Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
S2-Siapa itu Rafleo?



"Ayo masuk dong," ucap Riot lagi dengan seringai di wajahnya. Aku menutup mataku dan menelan ludahku sendiri dengan susah payah.


Kenapa lorongnya sangat gelap sih?!


***


POV: Ares


Tap ... tap ... tap ...


Dengan langkah yang pelan dan ragu-ragu, aku melangkah masuk ke dalam lorong yang super gelap ini. Pintu apartemen yang tertutup, dengan cahaya remang-remang lenteraku, membuat suasana horor tersendiri di dalam hati. Riot menggenggam kaos belakangku dengan erat, dan dibelakang Riot ada Vani, lalu ada Safa, dan yang paling belakang adalah Ken.


"Tuh ... tidak ada apa-apa kok!" ucapku sambil melirik ke arah samping kiriku.


"Be-benar ... Ares ... tidak bisakah kau membuat lampu?" tanya Riot dengan nada yang sedikit takut.


"Setuju ... ini ... terlalu gelap," tambah Vani yang bersembunyi di belakang punggung Riot. Aku menghela nafas dan menaruh lenteraku di lantai.


"Baiklah ... aku akan membuatkan lampu," ucapku pasrah.


"Wah? Bagaimana caramu membuka lampu?"


Aku menoleh ke arah samping kananku, melihat seorang anak laki-laki dengan rambut abu-abu serta mata merah, yang menuju ke arahku dengan menyeret kakinya.


...


Tenanglah Ares ... ini bukan hantu ... kan?


"AAAAAA!" Vani tiba-tiba berteriak kencang.


"AAAAA!" Riot yang kaget karena teriakan Vani jadi ikut teriak.


"AAAAAA?!" Safa juga ikut kaget mendengar teriakan kedua bocah tadi.


"..." Sementara Ken sudah mematung dengan matanya yang tetap terbuka.


Sial ... hilang sudah usahaku untuk tetap tenang.


"BERHENTIIII!" Aku berteriak dengan kencang, teriakan Vani, Riot, dan Safa langsung terhenti, dan Ken langsung pingsan mendadak.


"Ken?!" Riot yang panik melihat Ken pingsan, langsung berlari ke arah Ken dan menepuk pipinya beberapa kali.


Aku hanya menghela nafas lelah, lalu menatap anak di sampingku tadi. Aku berjongkok dan mengambil lentera di sisi kiriku, kini ... aku bisa melihat wajahnya dengan lebih jelas lagi.


Wajah yang putih dan tirus, kulitnya pucat dan sedikit kurus, rambut abu-abu yang sudah agak panjang, serta mata merah yang unik ... dan ... kedua kakinya yang sudah tidak bisa digunakan.


Dia mengingatkanku pada Elly.


"Hai? Siapa namamu?" tanyaku pada anak itu. Dia hanya diam kemudian menengadahkan tangannya padaku.


"Apa kalian teman Rafleo?" tanya anak tadi. Aku memiringkan kepalaku sedikit dan menatap anak tadi dengan bingung.


"Rafleo? Siapa-"


Brak!


Belum selesai aku bicara, seorang anak dengan rambut pirang dan pakaian lusuh datang dengan tergesa-gesa.


Tunggu ... rambut pirang? Agak bergelombang?


...


ANAK YANG TADI?!


"Rafleo! Apa mereka temanmu?" Anak yang berada di depanku langsung bertanya pada anak berambut pirang yang ternyata bernama Rafleo itu.


"Bukan!" ucap Rafleo dengan ekspresi marah.


Greb.


Aku menoleh ke anak di sebelahku yang kini menyentuh bahuku, mata merahnya menatapku dengan tatapan yang tajam dan menyelidik.


Apa? Aku ... terlempar?


Aku menatap ke sekelilingku. Kini aku terjatuh dari atas gedung pencakar langit.


Sial, jadi kekuatan anak tadi ... mirip seperti Riot?! Dia bisa memindahkan orang dengan kemampuannya.


Aku segera membalikkan badanku dan mulai menggunakan kemampuan terbangku.


Fyutt!


Aku berhenti di udara, mencari di mana gedung apartemen yang aku dan temanku masuki tadi. Tapi karena terlalu banyak gedung yang serupa, aku jadi bingung dan akhirnya tidak bisa menemukan dimana gedungnya.


Fuut.


"Ares!"


Deg.


"Riot?" Aku terkejut saat mendengar suara Riot yang ada di belakangku. Dia langsung tersenyum cerah dan segera menggenggam lengan kiriku.


