
POV: Ares
"Hah ... hah ... hah. Tidak bisa ... dibuka!" Aku terduduk lemas di tangga yang terbuat dari semen itu, berkali-kali aku berusaha membuka pintu ini dengan paksa, tapi ... hasilnya sia-sia.
"Sudahlah ... kita pikirkan nanti saja. Sekarang, ayo kita menuruni anak tangga ini dulu," ucap Ken sambil menepuk-nepuk pundakku. Aku mengangguk pelan, lalu mulai berdiri.
Setelah aku berdiri, kami bertiga lanjut untuk menuruni anak tangga yang semakin ke bawah, semakin pengap ini. Beruntung karena di sini ada pencahayaan yang redup, yang entah berasal dari mana. Padahal tidak ada lampu atau bahkan lilin, tapi terowongan ini masih cukup terang untuk bisa dilihat oleh mata.
"Kita akan jalan berapa lama lagi?" tanya Riot tidak sabaran. Padahal Riot berada di depan, tapi malah dia yang emosi duluan. Aku dan Ken hanya saling menatap lalu mengangkat bahu kami sebagai tanda tidak tahu.
"Tunggu! Kalau ini terus ke bawah ... bukankah kita akan sampai di sungai bawah tanah?" tanya Ken di tengah-tengah perjalanan. Aku dan Riot langsung terdiam, perkataan Ken ada benarnya.
Di daerah perkotaan, pasti bagian bawahnya ada tempat untuk sungai mengalir.
"... Lalu gudang senjatanya ada di sebelah mana?" tanya Riot lelah. Riot langsung bersandar di dinding berlumut di sebelahnya. Tanpa dia sadari, sepertinya Riot telah menekan sebuah tombol lain di dinding itu.
Cklek.
DRRRRKKK!
Terowongan ini mulai berguncang hebat, aku berpegangan pada lengan Ken, sedangkan Riot berpegangan di kaki Ken. Lalu Ken? Berdoa pada yang kuasa.
"RIOT APA YANG KAU LAKUKAN?!" tanyaku marah pada anak itu.
"TIDAK TAU HUEEEE TIBA-TIBA TEROWONGANNYA GOYANG!" ucap Riot membela diri. Beberapa menit berlalu, tapi guncangan terowongan ini tak kunjung berhenti. Satu demi satu, batu bata yang ada di sini jatuh dan pecah.
Pruk.
"HEH! AYO LARI SAJA! BUKANKAH INI BERBAHAYA?! KITA JUGA SUDAH TIDAK PUNYA SISA CHAST!" teriakku sambil menggoyang-goyangkan lengan Ken. Tapi Ken tidak mau berpindah tempat, dia hanya berdiri dengan tenang sambil menutup mata.
"... AKU MENYURUHMU LARI BODOH! BUKAN BERTAPA!" Aku menggoyangkan lengan Ken dengan lebih kuat.
Drk.
Tiba-tiba guncangan terowongan ini berhenti. Kami bertiga masih belum merasa lega, rasa waspada membuat jantung kami berdetak dua kali lebih cepat.
Klik.
"Hah?" Aku mendengar suara lain di bawah kaki kami.
BLAM!
"APAAAAAA?!" Tangga tempat kami berpijak tiba-tiba runtuh. Bukan seluruh tangga, hanya tempat yang kami pijak saja. Seperti jebakan untuk tikus, kami terjun bebas ke dalam lubang yang entah darimana datangnya ini.
WHUNG!
Syuttt!
Apa? Ada seluncuran?
Setelah kami jatuh, aku bisa merasakan bagian belakang tubuhku mulai menyentuh permukaan yang halus dan licin. Karena cahaya di sini lebih buruk dari di terowongan, aku tidak bisa memastikan apakah ini benar-benar seluncuran atau apa.
"Whoa!" Suara Riot mengagetkan indra pendengaranku.
"Riot? Kenapa-."
BLUNG!
BRUK BRUK BRUK
BRUAKK!
"Ad ... duh." Belum selesai aku bertanya, tiba-tiba rasanya tubuhku tertarik ke bawah, bahkan aku beberapa kali membentur sesuatu. Untungnya tidak terlalu keras sih, tapi tetap saja sakit.
