
..."Aku adalah The City, objek penelitian Profesor Ron."...
POV: Ares
The City? Oh ... salah satu hasil ciptaan kegilaan Ron. Mereka selalu saja membuatku kerepotan. Aku menatap ke arah chast di tangan kananku, sudah hampir terisi penuh. Aku tidak bisa melawannya lagi, lebih baik aku kabur dulu.
Aku bangun dengan terhuyung-huyung. Rasanya kepalaku masih berputar kesana kemari. Dampak dari pukulannya tidak main-main ya?
Aku mencoba untuk terbang, bukannya malah terbang ke atas, aku malah terbang ke samping hingga menabrak dinding dari suatu rumah yang rusak.
BRUAGH!
"Ack! Kepalaku masih sangat sakit!" gumamku sambil terus berusaha berdiri. Pingsan di sini dan mati, atau kabur dengan rasa sakit? Tentu saja aku memilih kabur dengan rasa sakit.
Akhir-akhir ini Ron tidak turun tangan secara langsung, malah antek-anteknya yang membuat kami kewalahan. Sial, ini juga masih siang hari! Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku lebih dari ini, bisa-bisa aku terkena infik lagi.
"Apa ... kau ... kabur?" Suara raksasa itu terdengar dengan jelas dan keras. Aku hanya diam mendengar pertanyaannya itu, meskipun aku bisa mendengar dengan jelas, tapi penglihatanku tidak mendukungku.
Sekarang aku yakin bahwa ada saraf di otakku yang rusak. Mataku tidak kunjung membaik. Penglihatanku masih berputar sejak tadi.
"Dengan sisa chast ini, apakah cukup untuk membuat 'benda' itu?" gumamku pada diri sendiri. Aku segera masuk ke dalam celah bangunan dan terduduk lemas. Aku menutup mataku dengan pelan, mencoba menangkan diri.
DUAR!
Tapi tidak bisa, raksasa itu malah menyerang dengan membabi buta. Dia melemparkan puing-puing gedung ke segala arah. Tak jarang ada batu yang juga hampir mengenaiku.
"Aku ... benar-benar terjebak ya?"
Aku berharap ... ini hanya mimpi.
***
POV: Author
"HAHAHAHA! BAGAIMANA RASANYA DIBUNUH OLEH REKANMU SENDIRI?!" Draw berteriak menertawakan Vani yang jatuh dari lantai 50. Ken sudah benar-benar berada di bawah kendali Draw.
Dari atas gedung, Draw melihat Vani yang terjatuh tanpa melakukan perlawanan. Awalnya Draw menikmati pemandangan itu, hingga matanya bertemu dengan mata Vani.
Pada detik itu, Draw merasakan sesuatu yang disebut dengan 'rasa takut'. Kengerian pada mata merah milik Vani yang seolah mengatakan 'aku tidak akan membiarkan kejadian ini berlalu, tunggu saja'.
BUAGH!
CRAT!
Vani terbaring tak berdaya dengan kepala yang bercucuran darah. Dia menutup matanya dengan damai, seolah tak ada yang mampu membangunkannya dari tidur nyenyak.
"... Cih, membuat takut saja. Padahal kau bukan apa-apa!" kesal Draw sambil menatap rendah ke arah jasad Vani. Setelah puas melihat jasad perempuan itu, Draw berjalan sambi melompat ke arah Ken yang ketakutan.
"Ken sayang~," panggil Draw dengan senyuman. Ken yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh dengan cepat. Bibirnya masih menggigil ketakutan, seluruh tubuhnya masih bergetar dan penuh keringat.
"Va-Vani! Aku takut!" ucap Ken lalu memeluk Draw. Sambil membalas pelukan Ken, Draw membisikkan sesuatu padanya.
"Kerja bagus, kau sudah membereskannya dengan keren." Itulah yang dikatakan oleh Draw. Setelah Draw mengatakan itu, getaran di tubuh Ken berhenti, tidak lagi terdengar suara menggigil dari bibir Ken.
Draw yang melihat reaksi Ken, jadi berpikir bahwa dia sudah berhasil sepenuhnya mencuci otak Ken.
"Ya, terimakasih," balas Ken dengan nada yang datar.
KRAK!
"ARGHH!" Draw berteriak saat merasakan tulang punggungnya yang patah. Dia berusaha melepaskan pelukan Ken, tapi laki-laki itu tidak melepaskannya. Ya, Ken menggunakan kekuatannya untuk mematahkan punggung Draw.
"AAAAA! HENTIKAN! INI SANGAT SAKIT!" Draw berteriak kesakitan, dia meronta ke kanan dan kiri, berusaha melepaskan pelukan Ken. Draw menatap ke arah wajah Ken, detik itu ... Draw melihat hal yang sama saat melihat Vani tadi.
