakah ini berhubungan dengan surat yang kemarin malam aku temukan? Tapi mainan yang tak lama ini aku lihat, sangat berbeda dengan mainan boneka kemarin.


"Hah, aku tidur dulu saja ya?" Ken sudah membaringkan tubuhnya, dan mulai tertidur lelap. Meskipun sejujurnya aku tidak tau apakah dia benar-benar tidur atau tidak sih.


"Riot, apa kau masih merindukan kotamu?" tanyaku tanpa menatap mata biru langit miliknya. Dia tampak bimbang untuk menjawab, meskipun aku sudah menduga dia akan begini.


Karena posisiku berada di tengah Ken dan Riot, jadi aku bebas memeluk salah satu diantara mereka. Aku memanfaatkan momen ini untuk memeluk Riot, agar dia bisa merasakan rasa keluarga dari tim ini.


"Kau tidak harus sok kuat di depan kami, jadilah dirimu sendiri saja," ucapku sambil memeluknya erat. Bisa kurasakan bahwa dia juga mulai membalas pelukanku.


Dan di tengah momen mengharukan ini, sebuah kejadian tidak mengenakkan ini mulai terjadi. Bau gas mulai tercium dengan ganas, rasanya bau bensin ini menyebar kemana-mana. Spontan aku langsung melepaskan pelukanku dengan Riot.


"Hei! Bangunkan Ken!" perintahku pada Riot, sedangkan aku berlari untuk membangunkan Vani.


Tapi itu sudah terlambat.


...DUAR!...


TBC.


JANGAN LUPA LIKENYA YA GUYS!