Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Hilangnya Ken dan Riot!



"Oiya, bukankah besok bos ada pertemuan dengan 'mereka'?"


POV: Author


"Oh, kau benar." Boni menghela nafasnya sejenak, mata ungunya menatap ke arah langit biru dengan sedikit mendung di atas sana. Pikirannya terlihat melayang tidak bisa ditebak, entah apa di dalamnya, tidak tau apa yang sekarang dia lihat.


"Apa yang harus saya persiapkan?" tanya Civilian datar seperti biasa, Boni melirik sebentar ke arahnya sambil tersenyum simpul.


"Tidak ada. Besok aku tidak akan pergi denganmu, aku akan mengajak Thea," ucap Boni lalu meregangkan otot di tubuhnya. Civilian hanya mengangguk saja, menuruti perkataan Boni.


"Oh, dan tentang para pendatang yang baru itu, tolong kau urus mereka dengan baik ya. Karena mereka adalah anak-anak yang berharga," ucap Boni sambil tersenyum cerah. Civilian lagi-lagi hanya mengangguk, dia segera membereskan berkas-berkas yang berserakan di mejanya. Lalu bergegas ke arah lift.


"Terimakasih atas hari ini, kita akan bertemu lagi lusa, sampai jumpa." Boni berkata sesaat sebelum Civilian melangkah ke dalam lift. Perempuan dengan rambut coklat sebahu itu hanya menoleh lalu menundukkan kepalanya sejenak, dan kembali melanjutkan untuk masuk ke dalam lift.


***


POV: Ares


Entah kenapa rasanya hari ini berlalu sangat cepat, mungkin karena aku masih belum terbiasa dengan keadaan damai ini. Siang berganti malam, matahari yang terbit lalu terbenam, suasana di kota ini tidak jauh berbeda dari kota yang sebelumnya.


Vani sudah tertidur pulas lagi, Ken pergi entah kemana, begitu juga dengan Riot. Kalau Ken mungkin aku bisa memahami kalau dia hendak pergi sejenak, tapi Riot ... entahlah ... aku tidak tau apa yang anak itu pikirkan akhir-akhir ini.


"Ares ... bisakah kau tutup jendelanya? Ini mulai terasa dingin," ucap Vani sambil tetap menutup matanya, tangan kanannya mulai menaikkan selimut hingga menutupi lehernya.


Cklek.


"Oh, maaf. Apa kau kedinginan?" tanyaku sambil menutup jendela. Vani sudah tidak menjawab lagi, dia kembali tertidur pulas. Aku lali berjalan dan duduk di ranjang lain. Mataku masih menatap ke arah Vani, yang terlihat pulas dalam tidurnya.


Tok tok tok!


"Permisi." Seorang gadis kecil dengan pakaian perawat datang. Aku langsung duduk dan bergegas ke arahnya.


"Ada apa?" tanyaku bingung.


"Kami hanya ingin memberitahukan, keadaan Nona Stevani sudah hampir pulih total. Jadi beliau bisa meninggalkan rumah sakit ini besok," ucap sang perawat dengan ramah. Aku begitu bersyukur saat mendengar bahwa Vani sudah boleh keluar dari rumah sakit. Tapi aku langsung pusing saat mengingat bahwa kami tidak punya rumah di sini.


Oh ... tidak masalah, kita bisa tidur di mobil yang akan aku buat nanti. Urusan tempat tinggal bisa dipikirkan belakangan.


"Baiklah, terimakasih sus!" sahutku dengan ramah terhadap perkataannya, dia segera membungkukkan badannya sambil tersenyum lalu beranjak pergi dari kamar kami.


"Nghh ... ada apa, Ar?" Suara Vani mengalihkan fokusku, kini aku beralih menatap ke arahnya yang sedang berusaha membuka mata. Aku berjalan dengan tenang ke arahnya, lalu duduk di tepi ranjang tempat dia berbaring.


"Akhirnya! Aku juga sudah bosan terus berbaring di kasur!" ucap Vani lega sambil mengacak-acak selimut yang menjaga agar tubuhnya tetap hangat. Aku tertawa kecil sambil berusaha menjaga Vani tidak jatuh. Bisa gawat kalau lukanya terbuka lagi.