"Aku menemukanmu! Ayo kembali!"


Fuut.


Bruk!


Aku terjatuh kembali ke dalam apartemen tadi, bersama dengan Riot yang langsung menahan agar badanku tidak ambruk ke depan. Anak bermata merah dengan rambut abu-abu tadi menatap kami dengan tajam.


"Sebenarnya siapa kalian?! Kenapa kalian bisa masuk ke sini?!" tanyanya dengan nada yang menyeramkan. Safa mulai maju dan hendak berbicara, tapi anak yang bernama Rafleo itu lebih dulu menghentikan kami di tengah-tengah.


"Tunggu, aku minta maaf. Dia adalah temanku, namanya Endo. Dan Endo, mereka adalah ... calon temanku?" Rafleo memperkenalkan kami dengan nada yang bingung. Terlebih anak rambut abu-abu yang ternyata bernama Endo itu jadi berekspresi unik.


"Calon ... teman? Apa maksud- OH JANGAN-JANGAN MEREKA DARI LUAR KOTA INI?! BAGAIMANA MEREKA BISA MASUK?!" Endo bertanya dengan antusias, tatapannya langsung terpaku pada mata biru Riot yang menatap Endo dengan tatapan penuh kebencian.


"Sekarang kau sudah sadar 'kan? Bagaimana kami masuk?" tanya Riot dengan penekanan di setiap kalimatnya. Endo langsung terdiam dan sedikit cemberut, rasa bersalah terlihat jelas di kedua matanya.


"Aku minta maaf, kupikir kalian adalah antek-antek orang itu, jadi aku langsung melempar kalian keluar tanpa pertimbangan," jawab Endo dengan nada yang memelas. Aku menghela nafas dan tersenyum pada Endo.


"Aku baik-baik saja, jadi kau tidak perlu merasa bersalah. Ngomong-ngomong ... maafkan aku jika pertanyaanku ini cukup lancang. Tapi ...


Apa kau lumpuh?" tanyaku sambil menatap ke arah kaki Endo yang tergeletak di lantai. Endo yang ditanya hanya tersenyum lalu tertawa singkat. "Yap, seperti yang kalian lihat! Tapi ini tidak masalah, aku bisa berteleportasi untuk bergerak!" jawabnya begitu enteng dan tanpa beban.


Aku dan Ken saling bertatapan, seolah paham dengan apa maksudku, Ken mengangguk lalu berjalan ke arah Endo. "Permisi." Ken menatap Endo sejenak sebelum mulai menyentuh kaki Endo.


BLAR!


Sebuah kobaran api hijau mulai muncul dengan cukup besar, cukup besar sampai bisa menerangi lorong ini. Endo yang kaget karena melihat bahwa kakinya dibakar, langsung berteriak panik.


"AAAAAAAA APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Endo sambil berusaha memukul Ken.


Tap!


Tapi Vani berhasil menahan tangan Endo, dia menatap Endo dengan tatapan lembut lalu berkata padanya, "Jangan khawatir, Ken itu punya kekuatan untuk menyembuhkan, dia akan membuatmu bisa berjalan lagi." Vani berkata dengan nada yang begitu lembut dan perhatian. Endo yang tidak percaya mendengar jawaban Vani, matanya mulai berkaca-kaca.


"Benarkah? Benarkah aku bisa berjalan? Aku ... belum pernah merasakan berjalan bahkan sejak aku dilahirkan." Endo menutup matanya dan memegang tangan Vani, dia akhirnya membiarkan Ken sepenuhnya mengobati dirinya.


"Kalian ... mengobati Endo? Kenapa? Bukankah kalian baru saling kenal? Endo juga berbuat buruk pada kalian?" Rafleo bertanya padaku dengan tatapan mata yang sulit diartikan. Tatapannya itu ... seolah sedang menilai seseorang. Matanya seolah membandingkan mana yang jahat dan mana yang baik.


"Benar, lalu? Bukankah aku masih baik-baik saja? Berarti Endo tidak dihitung telah melukaiku. Dan memangnya butuh alasan meskipun kita baru kenal? Kita bahkan pernah membantu orang tanpa mengenalnya.


Kau juga pernah melakukannya bukan? Seperti membantu kakek untuk menyebrang jalan raya," jawabku sambil tersenyum pada Rafleo. Sedetik kemudian, anak itu ikut tersenyum, matanya terlihat teduh dan begitu tulus.


"Sepertinya kalian benar-benar orang baik."


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!