Aku tadi terjatuh dengan posisi tengkurap, setelah sadar bahwa aku tidak lagi di terowongan, aku mulai mencoba untuk berdiri.
"Ini ... dimana?" tanyaku pelan sambil melihat ke kiri dan kanan.
BRUK!
BRUK!
Suara apa itu?
Aku langsung berlari mendekati sumber suara. Dan ternyata ...
Itu adalah Ken serta Riot yang baru saja sampai.
"Kalian tidak apa-apa?" Aku bertanya sambil berlari kecil ke arah mereka, Riot sih masih terlihat baik-baik saja, tapi Ken kelihatan pucat ... apa dia mual?
"Aku mual- huk! Seluncuranku berputar-putar!" ucap Ken sambil menutup mulut, menahan agar tidak muntah. Aku tertawa kecil sambil memijat tengkuk Ken, setelah itu aku membantunya berdiri, dan mengajaknya untuk berjalan.
"Tapi ... ini di mana?" tanya Riot yang berjalan mendahuluiku dan Ken.
Ya ... itulah yang kutanyakan, ruangan ini sangat kosong dan hanya dipenuhi oleh debu. Hanya ada satu pencahayaan di sini, yaitu sebuah kaca tembus pandang yang berada di lamgit-langit.
"Bukankah ini gudang senjata?" tanya Ken setelah ekspresinya sudah sedikit membaik.
Aku langsung menatap Ken dengan heran dan bertanya, "Mana? Bukankah ruangan ini sangat kosong?".
Ken menggelengkan kepalanya lalu mulai menunjuk ke suatu arah. Mataku mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ken, dan mendapati sesuatu di sana.
Sebuah saklar.
Riot yang sadar, segera berlari ke arah saklar itu lalu mulai menyentuhnya.
Cklek.
Pats!
Ruangan ini langsung menyala terang, ternyata ruangan ini memiliki lampu lainnya!
"Wo ... ah! Ares ... coba lihat sisi kananmu." ucap Riot dengan tatapan kagum. Aku dan Ken secara bersamaan menoleh ke arah kanan kami.
Deg.
Jadi ... ini benar-benar gudang senjata?!
Di hadapan kami, ratusan senapan dengan berbagai jenis berjejer rapi bagaikan pameran di museum. Aku dan Ken langsung berlari dan melihat-lihat senjata itu, mulai dari jenis pistol, shotgun, hingga rudal juga masih ada.
Ini aneh ... kenapa Kota ini punya peralatan untuk perang? Kalau hanya untuk suplai senjata, bukankah senapan sudah cukup? Bahkan di sini juga ada jenis sniper.
Srak.
Aku melihat secarik kertas yang terjatuh di bawah kakiku. Karena penasaran, aku mulai berjongkok dan melihat kertas apa itu.
Ini ... foto!
Dan wajah ini ... Boni?! Tidak ... aneh kalau orang ini adalah Boni, dia hanya mirip, tapi dia bukan Boni.
Lalu siapa? Kenapa ada foto keluarga di tempat ini?
"ARES! KEMARILAH!"
DEG!
Suara keras Riot mengagetkanku, dengan cepat aku melipat foto lama itu ke dalam saku celanaku, lalu berlari ke arah Riot yang sedang berteriak tadi.
"Ada apa?" tanyaku melihat Riot yang ternyata kagum.
Apa sih yang dia lihat?
Deg!
"Mus ... tahil."
Aku menatap puluhan tank dan mobil tempur yang terparkir rapi di gudang ini. Lengkap dengan isi peluru rudal, dan besi yang masih bersih tidak berkarat. Riot mulai berlari ke arah sebuah tank tempur, dan menyentuhnya kegirangan.
Berbagai spekulasi mulai memenuhi otakku, tentang apa yang sebenarnya terjadi, apa yang sedang berlangsung, dan masalah apa yang sedang timbul.
Tuk.
"AAAAA!" Aku berteriak karena merasakan sebuah sentuhan di punggungku.
"Kau kenapa sih? Ini aku!"
Dengan cepat aku menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Ken. Dia berdiri di belakangku sambil menatapku heran.
"Kau ... membuatku kaget," ucapku sambil menarik nafas dalam.
"Ada sesuatu yang harus kau tau ...
Aku melihat mayat."
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!