Tekad untuk membunuh.
Lingkaran hitam di matanya yang terlihat menyeramkan, pupilnya yang mengecil hingga ke titik yang menyeramkan. Rahangnya mengeras menahan amarah yang bergejolak. Ken sangat marah sekarang.
"Kau ... entah apa yang kau gunakan. Kau menggunakan teknik halusinasi padaku, membuatku seperti orang gila selama satu minggu. Lalu membuatku melihat bahwa Vani adalah orang jahat, dan melihatmu sebagai Vani. Dan kau ... membuatku membunuhnya dengan tanganku sendiri!
TIDAK ADA AMPUN UNTUKMU SIALAN!" teriak Ken dengan kebencian di setiap kata-katanya.
BLAR!
Ken mengeluarkan aura hijau miliknya hingga ke tahap yang mengerikan. Dia menyelimuti tubuhnya dan Draw dengan aura hijau yang berkobar itu. Draw yang tidak bisa lepas dari pelukan Ken, hanya bisa ternganga menderita. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh kekuatan Ken tidak main-main.
Patah tulang, putusnya saraf, pecahnya organ, remuknya sel otak. Sekarang Draw hanya tak lebih dari manusia tanpa raga. Dia lebih pantas disebut dengan bubur manusia.
"Haaah ... haaah ... maaf ... Vani," ucap Ken dengan nafas yang terengah-engah. Dia melepaskan pelukannya dengan Draw, lalu menjatuhkan raga yang tidak hidup maupun mati itu.
"Vani ... Vani ... Vani ..." Ken merangkak perlahan, dia menuju ke tepi gedung untuk melihat jasad Vani. Setiap langkahnya terasa sangat berat, perasaan bersalah itu semakin membebani pundaknya. Meskipun begitu, dia tidak menyerah dan terus merangkak. Hingga dia sampai di tepi gedung.
Deg ... Deg ... Deg ...
Tes.
Air mata Ken langsung menetes saat melihat jasad Vani yang tergeletak di aspal. Jiwanya terlalu terguncang hingga dia tak sanggup mengontrol saraf di tubuhnya. Matanya terbuka dan terus meneteskan air mata, dia lupa caranya bernafas dengan hidung jadi dia membuka mulutnya.
Oksigen seperti tidak mampu masuk ke dalam paru-paru Ken, dia sedang dalam kondisi terburuknya saat ini.
Dan tak ada satupun di sampingnya.
Nafasnya tersengal-sengal mencoba mencari oksigen. Dia melupakan rasa kantuk dan laparnya dan hanya mengingat rasa sedihnya. Bagi Ken, Vani adalah yang utama. Bagi Ken, Vani itu lebih dari seorang teman.
Dia adalah keluarganya. Ken menyayangi Vani seperti adiknya sendiri. Lebih menghargainya bahkan daripada nyawanya. Mengingat fakta bahwa Ken sendiri lah yang membunuh Vani. Membuat jiwa anak itu terguncang hebat.
Hingga dia tak sadar bahaya yang mengancamnya dari belakang.
GREB!
"KAU ANAK SIALAN! KAU PIKIR INI TIDAK SAKIT?! BERANINYA KAU MELAKUKAN INI PADAKU?!" Draw sembuh kembali. Dia langsung mencekik leher Ken dan mengangkatnya dengan tinggi lalu menggantungnya di tepi gedung.
Matanya sangat marah, dia masih ingat dengan jelas seberapa menyiksanya kekuatan Ken.
"Aku tidak mau membunuhmu dengan cepat, aku ingin menyiksamu perlahan-lahan, jadi jangan mati dulu ya?" ucap Draw sambil mengeluarkan sebuah kuas yang cukup panjang. Ken yang kehabisan nafas, jadi hanya fokus pada tangan Draw. Hingga dia bisa melihat kuas milik Draw.
JDER!
"Ke-kuatan ... mu itu, adalah lukisan ... KAN?" tanya Ken dengan seluruh tenaganya. Draw yang terkejut mendengar kalimat Ken, hanya tertawa lalu menancapkan ujung kuas itu ke perut Ken.
JREB!
"Lalu? Memangnya kenapa jika kau tau? Kau sudah tamat hari ini," ucap Draw dengan dingin. Darah terus menetes dari perut Ken, lukanya terbuka dengan lebar.
Mereka tidak menyadari, bahwa seluruh kota Oner ... dilapisi oleh awan hitam yang mengerikan.
..."Kau ... berani melukai ... Ken?" ...
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!