"Oh! Ngomong-ngomong ... dimana Ken dan Riot?" tanya Vani sambil menatapku bingung. Aku juga jadi ikut bingung bagaimana menjawabnya, aku benar-benar tidak tau mereka pergi kemana.


"Entahlah, mungkin sibuk cari angin?" jawabku sebisa mungkin agar terlihat tenang. Untungnya Vani hanya menganggukkan kepala dan percaya pada omonganku. Tapi dia tiba-tiba terdiam, matanya menatap ke arah jendela dengan langit yang mulai menghitam di luar sana.


"Apa kau mengantuk?" tanyaku saat melihat Vani yang diam saja sambil termenung.


"Sepertinya ... iya," jawabnya dengan nada yang lelah, tak lama kemudian dia mulai menguap. Aku segera membenarkan selimutnya hingga sebatas leher, dia menunggunya hingga tertidur lelap.


"Maaf ... kali ini aku tidak bisa menemanimu saat sedang tidur. Aku akan mencari Ken dan Riot lebih dulu," gumamku sangat pelan. Mungkin hanya diriku sendiri yang bisa mendengarnya. Setelah membenarkan selimutnya, aku segera membuka jendela dan terbang keluar. Tak lupa aku menutup kembali jendela itu sebisaku dan langsung melesat pergi.


Dimana kalian? Ken, Riot!


Aku terus terbang mengitari kota malam yang bersinar ini. Berbeda dengan pandangan Kota Oner yang gelap dan suram. Kota Ansorteri terlihat lebih hidup dan bercahaya, walaupun sama-sama sepinya. Sepertinya penduduk di kota ini tak sampai 50% dari yang seharusnya. Malah mungkin ini hanya berkisar 10% yang tersisa saja.


"Oh! Sepertinya di sana cukup ramai!" ucapku pada diri sendiri saat melihat sebuah kerumunan kecil di salah satu toko. Aku segera turun perlahan dan mendarat di depan toko itu. Seluruh pandangan mata kini menuju ke arahku, mereka terlihat bingung dan bertanya-tanya, siapa aku dan kenapa aku ke sini.


"Um ... permisi, bolehkah saya bertanya beberapa hal? Apakah kalian melihat dua anak laki-laki, satunya berambut coklat gelombang dan satunya berwarna biru matang lurus?" tanyaku sambil berusaha memberi penjelasan tentang rambut mereka. Tapi beberapa anak di sana masih tidak paham dan hanya saling menatap satu sama lain.


"Um ... satunya punya mata hitam yang legam, dan satunya punya mata biru laut yang jernih!" ucapku lagi. Tapi mereka kini malah menggelengkan kepalanya, apakah mereka benar-benar tidak tau kemana Ken dan Riot pergi?


"Maafkan kami, tapi memang kami tidak melihat anak dengan ciri-ciri yang kau sebutkan tadi. Lebih baik kau segera mencari mereka lagi, hari mulai gelap. Kalau terlambat, mereka akan diculik oleh 'perempuan' itu!" ucap salah satu anak laki-laki dengan jaket bomber berwarna hijau. Dia lagi-lagi memberi peringatan dengan menyebut kata 'perempuan itu' lagi. Aku yakin yang dia maksud adalah Safa.


"Apakah 'perempuan itu' memang suka menculik orang lain?" tanyaku bingung. Beberapa anak lainnya mulai saling bertatapan, mata mereka menatapku dengan serius.


"Ada sebuah cerita yang beredar di masyarakat semenjak kondisi kehidupan dunia jadi seperti ini, apakah kau mau mendengarnya?" tanya anak laki-laki itu sambil menyeret tanganku untuk masuk ke tengah kerumunan.


"Cerita? Cerita apa?" tanyaku lagi. Para anak-anak itu saling mengangguk, mereka membawakan sebuah kain besar berwarna hitam untuk menyelimuti kami semua.


Tring!


Anak laki-laki itu menyalakan senter di tengah gelapnya kain ini.


..."Nah, kalau begitu. Dengarkan cerita ini baik-baik."...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!